MEMBUMIKAN HUKUM SPIRITUAL DI INDONESIA

 

29 January 2011 ↔ 13 comments
Sihir dalam Pandangan Islam
Dunia sihir dan perdukunan telah tersebar di tengah-tengah masyarakat, mulai dari masyarakat desa hingga menjamah ke daerah kota. Mulai dari sihir pelet, santet, dan “aji-aji” lainnya. Berbagai komentar dan cara pandang pun mulai bermunculan terkait masalah tukang sihir dan ‘antek-antek’-nya. Sebagai seorang muslim, tidaklah kita memandang sesuatu melainkan dengan kaca mata syariat, terlebih dalam perkara-perkara ghaib, seperti sihir dan yang semisalnya. Marilah kita melihat bagaimanakah syariat Islam yang mulia ini memandang dunia sihir dan ‘antek-antek’-nya.

Makna Sihir

Sihir dalam bahasa Arab tersusun dari huruf ر, ح, س (siin, kha, dan ra), yang secara bahasa bermakna segala sesuatu yang sebabnya nampak samar.[1] Oleh karenanya kita mengenal istilah ‘waktu sahur’ yang memiliki akar kata yang sama, yaitu siin, kha dan ra, yang artinya waktu ketika segala sesuatu nampak samar dan “remang-remang”.[2]

Seorang pakar bahasa, Al Azhari mengatakan, “Akar kata sihir maknanya adalah memalingkan sesuatu dari hakikatnya. Maka ketika ada seorang menampakkan keburukan dengan tampilan kebaikan dan menampilkan sesuatu dalam tampilan yang tidak senyatanya maka dikatakan dia telah menyihir sesuatu”.[3]

Para ulama memiliki pendapat yang beraneka ragam dalam memaknai kata ‘sihir’ secara istilah. Sebagian ulama mengatakan bahwa sihir adalah benar-benar terjadi ‘riil’, dan memiliki hakikat. Artinya, sihir memiliki pengaruh yang benar-benar terjadi dan dirasakan oleh orang yang terkena sihir. Ibnul Qudamah rahimahullah mengatakan, “Sihir adalah jampi atau mantra yang memberikan pengaruh baik secara zhohir maupun batin, semisal membuat orang lain menjadi sakit, atau bahkan membunuhnya, memisahkan pasangan suami istri, atau membuat istri orang lain mencintai dirinya (pelet-pent)”.[4]

Namun ada ulama lain yang menjelaskan bahwa sihir hanyalah pengelabuan dan tipuan mata semata, tanpa ada hakikatnya. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakr Ar Rozi, “(Sihir) adalah segala sesuatu yang sebabnya samar dan bersifat mengalabui, tanpa adanya hakikat, dan terjadi sebagaimana muslihat dan tipu daya semata.”[5]

Sebenarnya Adakah Sihir Itu?

Sebagaimana yang disinggung di depan, bahwa terdapat persilangan pendapat tentang kebenaran hakikat sihir. ‘Apakah sihir hakiki?’, ‘Apakah orang yang terkena sihir, benar-benar merasakan pengaruhnya?’, ‘Atau kah sihir hanya sebatas tipuan mata dan tipu muslihat semata?’

Abu Abdillah Ar Rozi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan “Kelompok Mu’tazilah (kelompok sesat-pent) mengingkari adanya sihir dalam aqidah mereka. Bahkan mereka tidak segan-segan mengkafirkan orang yang meyakini kebenaran sihir. Adapun ahli sunnah wal jama’ah, meyakini bahwa mungkin saja ada orang yang bisa terbang di angkasa, bisa merubah manusia menjadi keledai, atau sebaliknya. Akan tetapi meskipun demikian ahli sunnah meyakini bahwa segala kejadian tersebut atas izin dan taqdir dari Allah ta’ala”. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan mereka itu (para tukang sihir) tidak akan memberikan bahaya kepada seorang pun melainkan dengan izin dari Allah” (QS. Al Baqarah : 102)

Al Qurthubi rahimahullahu mengatakan, “Menurut ahli sunnah wal jama’ah, sihir  itu memang ada dan memiliki hakikat, dan Allah Maha Menciptakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya, keyakinan yang demikian ini berbeda dengan keyakinan kelompok Mu’tazilah.”[6]

Inilah keyakinan yang benar, insya Allah. Banyak sekali kejadian, baik di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau pun masa-masa setelahnya yang menunjukkan secara kasat mata bahwa sihir memiliki hakikat dan pengaruh. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah disihir oleh Lubaid bin Al A’shom Al Yahudi hingga beliau jatuh sakit? Kemudian karenanya Allah ta’ala menurunkan surat al Falaq dan surat An Naas (al mu’awidaztain) sebagai obat bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[7] Hal ini sangat jelas menunjukkan bahwa sihir memiliki hakikat dan pengaruh terhadap orang yang terkena sihir.

