TUHANKU, IZINKAN AKU MENANGIS DI HADAPAN-MU

TUHANKU, IZINKAN AKU MENANGIS DI HADAPAN-MU

nangis

Jam menunjukkan pukul 22.45 malam…Kecurian. Aku tertidur sekitar 2,5 jam setelah Sholat Isya tadi. Seingatku aku sedang kejar-kejaran dengan waktu di etape sulit ini. Al Qur’anku belum selesai. Tapi entah mengapa, mushaf itu tetap diam disamping bantal; dekat  buku catatanku dan Aku menyerah lagi. Kelelahan fisik dan kepenatan pikiran. Aku hendak berapologi pada diriku sendiri.
Kegundahan apakah ini? Kekhawatiran apakah ini? Kecemasan apa lagi?

Mengapa pelupuk mataku panas. Namun, aku malu untuk menumpahkan air mata. Ya, air mata bening itu hanya boleh kutunjukkan pada-Nya. Bukan untuk memperturutkan rasa dan emosi serta mengalahkan rasio yang wajar. Meski… jebol juga tanggul itu.
Aku membuka hadits ini lagi :

”Orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan berbuat untuk masa setelah mati. Orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan berharap (banyak) pada Allah”. (HR.Turmuzi, dari riwayat Syaddad bin Aus ra.)

Jika kebodohan (tidak cerdas) tidaklah berakibat kepada kemurkaan Allah? Dan ternyata pengharapan pada-Nya saja tak cukup. Sering menyerah pada diri sendiri di tengah komitmen hendak berbuat. Kesombongan yang menunjukkan it’s me, hingga lupa bahwa masih ada Allah yang Esa. Harapan tanpa motivasi itu disabdakan Rasulullah Saw. Aku yang biasanya tegar dalam menjalani hari-hariku, aku yang biasanya kuat di hadapan orang-orang yang menyanjungku, aku yang biasanya selalu berusaha bijaksana, membagi waktuku disetiap kegiatanku, disetiap desahan nafasku. Aku yang berusaha menghibur mereka-mereka yang membutuhkan pikiranku, mereka-mereka yang selalu meminta nasehat dan jawaban disetiap masalah, namun aku begitu rapuh..rapuh di hadapanMU ya..Allah, Aku begitu lemah…aku begitu hina, aku adalah orang yang selalu mengadu padaMu, mengeluh padaMU ya Allah, aku adalah orang yang selalu ingin sempurna di mata semua orang, namun ternyata…namun ternyata…aku terjatuh..aku terjatuh lagi di DekapanMU Ya..Allah.

Jika saja aku berada di etape final. Aku boleh berharap banyak untuk memberikan semua hidupku, semua apa-apa yang aku jalani, ibadahku ini untukMU. Jika saja aku boleh berandai, jarum jam diputar. Namun, agamaku melarang pengandaian. Benar. Konsentrasi di babak ini seringkali buyar.

Masih terlintas di benakku ketika kemarin sore disaat aku berjalan pulang dari rumah saudaraku masih dalam keadaan bersih wudhu’ ku, ketika dalam perjalanan pulang kerumah, aku merasakan ada sesuatu yang mengikutiku dari belakang, telingaku mendengar suara-suara angin, suara-suara halus teriakan, suara-suara seperti memberikan komando, sayup-sayup terdengar suara-suara anjing, dan pengikutnya, Namun di satu sisi kanan dan kiriku aku merasakan seperti di kawal oleh sesuatu kekuatan yang sifatnya halus, lembut namun Kuat. Siapakah yang mengiringi di kedua sisi kanan-kiri ku ini ? aku celingak-celinguk sambil membawa kendaraanku namun tak nampak sedikitpun siapa yang berada di dekatku. Aku hanya mendengar suara-suara lantang, suara-suara orang berbicara, suara-suara anjing dan pengikutnya, dan suara gesekan senjata.

