SEJARAH SENI TARI BARONGSAI

barongsai 2

SEJARAH SENI TARI BARONGSAI

 

Salam Budaya Nusantara.

Para pembaca KCK yang saya mulyakan, di negara terdiri dari beraneka ragam suku, budaya, bahasa, agama, dll. Dari sabang sampai merauke beraneka macam bentuk khas budayanya, mulai dari tarian, makanan, pakaian, rumah adat, dan kesenian tradisionalnya, walaupun kita terpisah namun rasa persatuan dan kesatuan bangsa jangan sampai terpecah belah oleh karena pemahaman dan sukuisme serta ego sektoral kita yang tinggi. Namun lihatlah bahwa kita tidak akan bisa hidup tanpa adanya bantuan dari orang lain. Kita sebagai makhluk sosial yang tinggi derajatnya di mata Tuhan, lihatlah perbedaan dalam satu unsur persatuan dan kesatuan bangsa. Itulah yang dinamakan Indahnya perbedaan dalam Bihinneka Tunggal Ika.

Nah, di negara kita ada bermacam-macam agama, salah satunya adalah agama Budha. Agama Budha sebagian umatnya hampir keseluruhan Tionghoa. Kesenian dari masyarakat Tionghoa itu salah satunya adalah Seni Tari Barongsai, Perayaan tradisionalnya yaitu Hari Raya Yuan Xiao Jie (Cap Go Meh)

Seni Tari Barongsai adalah tarian tradisional China dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa. Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi.

 

barongsai-1.jpg

Sejarah Barongsai

Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda.

 

Tarian dan gerakan

Tarian Singa terdiri dari dua jenis utama yakni Singa Utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat. Penampilan Singa Utara kelihatan lebih natural dan mirip singa ketimbang Singa Selatan yang memiliki sisik serta jumlah kaki yang bervariasi antara dua atau empat. Kepala Singa Selatan dilengkapi dengan tanduk sehingga kadangkala mirip dengan binatang ‘Kilin’.

 

Gerakan antara Singa Utara dan Singa Selatan juga berbeda. Bila Singa Selatan terkenal dengan gerakan kepalanya yang keras dan melonjak-lonjak seiring dengan tabuhan gong dan tambur, gerakan Singa Utara cenderung lebih lincah dan penuh dinamika karena memiliki empat kaki.

 

Satu gerakan utama dari tarian Barongsai adalah gerakan singa memakan amplop berisi uang yang disebut dengan istilah ‘Lay See’. Di atas amplop tersebut biasanya ditempeli dengan sayuran selada air yang melambangkan hadiah bagi sang Singa. Proses memakan ‘Lay See’ ini berlangsung sekitar separuh bagian dari seluruh tarian Singa.

 

Dalam pertandingan-pertandingan barongsai, umumnya terbagi dua, yaitu :

Barongsai nomor lantai (Tradisional) adalah dasar dari permainan barongsai, barongsai ini sering kita sebut sebagai barongsai tradisional. Permainan barongsai lantai dilakukan diatas lapangan seluas 8×8 m2 untuk barongsai tunggal dan 10×10 m2 untuk barongsai kembar, mempunyai alur cerita dan kadang-kadang menggunakan alat-alat bantu lain seperti kursi, guci, meja, jembatan, dll. Selain itu biasanya juga ada pawang singa atau Chu yang bermain bersama singa tersebut. Barongsai lantai biasanya dimainkan oleh 6-11 pemain termasuk 2 pemain kepala dan ekor, dan tidak boleh diganti.

 

Barongsai tonggak

Barongsai nomor tonggak (Internasional) adalah barongsai yang dimainkan diatas deret tonggak yang tingginya berkisar dari 80 cm sampai 3 meter, dan panjang deret minimal 3 meter dan maksimal 15 meter. Dalam pertandingan barongsai internasional, jenis deret tonggak inilah yang dipertandingkan. Teknik permainan barongsai tonggak ini cukup sulit karena pemain harus melakukan gerakan-gerakan akrobatik diatas tonggak-tonggak yang diameternya sekitar 30 cm. Pemain barongsai tonggak adalah 6-8 pemain termasuk 2 pemain kepala dan ekor, dan tidak boleh diganti.

 

Barongsai di Indonesia

Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad-17, ketika terjadi migrasi besar dari China Selatan. Barongsai di Indonesia mengalami masa maraknya ketika zaman masih adanya perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan. Setiap perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan di berbagai daerah di Indonesia hampir dipastikan memiliki sebuah perkumpulan barongsai. Perkembangan barongsai kemudian berhenti pada tahun 1965 setelah meletusnya Gerakan 30 S/PKI. Karena situasi politik pada waktu itu, segala macam bentuk kebudayaan Tionghoa di Indonesia dibungkam. Barongsai dimusnahkan dan tidak boleh dimainkan lagi.

 

Perubahan situasi politik yang terjadi di Indonesia setelah tahun 1998 membangkitkan kembali kesenian barongsai dan kebudayaan Tionghoa lainnya. Banyak perkumpulan barongsai kembali bermunculan. Berbeda dengan zaman dahulu, sekarang tak hanya kaum muda Tionghoa yang memainkan barongsai, tetapi banyak pula kaum muda pribumi Indonesia yang ikut serta.

