SANG GURU SEJATI, mmm..Siapakah Dia..??

Assalaamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuuh

Bismilaahirrahmaanirrahiim…..

Pembaca KCK yang saya hormati, terinspirasi dari percakapan saya dengan seorang yang selama ini turut membimbing, memberikan nasihat dalam berbagai persoalan hidup saya, dan mengajarkan saya ilmu pengetahuan dalam hal keagamaan, beberapa hari yang lalu sempat saya bertanya mengenai beberapa hal yang sebelumnya membuat saya punya rasa keingin tahuan yang tinggi, namun beliau menjawab singkat dengan mengatakan “ Jawabannya ada pada dirimu sendiri, seorang guru sejati tidak akan memberitahukan agar kau bisa memahami makna hidup yang sebenarnya “ kurang lebih seperti itulah yang saya ingat.

Terasa singkat buat saya jawaban tersebut, walau dalam hati saya sempat mengatakan, Wah,, jawaban apa ini, setiap aku bertanya, selalu membuatku penasaran dan seolah – olah beliau selalu meninggalkan PR buatku untuk menelusurinya, yah..karena aku termasuk orang yang mempunyai rasa penasaran yang tinggi dan jikalau aku belum mendapatkan jawaban yang memuaskan bagiku, aku selalu ingin dan ingin mencari tahu sampai aku mendapatkan kepuasan bathin agar aku bisa menjalani makna hidupku yang sebenar-benarnya. Yaah…kira-kira begitulah pembaca KCK. Nah…disini sekalian bagi-bagi pengetahuan agar kita bisa menjalani hidup kita tanpa selalu bergantung kepada orang lain alias “ manjah “ ( pake “ h “ ) saya akan membahas sekaligus menjawab PR yang diberikan beliau terhadap saya.

 Semoga jawaban saya ini benar dapet nilai A sehingga saya bisa tidur dengan nyenyak, bisa mengartikan makna hidup yang saya jalani dan bisa berbagi ilmu pengetahuan kepada pembaca KCK. Baiklah…kita mulai saja yaah ?

Guru Sejati adalah sebuah keyakinan yang sangat umum di masyarakat saat kita berbicara tentang kerohanian, spiritualitas, kebatinan, dsb. Guru Sejati inilah yang dicari oleh sebagian besar orang tatkala mereka berbicara tentang pengolahan kerohanian tersebut (tadzkiyatun nafs). Karena Guru Sejati itu dicari, maka hasil pencariannya juga akan sangat berbeda-beda. Ada yang sampai pada pencapaian bahwa Guru Sejati itu adalah roh-roh orang suci maupun roh nenek moyang yang diyakini mereka bisa berbicara dengannya. Ada yang berhenti sampai pada bentuk atau rupa yang sama dengan wajahnya sendiri. Ada yang berhenti di cahaya terang benderang, dsb. Untuk menemukan apa yang dianggap sebagai Guru Sejati di atas sebenarnya sangat mudah. Modalnya hanyalah sebuah niat yang kuat, dan laku yang ngotot untuk mengarahkan kesadarannya kepada apa yang dianggap sebagai Guru Sejati itu.

Guru sejati adalah seorang manusia. Manusia yang bermartabat. Ia punya prinsip hidup. Ia seorang beriman, lebih daripada beragama. Imannya sudah terolah dan teruji oleh pengalaman manis pahitnya kehidupan. Ia juga orang tahu artinya prihatin. Ia biasa menjalani bukan hanya mengajarkan. Ia mendidik tanpa  mengharapkan pemberian, apalagi penghasilan. Segalanya murni demi panggilan untuk mendidik. Mendidik berarti memberi pengertian akan maknanya hidup ini. Ilmunya bukan berupa pengetahuan, tetapi kenyataan hidup. Itulah guru sejati. Jaman ini mungkin sulit kita temui, tetapi ia bagai permata, tersembunyi namun dicari-cari. Guru sejati takkan menonjolkan diri, dia bersinar dari jiwanya yang murni.Hadirnya mengubah bahkan menciptakan kehidupan di sekitarnya. membuat saya bertanya-tanya, siapakah guru sejati saya selama ini? Kemudian saya tersadarkan, diantara banyak guru  siapa saja didalamnya selama ini , yang sungguh-sungguh sejati adalah diri saya sendiri.

