PEMIMPIN PANUTAN DAN BAWAHAN ANDALAN

oleh : Ryana

diskusija

Dalam situasi dan kondisi saat ini, sering terdengar harapan dan tuntutan akan adanya pemimpin panutan. Pemimpin yang memiliki kebajikan-kebajikan yang dapat menjadi contoh bagi orang lain terutama bawahan yang dipimpinnya. Pemimpin yang dijadikan model tentang perilaku baik dan benar yang penuh dengan keteladanan.

Terkadang kita memperlakukan seseorang sebagai panutan dengan mengasumsikan bahwa orang tersebut memiliki kualifikasi moral diatas rata-rata, yang melampaui kemampuan moral orang kebanyakan. Hal inilah yang mengakibatkan munculnya ketidak-adilan yang diperlakukan pada diri sang panutan tanpa kita sadari. Jika sang panutan bertingkah laku baik dan benar, maka hal itu dianggap wajar, biasa saja, dan semata-mata itu sudah seharusnya. Seolah-olah keteladanan moralnya merupakan pemberian bukan hasil perjuangan pribadi dalam mencapai nilai-nilai luhur tersebut. Lain halnya jika sang panutan melakukan suatu kesalahan, mungkin saja hanya kesalahan kecil, segera saja sang panutan dianggap mengecewakan harapan banyak orang, menimbulkan amarah dan rasa frustasi pada para bawahannya. Sang panutan dianggap tidak memenuhi standar yang telah mereka lekatkan pada dirinya. Diperlakukan tidak sebagai manusia biasa yang kadangkala atau lebih sering mungkin tidak berhasil mengatasi kelemahan yang ada pada dirinya sendiri.

Sebagai pemimpin panutan harus sudah dilekatkan pada dirinya kriteria bisa melakukan kesalahan. Sebaik-baiknya pemimpin juga harus siap untuk dikoreksi dan dapat menerima masukan dari banyak sumber termasuk dari bawahan. Kebijakan-kebijakan yang ditelurkan pada bawahan lebih terjamin terlaksana apabila sang pemimpin memiliki sifat mengakui kesalahannya, memperbaikinya, dan bersedia menerima sanksi akibat kesalahan tersebut. Pola ini jauh lebih baik ketimbang jika sang pemimpin berkelit dengan berbagai dalih bahwa ia tidak melakukan kesalahan apapun, bahkan lebih buruk lagi dengan mencari kambing hitam kepada bawahan terhadap kesalahan yang diperbuatnya.

Kriteria lain yang tidak kalah pentingnya harus dimiliki oleh seorang pemimpin panutan adalah pemberi motivasi, inovasi, dan inspirasi kepada bawahannya. Ia pun dapat dengan mudah memfasilitasi segala media yang dibutuhkan oleh bawahannya, hingga mereka dapat berbuat sesuatu. Tidak mudah memang menjadi pemimpin yang dapat memotivasi orang lain. Hal ini dikarenakan kebanyakan orang sudah kalah terlebih dahulu dengan yang namanya ego diri. Pengendalian emosi adalah obatnya, yang harus disiapkan agar bisa menjadi pemimpin panutan. Pemimpin panutan harus dapat mengesampingkan ego dirinya jauh-jauh. Dimana mengesampingkan itu bukan berarti menghilangkan.

Perhiasan berani, jujur dan tidak bersikap memerintah yang disertai umpatan dan fitnah juga tidak kalah penting yang harus dilekatkan pada seorang pemimpin panutan. Pertanyaan “apa tanggungjawab saya?” dan bukan “berapa banyak yang akan saya terima?” atau “kapan saya akan menerimanya?” Merupakan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari lisan pemimpin panutan. Baginya menyelesaikan tanggungjawab merupakan hal yang utama. Ia akan selalu berusaha melakukan segala pekerjaannya dengan benar, baru kemudian ia akan merasa senang dengan prestasi kerjanya. Ia justru akan tetap meneruskan langkahnya tatkala masalah silih berganti merintangi. Keputusan apapun yang diambilnya lebih berdasarkan pada prinsip dan bukan karena popularitas. Sehingga tidak mengherankan jika ia tidak suka bersikap murung, apalagi berkeluh kesah dalam menggeluti pekerjaannya.

Sering kita mendengar kisah pengusaha restoran yang sukses seperti restoran sederhana, yang kita sama-sama tahu harganya tidak sederhana. Ternyata bukanlah seorang chef atau tukang masak. Mungkin saja ia tidak dapat membedakan mana kunyit dan mana lengkuas. Lalu perusahaan penerbangan seperti air asia, yang dipimpin oleh seorang yang bukan pilot atau bahkan tidak mengerti onderdil mesin sama sekali, yang mungkin juga tidak mengerti bahwa kemudi pesawat berupa stik bukan stir. Tetapi mengapa bisa berkembang dengan pesat? Bahkan dapat merajai di bidangnya masing-masing. Pemimpin perusahaan tersebut yang menjadi kunci utamanya. Contoh pemimpin tersebut tidak terlalu menguasai dalam urusan teknis, tetapi memiliki pribadi yang layak untuk dijadikan panutan oleh bawahannya. Karena “seribu ekor kambing dipimpin satu ekor singa, akan tetap bersuara singa dan seribu ekor singa dipimpin satu ekor kambing, akan tetap bersuara kambing”.