Perlahan namun pasti, aku berjalan menggunakan kendaraanku, ku baca Ayat-ayat alquran yang aku hafal, aku berdo’a terus sepanjang jalanku. Tiba-tiba di persimpangan jalan aku melihat ada dua berkas sinar beradu di angkasa. TaaRrrrr…tarrrr…begitu kuatnya, kemudian kedua sinar itu hilang. Namun muncul lagi sinar-sinar lainnya, saling beradu kuat, TaaRrr..TaaRrr..saling beradu dan bertabrakan, aku terkejut dan terkesima melihat sinar-sinar itu, akupun semakin melanjutkan perjalananku ntah berapa kali rambu-rambu lalu lintas yang telah aku lewati, yang jelas aku ngga perduli lagi ingin segera pulang melewati kendaraan-kendaraan yang ada di depanku, aku pun menyalib sebuah kendaraan besar dengan membunyikan klakson keras sehingga orang yang membawa kendaraan besar itupun memakiku, Heyy..Non, lihat-lihat sedikit kalau mau klakson, berisik..tau ngga !! ngga tau yah kalau kita udah di pinggir jalannya. brengsek !!!! maaf..Pak,, saya mau cepat, Aku pun dengan cueknya berjalan di samping bapak itu, santailah Bro, jangan bentak-bentak gitu ngomongnya, nanti tegangan tinggi, bye….

Masih kulihat dua sinar beradu diangkasa, suara-suara senjata saling beradu. Sekitar hampir 200 meter menuju kerumah, tiba-tiba Petir menggelegar dengan kuatnya, sport jantung rasanya aku mendengar dan melihat kilatan cahaya petir menggelegar dengan kuatnya. Petir tersebut menyambar dua sinar yang saling beradu dan bertabrakan tersebut, satu sinar jatuh kemudian menghilang, sementara sinar yang satunya lagi melesat terbang tinggi kemudian hilang diantara langit-langit. Aku ketakutan, Aneeh…ngga ada hujan kenapa tiba-tiba ada petir sekuat ini yah, pikirku. Huff…akhirnya aku tiba juga dirumah, akhirnya hujanpun turun membasahi bumi ini.

Sejuuk…Capek yang kurasakan, nyaman namun masih ada sisa-sisa ketakutan di sepanjang perjalanan pulang tadi. Aku membuka genggaman tangan kiriku. Ya, Aku tak pernah tahu, mampukah aku sampai di penghujung perjalanan hidupku ini. Mampukah aku menjadi yang terbaik diantara sekian juta para pemburu satu cinta sejati. sejuta pengampunan dan seribu keberkahan? Aku malu menanyakannya pada diriku sendiri.

Masih tersisa kedengkian. Masih ada pertanyaan sikap dan prasangka buruk. Masih juga bersemayam ketersinggungan dan gerutu ketidakpuasan. Masih ada pandangan mata khianat. Masih ada ketajaman lidah yang melukai hati. Masih juga mengoleksi berita-berita tak bernilai. Masih saja melafadzkan kata-kata tak bermakna. Lantas, apa makna tengadahan tangan di tengah malam yang diiringi isak pengharapan. Sekali lagi, pengharapan yang lemah yang kalah oleh nafsu.

Aku terduduk lemas. Alhamdulillah Allah memberi kekuatan dan perlindungan terhadapku sampai detik ini masih diberikan nikmat dan karunia tiada taranya. untuk mengungkapkannya. Aku pandangi lama-lama refleksi kegundahan itu. Namun kejadian-kejadian yang aku alami tadi sore masih terpikir dan mencoba menafsirkan kejadian yang aku alami tadi, sinar-sinar apakah yang beradu diangkasa ? kenapa terdengar suara-suara, kenapa tiba-tiba ada petir ?? kenapa terdengar suara senjata tajam yang saling begesekan, apa yang sebenarnya terjadi. Jujur..seumur hidupku baru kali ini aku mengalami kejadian yang seperti ini didepan mata kepalaku, berada diangkasa.

Aku hanya bertanya, kemudian kujawab sendiri. Selain itu hanya kesunyian. Meski dunia sekelilingku ramai dengan hiruk pikuk malam. Kedai sebelah rumah masih ramai. Coffee shop masih dipenuhi orang yang asyik menonton klub kebanggaan mereka sedang berlaga. Aku dibangunkan teriakan itu. Mengapa tidak suara Syeikh Masyari Rasyid yang melantunkan surat al Qiyamah, misalnya. Atau suara siapa saja yang menembus gendang telinga ini. Namun, melantunkan suara pengharapan yang kuat yang bisa menembus langit-Nya.

