MENILAI KONDISI PSIKOLOGIS SESEORANG KETIKA SEDANG MARAH

” Apa masih mau marah setelah baca ini..? “

Suatu waktu Ibnu Umar Radhiya Allahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam,

“Apa yang menjauhkanku dari murka Allah Azza Wa Jalla?”

Apa yang dimaksud dengan Marah..?

Rasul langsung menjawab, “Jangan marah!.”

Marah, menurut Imam Al-Ghazali, dalam bukunya yang terkenal, Ihya Ulumuddin, pada hakikatnya merupakan gejolak hati yang mendorong agresifitas. Energi marah ini meledak untuk mencegah timbulnya hal-hal negatif juga untuk melegakan jiwa dan sebagai pembalasan akibat hal-hal negatif yang telah menimpa seseorang.

Sering kita dengar orang lain berkata, “pokoknya gue harus ngomelin die…biar lega nih ati!”, atau “kalo gak dilabrak, manalah tenang.

Harus gue labrak dan gue gampar tuh orang!”, dan kalimat senada lainnya, yang terkesan amat sangat marah.

Betul bahwa marah itu manusiawi, semua orang pernah marah. Namun kita bisa bertaubat saat ini juga untuk mengubah kebiasaan marah agar lebih bernilai positif.

Jangan sampai syetan tertawa gembira ( huahahaha..) melihat kita saat marah makin menjadi, lalu tertumpahlah darah, terputuslah persaudaraan, atau hancurlah berbagai fasilitas, yang paling dirugikan tentunya diri kita sendiri. Siapa yang puas ? (jelas Syaithan toh jawabannya).

“Mengekang hawa nafsu ketika terjadi kemarahan akan membuat aman dari terjadinya kerusakan.”

(Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu).

 “Marah adalah nyala api dari neraka. Seseorang pada saat marah,mempunyai kaitan erat dengan penghuni mutlak kehidupan neraka, yaitu syetan saat ia mengatakan, Saya lebih baik darinya (Adam); Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.Ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an;

 

 

(Qaala maa mana’aka allaa tasjuda idz amartuka qaala anaa khayrun minhu khalaqtanii min naarin wakhalaqtahu min thiinin)

Artinya:

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.

 (QS. Al-A’raf [7] : 12).

 

Tabiat tanah adalah diam dan tenang, sementara tabiat api adalah bergejolak, menyala, bergerak, dan berguncang.”

 

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda  (yang artinya):

“Sesungguhnya marah itu bara api yang dapat membakar lambung anak adam. Ingatlah bahwa sebaik­baik orang adalah orang yang melambatkan (menahan) amarah dan mempercepat keridhaan, dan sejelek­-jelek orang adalah orang yang mempercepat amarah dan dan melambatkan ridha”

 

(HR. Ahmad dari Abu Sa’ id al-Khudriy).

Kemarahan yang mempunyai tingkat ekstrim rendah ini ditandai dengan ketidak mampuan seseorang untuk marah, pun disaat yang sebenarnya mengharuskan orang tersebut marah. Seperti saat menghadapi kemungkaran dan musuh-musuh Allah.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

(Muhammadun rasuulu allaahi waalladziina ma’ahu asyiddaau ‘alaa alkuffaari ruhamaau baynahum taraahum rukka’an sujjadan yabtaghuuna fadhlan mina allaahi waridhwaanan siimaahum fii wujuuhihim min atsari alssujuudi dzaalika matsaluhum fii alttawraati wamatsaluhum fii al-injiili kazar’in akhraja syath-ahu faaazarahu faistaghlazha faistawaa ‘alaa suuqihi yu’jibu alzzurraa’a liyaghiizha bihimu alkuffaara wa’ada allaahu alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati minhum maghfiratan wa-ajran ‘azhiimaan)
Artinya:

 “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud [*]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

 

[*] Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.

 

(QS. Al-Fat’h [48 : 29).

 

 

(Yaa ayyuhaa alnnabiyyu jaahidi alkuffaara waalmunaafiqiina waughluzh ‘alayhim wama’waahum jahannamu wabi’sa almashiiru)

Artinya:

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.”

 

(QS. At-Taubah [9] ; 73).

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘‘Alaihi wa Sallam tidak pernah marah jika disakiti. Tetapi jika hukum Allah dilanggar, maka beliau akan marah karena Allah.”

 

{HR. Muslim (6195) & Ahmad (25200)}.

Meluapkan kemarahan apalagi yang berlebihan, merupakan salah satu ekspresi memanjakan ego yang cenderung bersifat negatif, atau dalam Al-Qur’an sering disebut dengan nafsu amarah.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

 

(Wamaa ubarri-u nafsii inna alnnafsa la-ammaaratun bialssuu-i illaa maa rahima rabbii inna rabbii ghafuurun rahiimun)

Artinya:

” Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.”

 (QS. Yusuf [12] : 53)

Kita sering beranggapan bahwa dengan meluapkan kemarahan, kita akan melegakan kemarahan, padahal sebenarnya yang terjadi sering kali membuat orang yang bersangkutan tidak dapat mengontrol dirinya.

Wallahu’alam bishawab.

 

Ada beberapa kiat untuk mengendalikan amarah, antara lain adalah:

  •  Memaafkan, sikap lembut dan tegar dengan mengharap ridha dan balasan baik dari Allah.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

 

 

( khudzi al’afwa wa/mur bial’urfi wa-a’ridh ‘ani aljaahiliina )

 

Artinya:

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.

 

(QS. Al-‘A’raf [7]:199).