Namun tidaklah dipungkiri, bahwa ada jenis-jenis sihir yang tidak memiliki hakikat, yaitu sihir yang hanya sebatas pengelabuan mata, tipu muslihat, “sulapan”, dan yang lainnya. Jenis-jenis sihir yang demikian inilah yang dimaksudkan oleh perkataan beberapa ulama yang mengatakan bahwa sihir tidaklah memiliki hakikat, Allahu A’laam.[8]

Hukum “Main-Main” dengan Sihir

Sihir termasuk dosa besar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah dari kalian tujuh perkara yang membinasakan!” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Apakah tujuh perkara tersebut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “[1]menyekutukan Allah, [2]sihir, [3]membunuh seorang yang Allah haramkan untuk dibunuh, kecuali dengan alasan yang dibenarkan syariat, [4]mengkonsumsi riba, [5]memakan harta anak yatim, [6]kabur ketika di medan perang, dan [7]menuduh perempuan baik-baik dengan tuduhan zina” (HR. Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah)

Kafirkah Tukang Sihir?

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Nabi Sulaiman tidaklah kafir, akan tetapi para syaitan lah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia” (Al Baqarah : 102)

Imam Adz Dzahabi rahimahullah berdalil dengan ayat di atas untuk menegaskan bahwa orang yang mempraktekkan ilmu sihir, maka dia telah kafir. Karena tidaklah para syaitan mengajarkan sihir kepada manusia melainkan dengan tujuan agar manusia menyekutukan Allah ta’ala.[9]

Syaikh As Sa’diy rahimahullah menjelaskan bahwa ilmu sihir dapat dikategorikan sebagai kesyirikan dari dua sisi.

[Pertama] orang yang mempraktekkan ilmu sihir adalah orang yang meminta bantuan kepada para syaitan dari kalangan jin untuk melancarkan aksinya, dan betapa banyak orang yang terikat kontrak perjanjian dengan para syaitan tersebut akhirnya menyandarkan hati kepada mereka, mencintai mereka, ber-taqarrub kepada mereka, atau bahkan sampai rela memenuhi keinginan-keinginan mereka.
[Kedua] orang yang mempelajari dan mempraktekkan ilmu sihir adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib. Dia telah berbuat kesyirikan kepada Allah dalam pengakuannya tersebut (syirik dalam rububiyah Allah), karena tidak ada yang mengetahui perkara ghaib melainkan hanya Allah ta’ala semata.[10]

Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah merinci bahwa orang yang mempraktekkan sihir, bisa jadi orang tersebut kafir, keluar dari Islam, dan bisa jadi orang tersebut tidak kafir meskipun dengan perbuatannya tersebut dia telah melakukan dosa besar.

[Pertama] Tukang sihir yang mempraktekkan sihir dengan memperkerjakan tentara-tentara syaitan, yang pada akhirnya orang tersebut bergantung kepada syaitan, ber-taqarrub kepada mereka atau bahkan sampai menyembah mereka. Maka yang demikian tidak diragukan tentang kafirnya perbuatan semacam ini.

[Kedua] Adapun orang yang mempraktekkan sihir tanpa bantuan syaitan, melainkan dengan obat-obatan berupa tanaman ataupun zat kimia, maka sihir yang semacam ini tidak dikategorikan sebagai kekafiran.[11]

Hukuman Bagi Tukang Sihir

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah suatu ketika, di akhir kekhalifahan beliau, mengirimkan surat kepada para gubernur, sebagaimana yang dikatakan oleh Bajalah bin ‘Abadah radhiyallahu ‘anhu, “Umar bin Khattab menulis surat (yang berbunyi): ‘Hendaklah kalian (para pemerintah gubernur) membunuh para tukang sihir, baik laki-laki ataupun perempuan’”.[12]