Sebenarnya guru sejati adalah batin kita sendiri, sedangkan semua orang lain adalah fasilitator/motivator belaka. Kesejatian itu akan terbentuk manakala batin kita bisa berkoneksi dengan baik kepada-Nya. Sehingga semua orang di sekeliling kita hakekatnya adalah perantara untuk mengantarkan menuju kesejatian diri.

Dan hasil dari niat dan laku tadi, Guru Sejati itu dalam berbagai bentuk itulah yang disadari oleh orang tersebut sebagai sosok yang bisa mengajarinya. Pengajaran itu bisa dalam bentuk tanya jawab secara lahir maupun batin. Biasanya, kalau Guru Sejati itu didapatkan dari pengolahan (pembersihan) HATI, maka pada tahap tertentu akan muncul tanya jawab di dalam hati itu sendiri. Ada yang bertanya dan ada yang menjawab. Tanya jawab itu biasanya adalah tentang hal baik dan yang buruk. Dan hal-hal yang baik dan buruk itu seperti saling berlomba sahut menyahut untuk mengarahkan kita untuk bersikap terhadap masalah yang muncul. Lalu ada yang menyimpulkan bahwa yang saling bertanya jawab itu tadi adalah dirinya dan Guru Sejatinya.

 Ada pula yang mendapatkan sensasi tentang Guru Sejati ini sebagai dirinya sendiri dalam bentuk rupanya sendiri. Sehingga dalam pengolahan dirinya (meditasi) yang dicari adalah rupanya sendiri itu yang diyakini orang berada di dalam hatinya sendiri. Ada yang mempercayai ini.

 Dalam ajaran ISLAM, Sang Guru Sejati itu adalah ALLAH, seperti yang di sebutkan dalam beberapa ayat berikut ini:

    “… Allah lah yang mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.” (Al Alaq 5)

    “… Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”. (An Nisaa’ 113)

    “… Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. (Al Baqarah 239)

     Nah…, sekarang terserah kita saja sebenarnya, kepada siapa kita mau menghentikan kesadaran kita saat kita berbicara tentang GURU SEJATI ini. Dan di semuanya itu ada fenomenanya. Ada hasilnya. Sehingga orang biasanya terhenti di satu posisi pada saat dia mendapatkan sebuah hasil atau fenomena pada posisi itu. Dan Islam mengajarkan bahwa kalau sesuatu itu masih ada bandingannya, maka sesuatu itu masihlah sesuatu yang rendah. Dengan afirmasi kalimat Laa ilaha illallah, maka kesadaran kita dibawa untuk menafikan, meniadakan dan tidak mengakui eksistensi yang rendah-rendah itu tadi, sehingga akhirnya  kesadaran kita dibawa untuk selalu menuju ke alamat yang Maha Tinggi, yaitu Allah.

Jika kesejatian diri sudah terbentuk, maka segala hal yang terdapat di semesta raya ini akan bisa menjelma menjadi guru sejati, karena semua hal menjadi berhikmah (memberikan manfaat) dalam kehidupan kita.

Semoga kita bermasuk manusia yang mau berpikir dan mengambil hikmah dari semua fenomena semesta raya ini.

Diantara sekian tulisan yang ada semuanya mengalir untuk menasehati dan mengajari diri sendiri. Kadang didalam sunyi diriku dan ‘diriku’ saling berdialog. Karena sesungguhnya diri kita yang satu ini terdapat dua makhluk. Yakni makhluk yang berupa jasmani dan terlihat mata dan makhluk spiritual yang tak terlihat. Jadi didalam tubuh kita yang palsu ada didiami makhluk spiritual yang abadi, yang merupakan diri kita yang sejati, yang hakiki. Dialah sumber ilmu kita yang tertinggi, dan itulah yang seharusnya kita cari dan gali untuk menuntun kehidupan kita.

