KERAPAN SAPI IKON BUDAYA MADURA YANG MENDUNIA

suku madura

Gambar 1: Orang Madura yang berciri khas dengan gaya berkumis melintang dan senjata tradisionalnya

SALAM BUDAYA NUSANTARA
(Regards  Cultural Archipelago…)
Pembaca KCK yang budiman, kali ini saya akan mengunjungi Saudara kita yang berada di daerah Madura, yakni nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Provinsi Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.025km2 (lebih kecil daripada pulau Bali).
.
(“Madura” redirects here. For the southern Indian city, see Madurai. For the holy city in Northern India, see Mathura. For other uses, see Madura (disambiguation). Madura is an Indonesian island off the northeastern coast of Java. The island comprises an area of approximately 4,078.67 km² (administratively 5,025  km² including various smaller islands to the east and north). Madura is administered as part of the East Java province. It is separated from Java by the narrow Strait of Madura. The administered area has a density of 720.9 people per km², while the island itself (3,332,284 people in 2010 count) is higher at 817/km².)
 
Topografi madura ( Topography of Madura )
Topografi Peta Madura
 
.
Pulau Madura bentuknya seakan mirip badan Sapi, terdiri dari empat Kabupaten, yaitu : Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Madura, Pulau dengan sejarahnya yang panjang, tercermin dari budaya dan keseniannya dengan pengaruh islamnya yang kuat.Pulau Madura didiami oleh suku Madura yang merupakan salah satu etnis suku dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura banyak tinggal di bagian timur Jawa Timur biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo, Jember, jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa, juga termasuk Surabaya Utara ,serta sebagian Malang .Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan, masyarakat Madura juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja keras (abhantal omba’ asapo’ angen). Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan masyarakat Madura, mereka memiliki sebuah falsafah: katembheng pote mata, angok pote tolang. Sifat yang seperti inilah yang melahirkan tradisi carok pada sebagian masyarakat Madura.
.
Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura banyak tinggal di bagian timur Jawa Timur biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo, Jember, jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa, juga termasuk Surabaya Utara ,serta sebagian Malang .
Madura memiliki satu budaya yang cukup unik, sejenis balapan tapi menggunakan sapi sebagai “mobilnya”, namanya adalah Kerapan Sapi. Ini adalah sedikit ulasan dari saya mengenai kerapan sapi.
.
karpi3