Dalam kisah Umar radhiyallahu ‘anhu di atas memberikan pelajaran bagi kita, bahwa hukuman bagi tukang sihir dan ‘antek-antek’-nya adalah hukuman mati. Terlebih lagi terdapat sebuah riwayat, meskipun riwayat tersebut diperselisihkan oleh para ulama tentang status ke-shahihan-nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang”[13]

Dalam kisah Umar di atas pun juga memberikan pelajaran penting bagi kita, bahwa menjadi kewajiban pemerintah tatkala melihat benih-benih kekufuran, hendaklah pemerintah menjadi barisan nomor satu dalam memerangi kekufuran tersebut dan memperingatkan masyarakat tentang bahayanya kekufuran tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Allahu A’laam.

Bolehkah Mengobati Sihir dengan Sihir?[14]

Inilah yang mungkin menjadi kerancuan di benak masyarakat, yang kemudian kerancuan ini menjadikan mereka membolehkan belajar sihir, karena alasan “keadaan darurat”. Terlebih lagi tatkala sihir yang digunakan untuk mengobati sihir terkadang terbukti manjur dan mujarab. Bukankah segala sesuatu yang haram pada saat keadaan darurat, akan menjadi mubah? Bukankah ketika di tengah hutan, tidak ada bahan makan, bangkai pun menjadi boleh kita makan?

Saudaraku, memang syariat membolehkan perkara yang haram tatkala keadaan darurat, sampai-sampai para ulama membuat sebuah kaidah fiqhiyah, “Keadaan yang darurat dapat merubah hukum larangan menjadi mubah”

Namun kita pelu cermati bahwa para ulama pun juga memberikan catatan kaki terhadap kaidah yang agung ini. Terdapat sedikitnya dua syarat yang harus dipenuhi untuk mengamalkan kaidah ini.

[Pertama] Tidak ada obat lain yang dapat menyembuhkan sihir, selain dengan sihir yang semisal. Pada kenyataannya tidaklah terpenuhi syarat pertama ini. Syariat telah memberikan obat dan jalan keluar yang lebih syar’i untuk menangkal dan mengobati gangguan sihir. Bukankah syari’at telah menjadikan Al Quran sebagai obat, lah ada dan teruqyah-ruqyah syar’i yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Kedua] Sihir yang digunakan harus terbukti secara pasti dapat menyembuhkan dan menghilangkan sihir. Dan setiap dari kita tidaklah ada yang dapat memastikan hal ini, karena semua hal tersebut adalah perkara yang ghaib. [15]

Maka dengan ini jelaslah bahwa mempelajari sihir, apapun alasannya adalah terlarang, bahkan diancam dengan kekufuran, Allah ta’ala telah tegaskan di dalam firmannya (yang artinya), ”Dan tukang sihir itu tidaklah menang, dari mana pun datangnya.” (QS. Ath Thaahaa: 69). Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Ayat ini mencakup umum, segala macam kemenangan dan keberuntungan akan ditiadakan dari para tukang sihir, terlebih lagi Allah tekankan dengan firman-Nya, ‘dari mana pun datangnya’. Dan secara umum, tidaklah Allah meniadakan kemenangan dari seseorang, melainkan dari orang kafir.”[16]

Washallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Ashahabihi wa sallam.

Penulis: Hanif Nur Fauzi

Artikel www.muslim.or.id

[1] Lihat Lisanul ‘Arab, Ibnul Mandzur, Asy Syamilah
[2] Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Cet. Dar Ibnul Jauzy, jilid 1, hal. 489.

[3] Dikutip dari Haqiqatus Sihri wa Hukmuhu fil Kitabi was Sunnah, Syaikh Dr. ‘Iwaad bin Abdillah Al Mu’tiq

[4] Al Kaafi fi Fiqh Al Imam Ahmad, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Asy Syamilah

[5] Dikutip dari Haqiqatus Sihri wa Hukmuhu fil Kitabi was Sunnah, Syaikh Dr. ‘Iwaad bin Abdillah Al Mu’tiq

[6] Dikutip dari Tafsir Ibnu Tafsir, Asy Syamilah

[7] Tafsir Ibnu Katsir, Asy Syamilah

[8] Lihat Haqiqatus Sihri wa Hukmuhu fil Kitabi was Sunnah, Syaikh Dr. ‘Iwaad bin Abdillah Al Mu’tiq

[9] Syarah Al Kabaair Lil Imam Adz Dzahabi, Ibnu ‘Utsaimin, Cet. Dar Al Kutub ‘Ilmiyah, hal. 20

[10] Al Qoulu As Sadiid, Syaikh Abdurrahman As Sa’diy, Cet. Dar Al Qobsi, hal. 182

[11] Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Cet. Dar Ibnul Jauzy, Jilid 1, hal. 490

[12] Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shohih.