Agama adalah sarana atau jalan bagi kita untuk menemukan dan untuk mengenali diri kita. Karena setelah dengan sungguh-sungguh mengetahui dan mengenal diri kita sendiri , maka pada akhirnya adalah kita dapat mengenal Tuhan kita sebagai Sang Pencipta.

Mengapa selama ini, kita seakan melupakan atau menelantarkan diri kita yang sejati yang setiap hari tak berhenti mengajari? Mungkin karena tidak mengetahui atau tidak mau menyediakan waktu saat guru kita ini mau mengajari . Karena dalam hidup ini, kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan lebih terpesona dengan hal-hal yang berbentuk , yang sesungguhnya palsu .

Keinginan duniawi/jasmani lebih besar daripada keinginan spiritual /rohani . Kita lebih tertarik mendandani tubuh kita dengan rapi dan warna – warni daripada mendandani hati kita. Kita lebih mendahulukan memberi wewangian kepada tubuh kita daripada memberikan wewangian pada hati kita. Karena apabila kita lebih membuat wangi hati kita, maka yang terpancar adalah perbuatan baik yang dapat memberikan manfaat, dan aromanya bisa menyebar kemana-mana.

Itulah sebabnya kita tertipu dan tidak maju-maju dalam dalam mengenal diri sendiri. Selanjutnya kita lebih mementingkan hidup dengan diri kita yang palsu. Susah payah mencari nafkah demi memberikan makan pada tubuh ini. Akan tetapi makanan bagi rohani terlupakan. Akhirnya kekurangan gizi dan kelaparan. Tapi kita sepertinya santai dan tenang-tenang saja. Seakan tak ada beban.

Saya merasakan sedikit keberuntungan, saat mulai mau mendengarkan dan merenungkan pengajaran dari guru sejati didalam diri ini. Yang selama ini, karena begitu lembut dan halus bisikannya seakan tak terdengar. Ditambah lagi akibat kebisingan kehidupan dunia yang penuh ketegangan. Terkadang suara itu datang dan hilang tanpa bisa didengarkan. Syukurlah alunan suara ini tak berhenti untuk hadir memberikan pengajaran dan selalu mau mengingatkan langkah-langkah hidup kita.

Apakah sudah selesai? Seandainya ketika kita mau untuk sedikit merendahkan hati, banyak sekali guru-guru sejati disekitar yang telah, sedang dan siap memberikan pengajaran kepada kita. Sekali lagi kalau kita ada memiliki kerendahan hati untuk menjadikan siapa saja sebagai guru. Bahkan kepada musuh kita sekalipun! inipun tak boleh kita lupakan tentunya.

Dua hal yang membuat kita gagal untuk menjadikan siapa saja sebagai guru dalam hidup kita adalah karena kepintaran sekaligus juga karena kebodohan kita sendiri.

Kenapa?

Kepintaran menyebabkan kita sudah merasa penuh, dan tak mau belajar lagi pada yang kita anggap bodoh.

Kebodohan juga sama, menyebabkan kita enggan untuk belajar karena kita merasa tidak ada gunanya. Itulah sebabnya kita suka menertawakan orang lain yang sesngguhnya bijak.

Padahal ia sedang mengajari kita.

Sungguh sayang memang, apabila kita selalu menutupi diri dari pengajaran orang lain, siapapun itu!!!

Demikianlah kira-kira seperti inilah penjabaran dari saya, semoga kita bisa menjalani, memaknai hidup kita yang sebenarnya hingga kita mampu melewati segala cobaan, rintangan, berdasarkan atas keyakinan kita terhadap Tuhan YME. Ibarat kata pepatah kakek saya “ We are nothing without support of GOD “ Ciiiiieeehhh…….

= Ryana =

Advertisements