Gambar 2: Persiapan menjelang perlombaan

 .
madura1

Gambar 3 : Peserta sedang mengikuti lomba Karapan Sapi

 Kerapan atau karapan sapi adalah satu istilah dalam bahasa Madura yang digunakan untuk menamakan suatu perlombaan pacuan sapi. Ada dua versi mengenai asal usul nama kerapan. Versi pertama mengatakan bahwa istilah “kerapan” berasal dari kata “kerap” atau “kirap” yang artinya “berangkat dan dilepas secara bersama-sama atau berbondong-bondong”. Sedangkan, versi yang lain menyebutkan bahwa kata “kerapan” berasal dari bahasa Arab “kirabah” yang berarti “persahabatan”. Namun lepas dari kedua versi itu, dalam pengertiannya yang umum saat ini, kerapan adalah suatu atraksi lomba pacuan khusus bagi binatang sapi. Sebagai catatan, di daerah Madura khususnya di Pulau Kangean terdapat lomba pacuan serupa yang menggunakan kerbau. Pacuan kerbau ini dinamakan mamajir dan bukan kerapan kerbau.
Asal usul kerapan sapi juga ada beberapa versi. Versi pertama mengatakan bahwa kerapan sapi telah ada sejak abad ke-14. Waktu itu kerapan sapi digunakan untuk menyebarkan agama Islam oleh seorang kyai yang bernama Pratanu. Versi yang lain lagi mengatakan bahwa kerapan sapi diciptakan oleh Adi Poday, yaitu anak Panembahan Wlingi yang berkuasa di daerah Sapudi pada abad ke-14. Adi Poday yang lama mengembara di Madura membawa pengalamannya di bidang pertanian ke Pulau Sapudi, sehingga pertanian di pulau itu menjadi maju. Salah satu teknik untuk mempercepat penggarapan lahan pertanian yang diajarkan oleh Adi Polay adalah dengan menggunakan sapi. Lama-kelamaan, karena banyaknya para petani yang menggunakan tenaga sapi untuk menggarap sawahnya secara bersamaan, maka timbullah niat mereka untuk saling berlomba dalam menyelesaikannya. Dan, akhirnya perlombaan untuk menggarap sawah itu menjadi semacam olahraga lomba adu cepat yang disebut kerapan sapi.
.
Macam-macam Kerapan Sapi:
Kerapan sapi yang menjadi ciri khas orang Madura ini sebenarnya terdiri dari beberapa macam, yaitu:
1. Kerap Keni (kerapan kecil)
Kerapan jenis ini pesertanya hanya diikuti oleh orang-orang yang berasal dari satu kecamatan atau kewedanaan saja. Dalam kategori ini jarak yang harus ditempuh hanya sepanjang 110 meter dan diikuti oleh sapi-sapi kecil yang belum terlatih. Sedangkan penentu kemenangannya, selain kecepatan, juga lurus atau tidaknya sapi ketika berlari. Bagi sapi-sapi yang dapat memenangkan perlombaan, dapat mengikuti kerapan yang lebih tinggi lagi yaitu kerap raja.
2. Kerap Raja (kerapan besar)
Perlombaan yang sering juga disebut kerap negara ini umumnya diadakan di ibukota kabupaten pada hari Minggu. Panjang lintasan balapnya sekitar 120 meter dan pesertanya adalah para juara kerap keni.
3. Kerap Onjangan (kerapan undangan)
Kerap onjangan adalah pacuan khusus yang para pesertanya adalah undangan dari suatu kabupaten yang menyelenggarakannya. Kerapan ini biasanya diadakan untuk memperingati hari-hari besar tertentu.
4. Kerap Karesidenen (kerapan tingkat keresidenan)
Kerapan ini adalah kerapan besar yang diikuti oleh juara-juara kerap dari empat kabupaten di Madura. Kerap karesidenan diadakan di Kota Pamekasan pada hari Minggu, yang merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim kerapan.
5. Kerap jar-jaran (kerapan latihan)
Kerapan jar-jaran adalah kerapan yang dilakukan hanya untuk melatih sapi-sapi pacuan sebelum diturunkan pada perlombaan yang sebenarnya.
.
Sapi yang terpilih dalam Karapan Sapi
Sapi yang digunakan dalam Karapan Sapi adalah Sapi Pejantan yang biasa disebut Sapi Karapan. Tidak semua Sapi Jantan terpilih menjadi Sapi Karapan, karena hanya sapi jantan terbaiklah yang dapat dijadikan Sapi Karapan.
.
Menurut para ahli Sapi Karapan, Sapi Karapan yang baik memiliki kriteria sebagai berikut:
• Sapi Karapan harus berwatak keras, hal ini dapat dilihat pada bagian Sopet (Bagian antara mulut dan hidung) yang harus berbentuk huruf “V”.
• Memiliki dada yang lebar, tegap dan sedikit miring.
• Memiliki Punuk yang tinggi, hal ini nantinya untuk memudahkan dalam pemasangan pengonong, yaitu alat untuk menggandengsapi kanan dan sapi kiri yang terbuat dari kayu atau tonga’ (Tonggak Bambu).
• Memiliki Kaki dengan lekukan yang lurus tapi sedikit miring, hal ini nantinya sangat menentukan cepat tidaknya sapi tersebut.
• Memiliki Kokot kaki dengan belahan yang rapat, karena bila agak renggang, kaki sapi tersebut dianggap lemah.
• Memiliki leher yang sedikit panjang, hal ini berguna agar setelah diberi pangonong tetap leluasa dalam bergerak sehingga tidak mengganggu gerakan lari sapi.
• Memiliki hidung yang agak halus tidak terlihat kasar.
• Memiliki ekor yang terjurai menutup anus.
• Memiliki lidah yang tidak berbelang putih, karena jika sapi memiliki lidah berbelang putih sapi tersebut dianggap memiliki isyarat buruk.
.
Perawatan sapi yang terpilih dalam Karapan Sapi
Sapi yang akan diikutkan dalam Karapan Sapi memiliki perawatan khusus dan tidak sedikit biaya yang dikeluarkan hanya untuk merawat Sapi yang diikutkan dalam Karapan Sapi. Seorang pemilik sapi karapan sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan sapinya. Mereka selalu memberikan sapi mereka jamu yang diracik secara tradisional yang biasa diracik dengan bahan-bahan seperti akar sere (sirih), campuran gula aren, telur dan kelapa dengan perbandingan untuk sebutir kelapa dicampur dengan sepuluh butir telur. Perawat lebih ditinggaktkan ketika menjelang Karapan Sapi, jamu yang diberikan menjadi berlipat-lipat dengan Air Soda, spiritus, paran dan bahan lainnya menjadi campuran utama, yang tadinya hanya sepuluh butir telur bisa menjadi seratus butir telur. Hal ini ditujukan agar sapi yang terpilih memiliki stamina yang cukup sehingga dapat berlari dengan cepat.
.
Dalam rangka apa perlombaan Karapan Sapi diadakan?
Kebanyakan dari sahabat mungkin sudah banyak yang tahu, bahwasanya perlombaan Karapan Sapi ini selalu diadakan di setiap tahun. Pernyataan ini memang benar adanya, perlombaan Karapan Sapi di setiap tahunnya memang menjadi fokus utama pemerintahan di Madura, namun bukan berarti kita sebagai rakyat tidak dapat mengadakan perlombaan yang serupa, kita sebagai rakyat juga bisa membuat suatu perlombaan Karapan Sapi hanya saja hal seperti ini jarang terjadi. Karapan Sapi juga bisa diadakan hanya karena hal tertentu, seperti misalnya karena Hajatan seseorang atau karena untuk menyambut para turis yang datang ke Madura.
Beberapa kota di Madura menyelenggarakan Karapan Sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.
.
Siapa-siapa yang terlibat dalam Permainan kerapan Sapi ?
Pihak-pihak yang Terlibat dalam Permainan Kerapan Sapi adalah salah satu jenis permainan rakyat yang banyak melibatkan berbagai pihak, yang diantaranya adalah: (1) pemilik sapi pacuan; (2) tukang tongko (orang yang bertugas mengendalikan sapi pacuan di atas kaleles); (3) tukang tambeng (orang yang menahan tali kekang sapi sebelum dilepas); (4) tukang gettak (orang yang menggertak sapi agar pada saat diberi aba-aba dapat melesat dengan cepat); (5) tukang tonja (orang yang bertugas menarik dan menuntun sapi); dan (6) tukang gubra (anggora rombongan yang bertugas bersorak-sorak untuk memberi semangat pada sapi pacuan).
.
Jalannya Permainan