[13] Hadits diriwayatkan oleh Tirmidzi, Hakim, dan lain-lain. Adz Dzahabi mengatakan bahwa hadits ini shahih ghorib sebagaimana ta’liq Adz Dzahabi dalam At Talkhish. Sedangkan Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah) sebagaimana disebutkan dalam Dho’iful Jaami’ no. 2699. (ed)

[14] Penjelasan tentang sub judul ini kami ringkaskan dari penjelasan Syaikh Abdul Aziiz bin Muhammad As Sa’iid, dalam artikel beliau berjudul “Hukmu Hilli Sihri ‘anil Mashuuri bi Sihri Mitslihi”, lihat  http://www.al-sunna.net/articles/file.php?id=112

[15] Lihat penjelasan tentang syarat kaidah ini dalam Mandzumah Ushul Fiqh, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 77

[16] Lihat Ad waa’ul Bayan, Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, Asy Syamilah

ShareTweet+ 1Mail
Related

Apakah Benar Pemimpin Kafir Yang Adil Lebih Baik Dari Pemimpin Muslim Yang Zalim?
Beberapa hari ini kami mendapat pertanyaan seputar perkataan yang dinisbatkan kepada Ibnu Taimiyah -rahimahullah- yang bunyinya, حاكم كافر عادل خير…


Tanda Ikhlas: Menganggap Sama Pujian dan Celaan
Di antara tanda ikhlas adalah menggap sama antara pujian dan celaan. Dengan adanya pujian tidak menjadikan dirinya bangga dan adanya…

Previous Post
Pemberitahuan Perubahan Jadwal Brifing BADAR
Next Post
Riya’ Penghapus Amal

Back to top
MobileDesktop
Copyright © Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari

Delivery to the following recipient failed permanently:

nryane99@gma

 

 