Lalu bagaimana dengan bawahan andalan? Lain pemimpin panutan lain pula bawahan andalan. Bagaimana sebaiknya karakter seorang bawahan yang bisa diberi gelar andalan? Bawahan biasanya bekerja lebih termotivasi oleh emosi. Bawahan akan mencari kesenangan terlebih dahulu kemudian melakukan pekerjaan. Bawahan suka menanti sebuah momentum, jika momentum ada, baru ia akan berbuat. Sifatnya hanya reaktif belaka. Tindakannya lebih mudah untuk dikendalikan dan ketika masalah-masalah timbul, ia akan berhenti berkarya. Keputusan yang diambilpun selalu berdasarkan popularitas. Dapatkah hal-hal tersebut dijadikan patokan untuk menjadi bawahan andalan?

Ketaatan merupakan kunci pokok bagi seorang bawahan. Ketaatan tersebut tetap berlaku walaupun terkadang mengorbankan kepentingan sebagian orang. Ketaatan bawahan terhadap pimpinan merupakan salah satu bentuk pahala bawahan dalam bekerja dan menjadi dosa bagi pimpinan apabila berlaku ketidakadilan. Justru akan berlaku sebaliknya bagi seorang bawahan apabila memisahkan diri dari ketaatan terhadap pimpinannya.

Mendengarkan dan memahami perintah dengan sebaik-baiknya, memohon penjelasan hingga jelas tujuannya, kemudian melaksanakannya dengan baik dengan tidak menunda-nunda. Melipatgandakan kesabaran saat melaksanakan perintah, ikhlas dengan tidak mengurangi atau menambahi sedikitpun. Melaksanakan segera perintah tersebut, walaupun terkadang tidak sesuai dengan pendapat atau berbeda dengan keinginan dan tidak lupa meminta izin dalam setiap urusan atau sebelum mengambil keputusan merupakan cerminan bawahan andalan.

Namun hal yang tidak kalah penting adalah saling memberi dan menerima nasihat. Dalam konteks ibadah seperti sholat berjamaah, hubungan imam (pemimpin) dan makmum (bawahan) sungguh sangat demokratis. Betapa tidak? Bila seorang imam salah bacaan, maka makmum tidak boleh membiarkan kesalahan itu sampai ibadah berakhir. Imam tidak boleh marah ketika diingatkan. Makmum pun tidak boleh merasa sombong karena sudah mengingatkan imamnya.

Jadi, siapakah diri kita ini? Pimpinan panutan atau bawahan andalan? Seiring perjalanan waktu karakter dan sifat seseorang akan mengalami banyak perubahan dan tidak mungkin berlaku konstan. Karakter dan sifat seseorang bukan sesuatu yang abadi ataupun kekal. Pada saat tertentu menjadi pimpinan dan terkadang menjadi bawahan beberapa saat kemudian. Masih banyak waktu untuk memperbaiki diri. Selagi masih diberi udara untuk bernafas, kekuatan kaki untuk melangkah, dan kerendahan hati untuk meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Masa Esa, tiada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Kita harus bisa untuk tumbuh sendiri, membangun diri menjadi yang lebih baik dan menyiapkan hadiah yang terbaik bagi diri sendiri.

Karena sesungguhnya setiap manusia diciptakan sebagai seorang pemimpin. Minimal sebagai pemimpin terhadap dirinya sendiri. Pemimpin kepala beserta isinya hingga pemimpin kaki-kaki kemana harus melangkah. Dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas segala kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya, seorang istri adalah pemimpin bagi kehidupan rumahtangga suami dan anak-anaknya, dan ia juga akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.

Mari jadikan momentum Hari Sumpah Pemuda  ini sebagai pendorong bagi masing-masing kita untuk dapat menjadi pimpinan panutan dan bawahan andalan. Menjadi pemimpin yang sejati minimal bagi diri sendiri. Pemimpin yang dapat berlaku seimbang, yang dapat memenuhi kebutuhan psikis dan fisik secara proporsional. Pemimpin yang dapat menerima pujian dan kritikan dengan rasa yang sama. Sehingga setiap bawahan andalan akan menjadi pemimpin panutan bagi dirinya sendiri dan keluarganya.

Dari ufuk timur hingga ujung barat negeri. Dengan Semangat Sumpah Pemuda Nasional kita tumbuh kembangkan peran serta masyarakat dalam pembangunan bangsa. Menjadikan segalanya lebih baik, memperbaiki yang terlanjur salah dan melanjutkan apa yang sudah baik dimasa lalu. Demi kesejahteraan dan kemamuran Negeri kita sendiri. Demi Indonesia satu, Indonesia Hebat. “Kalau bukan kita siapa lagi? kalau bukan sekarang kapan lagi?”

= Ryana, 15-09-2014=

 

Advertisements