 

 

 

( Alladziina yunfiquuna fii alssarraa-i waaldhdharraa-i waalkaatsimiina alghayzha waal’aafiina ‘ani alnnaasi waallaahu yuhibbu almuhsiniina).

 

Artinya:

  “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

 

(QS. Ali Imran [3] :134).

Mengingat qishas di akhirat, jika kita melampiaskan kemarahan. Riwayat Abu Ya’la ketika merasa kesal dengan Washif yang lambat melaksanakan tugas. Rasulullah menegurnya secara bijak seraya berkata, ” Kalaulah tidak mencemaskan pembalasan di akhirat, niscaya aku beri engkau pelajaran”

  • Mengingat pesan Rasulullah dalam hadits Abu Dawud, ” Duduk ketika sedang berdiri, tiduran ketika sedang duduk, jika masih marah, berwudhu atau mandilah dengan air dingin”
  • Memikirkan kembali dengan tenang, tentang faktor yang menjadi pemicu marah, apakah memang sepatutnya disikapi dengan marah atau tidak.
  • Tersenyum. Cobalah bercermm saat kita marah, dan lihatlah betapa jeleknya kita ketika marah dan tersenyumlah, percaya atau tidak, kemarahan yang kita rasakan akan sirna perlahan-lahan. 
  • Positif thinking (husnudzon) dan mencoba memahami alasan sikap dan prilaku orang lain.
  • Berlatih menunda amarah, dengan tidak mealampiaskan marah secara spontan dan refleks
  • Coba dekatkan diri secara fisik kepada seseorang yang kita cintai disaat kita marah untuk menetralisir kemarahan. Misalnya dengan menggenggam tangannya. Kiat ini juga bisa kita gunakan untuk meredam kemarahan orang yang kita cintai pada kita.
  • Diam dan dengarkan
  • Ungkapkan kemarahan dengan tulisan. 
  • Komunikasi dan proaktif. Jangan harap orang lain dapat membaca fikiran kita atau mengetahui apa yang kita inginkan
  • Membaca taawwudz seraya berdoa kepada Allah agar terhindar dari provokasi syetan dan jebakan fitnah yang menyesatkan.

 ” Allahumma Rabban Nabi Muhammad, ighfirlii dzambi wa adzbib ghaiddha qoIbii wa ajimii min mudhilatil fitan”.

Ungkapkanlah kekesalan kita dengan tetap mengendalikan diri. Orang yang kuat menurut Islam bukanlah orang yang menakutkan ketika marah, melainkan orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah sebagaimana hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairoh,

” Bukanlah disebut kuat orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika ia marah”

Akhirnya, mari kita tingkatkan terus keimanan kita kepada Allah dengan mendekatkan diri pada-Nya. Karena letak iman berada di hati sedangkan hati bersifat tidak tetap, maka selain itu jangan pula kita pernah lupa untuk terus memanjatkan doa pada Allah Ta’ala, karena setiap tindakan/usaha tanpa dibarengi doa adalah ketakaburan dan sebaliknya doa tanpa dibarengi dengan usaha adalah kemalasan (Allah tidak akan mengubah keadaan seseorang kecuali orang itu yang mengubah dirinya dengan berusaha).

 

Doa adalah usaha dan usaha adalah doa. Keduanya tak dapat dipisahkan dalam suatu pencapaian yang besar.

.

“Ya Lathif, lembutkanlah hati kami, sehingga menjadi lembut pula setiap tindakan yang kami lakukan. Lembutkanla hati kami untuk mudah menerima setiap ketetapan-Mu, lembutkanlah hati kami untuk mudah menerima segala perintah-Mu, sehinggga ia dapat kami jadikan sebagai penerang dalam hidup, sebagai pembimbing dalam langkah kami.

 Ya Lathif, lembutkanlah hati kami, agar kami dapat memahami dan menjalani takdirmu dengan keikhlasan dan kelapangan Karena tiada yang dapat membuatnya menjadi lapang selain Engkau wahai menguasa jagad.

 Ya Ghofar, ampunilah segala dosa kami dan kedua orang tua kami, ampunilah segala kehilafan dan kemarahan yang pernah kami lakukan, kemarahan yang pernah kami luapkan pada kedua orang tua kami, kemarahan yang pernah kami luapkan pada suami kami, anak-anak tak berdosa kami, teman-teman kami, tetangga-tetangga kami, guru-guru kami, murid-murid kami dan yang lainnya.

 Ya Shabur, berikanlah kesabaran pada kami dalam menghadapi setiap cobaan yang engkau berikan, sehingga tidak ada kemarahan dalam menghadapi cobaan tersebut.

 Ya Muqalibal Qulub, tetapkanlah hati kami, tetapkan ia untuk tetap komitmen dalam ikatanMu, tetapkan ia untuk terus mencari ridhaMu, sehingga setiap detik dari waktu yang kami lalui, setiap desah dari nafas yang terbuang, setiap tapak dari jalan yang kami susuri adalah ladang amal kebaikan, tetapkanlah hati kami, tetapkanlah ia pada jalan yang telah kau gariskan, tetapkanlah ia berpegang pada Qur’an dan SunahMu, sehingga kami tidak akan sesat pada jalan yang salah. Bersihkanlah ia dari penyakit-penyakit yang akan menggerogoti keimanan kami

 

Ya Lathif, Ya Ghofar, Ya Shobur, Ya Muqolibal qulub, Aamiin Yaa rabbal `Aalamiin.

 

 

 = RYANA=