Atau suara-suara dari rumah-Nya yang dipenuhi isakan harapan hamba-hamba-Nya yang berlomba memburu seribu keberkahan dan sejuta pengampunan. Atau senyuman malaikat yang menyaksikan bocah-bocah kecil yang menahan kantuk berdiri sambil memegangi mushaf kecil dipojok-pojok masjid. Sebagaimana aku boleh berharap di penghujung hari pembekalan ini, aku menjadi sang jawara. Namun, aku malu ketika bersujud dihadapanNYA. Sebagaimana aku juga boleh berharap menutup hariku di dunia dengan syahadah di jalan-Nya. Toh, semua menjadi misteri yang tak terjawab.

Ya, tidakkah malu aku membandingkan pengharapanku dengan kelemahan diriku menghadapi diri sendiri. Sebagaimana aku berharap istana megah setelah matiku. Sudah berapakah aku menabung untuk itu. Sementara hidupku dipenuhi ambisi dan obsesi –obsesiku, selalu ingin perfect di setiap mata yang melihat, ambisiku, harus bisa kukalahkan. Harus bisa aku mengalahkan diriku sendiri.Sebagaimana aku berharap menikmati seteguk susu dari aliran sungai di surga-Nya. Aku lalai mengumpulkan “dana” untuk membelinya. Juga madu dan jus mangga. Sebagaimana aku tetap berharap ingin terus mencicipi delima merah dan jeruk sunkis serta buah khukh di masa setelah kefanaan ini. Tapi aku terlalu terpana oleh keindahannya yang sementara. Entah berapa tahun, bulan, hari atau bahkan hitungan detik aku masih bisa melihatnya di toko buah-buahan di sebelah rumahku.

Aku memaknai keterlaluan yang fatal ini dengan sikap yang tidak seimbang. Khayalanku dipenuhi pengharapan. Namun, hatiku disesaki kelemahan. Etape final ini banyak tikungan tajam. Dan aku terjatuh menangis sesenggukan di hadapan Tuhanku. Alhamdulillah, aku masih bisa bangkit meneruskan perjalanan. Meski aku tahu, Aku belum bisa menjadi yang terbaik. Tapi aku masih bisa berharap untuk menjadi baik. Karena aku masih bersama orang-orang baik bahkan mereka ada di depanku; orang-orang terbaik itu.

Aku masih harus melewati tikungan tajam lainnya. Tergesa-gesa, kecerobohan, cinta dunia, rasionalisasi kesalahan, buruk sangka. Namun, aku masih punya bekal. Cinta, hati nurani dan bahan bakar ketelitian serta nasihat orang-orang shaleh. Dan tikungan tajam yang paling membahayakan di akhir etape ini adalah: menduakan cinta-Nya. Ada cinta lain yang menyesak hendak menggeser kemuliaan itu. Ada beberapa materi terakhir di ujian final ini: menanggalkan kesombongan dan ingin dipuji serta disanjung berlebihan. Menanggalkan kecintaan dunia yang berlebihan dengan qanaah dan tawadhu’.
Tiba-tiba aku menangis. Ya Allah aku mengeluarkan air mata ini untuk-Mu. Aku khawatir kesulitan ini tersendat karena kemurkaan-Mu. Terimalah penyesalanku ini. tabungan ibadahku belum seberapa di bandingkan orang-orang yang sholeh. Masih banyak dosa. Aku harus perbaiki diri ini.

Air bening itu tersendat. Jangan-jangan karena kesalahanku. Karena tumpukan-tumpukan egoisme. Karena tumpukan-tumpukan kotoran buruk sangka. Karena tumpukan-tumpukan gerutu. Terkunci oleh hawa nafsu.
Jika demikian, jangan Kau murkai hamba ini ya Allah. Hamba masih terus berharap pembebasan dari murka-Mu di hari-hari pembebasan ini.

“… dan sepertiga terakhirnya adalah pembebasan dari api neraka,” demikian Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan pembekalan ini. Allahu Akbar..!!! Allahu Akbar..!!! Ya Allah, jadikanlah nama hamba ada dalam daftar pembebasan itu. Juga nama kedua orang tua hamba, keluarga hamba, para guru hamba, saudara-saudara hamba serta siapa saja yang mempunyai hak atas hamba. Amin…YRA.

Sabtu, 05312014
Pukul : 00.47 WIB
= Ryana =

Advertisements