Sejak awal lahirnya tanah pertiwi nusantara ini, yang kemudian beralih nama menjadi “Indonesia” telah memiliki karakter yang bersumber dari alamnya sendiri. Karakter itu kemudian menjadi jati diri yang mewarnai, membentuk, dan mendisiplinkan serta menaungi setiap penduduk, dengan penuh keyakinan dan kegigihan yang kuat menanamkan dalam setiap sanubarinya hingga membias dalam setiap perkataan dan tingkah lakunya. Karakter jati diri tersebut kemudian menjadi warisan generasi berikutnya yang membawa “Indonesia” menjadi satu bangsa dan satu negara.
Warisan karakter jati diri bangsa Indonesia menjelma menjadi tatanan dasar dalam membangun negara ini menjadi falsafah bangsa. Berangkat dari falsafah inilah, masyarakat Indonesia bangkit meneguhkan keberadaannya di bumi pertiwi melawan segala bentuk kolonialisme dan diskriminasi dari para penjajah. Semangat dan keteguhan jiwa patriotisme yang melandasi langkah para founding father bangsa ini menjauhkan diri dari berbagai konflik ras, etis, suku, bahasa, dan agama tetapi menyatu dalam keanekaragaman menggapai kemerdekaan melalui prinsip hidup berbangsa dan bermegara, “bhinneka tunggal ika”.
Karakter jati diri bangsa Indonesia itu bersumber dari dalam dirinya sendiri yang bersemai dalam kejernihan “adat istiadat” yang membumi, diakui, diyakini, dipatuhi, dipraktekkan, dan diwariskan oleh setiap anak bangsa ini dari generasi ke generasi berikutnya tanpa batas waktu dan ruang serta menjauh dari berbagai intrik kepentingan sosial, politik, dan budaya. Adat istiadat berdiri teguh menjaga dan mengayomi masyarakatnya dengan kokohnya. Adat tumbuh dan berkembang ditegakkan dengan penuh unsur manusiawi tanpa memandang tahta, karena adat mendahulukan kepentingan masyarakat daripada pribadi dan golongan, sehingga melahirkan keadilan dan kepastian.
Ketaatan masyarakat pada komunitas adat istiadatnya itulah yang kemudian berubah menjadi hukum adat. Hukum adat teguh dengan begitu kokohnya, karena dibangun berdasarkan atas semangat jiwa spiritual yang tinggi. Yakni, bergabung dan bersenandungnya unsur keyakinan, kepatuhan, dan ketaatan pada Yang Maha Kuasa. Membangun hukum dengan landasan spiritual merupakan capaian tertinggi dalam merumuskan sebuah peraturan perundang-undangan, karena tidak semata berunsurkan kepentingan pemenuhan hak dan kewajiban warganegara apalagi kepentingan antar pribadi dan golongan, tetapi memiliki konsekuensi pertanggungjawaban.
Setelah negara Indonesia melepaskan diri dari tekanan dan intimidasi serta kungkungan penjajah melalui corong proklamasi kemerdekaan, disertai pengakuan dan pengukuhan kedaulatan Republik Indonesia dari se-antero negara di belahan dunia sebagai negara yang merdeka. Maka Indonesia mulai membuka diri dalam berbagai diplomasinya dengan negara-negara dunia, yang mau tidak mau harus berbaur dengan budaya lain.
Semangat membangun spiritualitas hukum inilah yang semakin kendur saat ini, karena lebih mengunggulkan unsur kepentingan dan intrik politik antara penguasa, politikus, pengusaha, dan penegak hukum. Sehingga untuk mencapai tujuan hukum hanya dalam bentuk serimonial drama saja.
Pertanyaan yang tiba-tiba menderai, membelenggu, serta merongrong jiwa dan pikiran saya adalah kultur hukum seperti apa yang hendak, sedang, dan telah dibangun di Indonesia? Karakter hukum Belanda sebagai bekas pejajah tanah air? Hukum agama yang sejak awal mewarnai berdirinya bangsa ini? Hukum adat yang sejak awal menjadi pondasi dan ciri khas karakter bangsa ini? Atau hukum berasaskan Pancasila yang diramu dari budaya, agama, dan politik Indonesia? Yang jelas, bukan kultur budaya hukum tirani (penindasan) penguasa/negara atas rakyatnya.
Hukum Indonesia saat ini berada dalam kegalauan, entah karena karakter pemimpinnya yang selama ini seakan tergantung pada kehendak politik yang tak menentu, atau karena ketakberanian mengambil resiko politik atas nama rakyat sehingga harus berdiam diri dalam gumulan kejahatan hukum. Lihat saja kasus Antasari – Nasaruddin Zulkarnain, benarkah atas nama keadilan hukum ataukah rekayasa politik? Susno Duadji – Polri, yang berani membongkar kedok kejahatan korupsi perpajakan, yang melibatkan intistusi Polri yang membesarkannya selama ini, tapi justru dia yang harus terjebak dalam bui? Belum lagi kejahatan kemanusiaan yang telah berlalu, misalnya kasus Munir yang tak kunjung dan tak mungkin lagi diungkap pelaku utamanya, karena rasionalnya, apa kepentingan seorang kopilot Garuda Airlines. Sebegitu jahatnya kah tindakan represif negara atas rakyatnya atau peristiwa demi peristiwa kejahatan kemanusiaan inilah yang harus diwariskan kepada pemimpin generasi berikutnya?
Di manakah pengamalan nilai-nilai sila Pancasila yang telah ditatarkan dan didiklatkan dari berbagai departemen bagi pejabat-pejabat negara ini? Konon, isinya mengutamakan sisi keagamaan, kemanusiaan, dan keadilan. Sementara para sarjana hukum dan praktisi hukum semakin meluber dari berbagai latar belakang institusi pendidikan hukum, baik dari dalam maupun luar negeri disertai pengetahuan dan pengalamannya. Entah???
Tulisan ini hanya mampu terurai lewat kumpulan huruf demi huruf hingga bermakna, semoga para pembacanya terutama para penguasa sadar dan semoga pembawa kebenaran ini diberi kekuatan yang dahsyat untuk bangkit dan jujur membongkar kejahatan dan kemunafikan selama ini. Amin.

 


 

Advertisements