 

Pada zaman pemerintahan Soeharto, barongsai sempat tidak diijinkan untuk dimainkan. Satu-satunya tempat di Indonesia yang bisa menampilkan barongsai secara besar-besaran adalah di kota Semarang, tepatnya di panggung besar kelenteng Sam Poo Kong atau dikenal juga dengan Kelenteng Gedong Batu. Setiap tahun, pada tanggal 29-30 bulan enam menurut penanggalan Tiong Hoa (Imlek), barongsai dari keenam perguruan di Semarang, dipentaskan. Keenam perguruan tersebut adalah :

 

    Sam Poo Tong, dengan seragam putih-jingga-hitam (kaos-sabuk-celana), sebagai tuan rumah

    Hoo Hap Hwee dengan seragam putih-hitam

    Djien Gie Tong (Budi Luhur) dengan seragam kuning-merahhitam

    Djien Ho Tong (Dharma Hangga Taruna) dengan seragam putih-hijau

    Hauw Gie Hwee dengan seragam hijau-kuning-hijau kemudian digantikan Dharma Asih dengan seragam merah-kuning-merahPorsigab (Persatuan Olah Raga Silat Gabungan) dengan seragam biru-kuning-biru

 

Walaupun yang bermain barongsai atas nama ke-enam kelompok tersebut, tetapi bukan berarti hanya oleh orang-orang Semarang. Karena ke-enam perguruan tersebut mempunyai anak-anak cabang yang tersebar di Pulau Jawa bahkan sampai ke Lampung. Di kelenteng Gedong Batu, biasanya barongsai (atau di Semarang disebut juga dengan istilah Sam Sie) dimainkan bersama dengan Liong (naga) dan Say (kepalanya terbentuk dari perisai bulat, dan dihias menyerupai barongsai berikut ekornya).

 

Saat ini barongsai di Indonesia sudah dapat dimainkan secara luas, bahkan telah meraih juara pada kejuaraan-kejuaraan dunia. Dimulai dengan Barongsai Himpunan Bersatu Teguh (HBT) dari Padang yang meraih juara 5 pada kejuaraan dunia di genting – malaysia pada tahun 2000. Hingga kini barongsai Indonesia sudah banyak mengikuti berbagai kejuaraan-kejuaraan dunia dan meraih banyak prestasi. Sebut saja beberapa nama seperti Kong Ha Hong (KHH) – Jakarta, Himpunan Bersatu Teguh (HBT) – Padang, Dragon Phoenix (DP) – Jakarta, Satya Dharma – Kudus, dan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) – Tarakan. Bahkan nama terakhir, yaitu PSMTI telah meraih juara 1 pada suatu pertandingan dunia yang diadakan di Surabaya pada tahun 2006. Perguruan barongsai lainnya adalah Tri Pusaka Solo yang pada pertengahan Agustus 2007 lalu memperoleh Juara I President Cup.

 

kong ha hong barongsai 

Bahkan, pada tanggal 17 Agustus 2010 atau tepat pada Proklamasi Republik Indonesia yang ke-65, tim barongsai Kong Ha Hong diundang secara khusus oleh pemerintah untuk menunjukkan aksinya didepan panggung Intana Kenegaraan, yang dihadiri oleh Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia beserta para pejabat tinggi Negara dan tamu undangan Negara asing.

barongsai kong ha hong 

Ini suatu bentuk penghormatan atas keeksistensian olahraga kesenian barongsai pada khususnya di tanah air yang sudah mengharumkan nama Indonesia di berbagai pentas pertandingan Internasional dan juga merupakan pengakuan atas keeksistensian pada umumnya untuk etnis Tionghoa di tanah air sendiri oleh pemerintah Indonesia.

 

Terbentuknya FOBI (Federasi Olahraga Barongsai Indonesia)

FOBI (Federasi Olahraga Barongsai Indonesia) adalah wadah dari olahraga barongsai yang berada di Indonesia dan dibawah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). FOBI berdiri pada tanggal 9 Agustus 2012 di Jakarta dan didukung oleh 5 organisasi Barongsai di Indoneisa : BARIN , ALBSI , PERNABI, PLBB , ALBA. dimana mempunyai kesamaan tujuan untuk mengembangkan Olahraga Barongsai Indonesia.

 

Pada tanggal 11 Juni 2013, FOBI akhirnya resmi masuk KONI. Dalam susunan Pengurus Besar FOBI yang pertama ini, nama Dahlan Iskan tercantum sebagai Ketua Umum didampingi Kuncoro Wibowo sebagai wakilnya. Pak Dahlan bukan orang baru di arena barongsai. Ia sudah sejak lama mencintai barongsai. Sejak tahun 1999, Pak Dahlan sudah menjadi ketua umum Persobarin (Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia). Pak Dahlan pun bercerita, dimana Ia selama 10 tahun lebih selalu berjuang agar olahraga barongsai bisa masuk KONI; masuk namun selalu ditolak dengan alasan karena banyaknya organisasi-organisasi barongsai yang sebelumnya sudah lebih dulu ada/eksis di Indonesia. Namun atas perjuangan Bapak Dahlan Iskan dan rekan-rekan, akhirnya organisasi-organisasi itu akhirnya bisa bersatu dibawah naungan FOBI; sekaligus mengakhiri mimpi selama bertahun-tahun bagi Indonesia untuk memiliki sebuah federasi olahraga barongsai.

 

Belum genap setahun barongsai resmi menjadi salah satu cabang olahraga di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) telah mengirimkan atlet barongsai untuk mengikuti Kejuaraan Dunia Barongsai International Dragon and Lion Dance Federation (IDLDF) ke 5, yang kali ini diselenggarakan di Putian, Fujian, China, 14-18 November 2013. Hasilnya Tim FOBI Indonesia berhasil meraih 3 perak dan 2 perunggu. Adapun total kategori yang dipertandingkan dalam Kejuaraan Dunia kali ini ada 15, yaitu masing-masing Barongsai (Selatan), Peking Sai (Utara) dan Wulong (Naga) bertanding di 5 kategori : Traditional, Compulsory, Optional, Speed, dan Obstacle.

 

= RYANA =

Advertisements