Sebelum kerapan dimulai semua sapi-kerap diarak memasuki lapangan. Kesempatan ini selain digunakan untuk melemaskan otot-otot sapi, juga merupakan arena pamer keindahan pakaian dan hiasan dari sapi-sapi yang akan dilombakan. Setelah parade selesai, pakaian dan seluruh hiasan itu mulai dibuka. Hanya pakaian yang tidak mengganggu gerak tubuh sapi saja yang masih dibiarkan melekat.

Setelah itu, dimulailah lomba pertama untuk menentukan klasemen peserta. Seperti dalam permainan sepak bola, dalam babak ini para peserta akan mengatur strategi untuk dapat memasukkan sapi-sapi pacuannya ke dalam kelompok “papan atas” agar pada babak selanjutnya (penyisihan), dapat berlomba dengan sapi pacuan dari kelompok “papan bawah”.
Selanjutnya adalah babak penyisihan pertama, kedua, ketiga dan keempat atau babak final. Dalam babak penyisihan ini, permainan memakai sistem gugur. Dengan perkataan lain, sapi-sapi pacuan yang sudah dinyatakan kalah, tidak berhak lagi ikut dalam pertandingan babak selanjutnya. Sedangkan, bagi sapi pacuan yang dinyatakan sebagai pemenang, nantinya akan berhadapan lagi dengan pemenang dari pertandingan lainnya. Begitu seterusnya hingga tinggal satu pemain terakhir yang selalu menang dan menjadi juaranya.
.

Nilai Budaya yang terkandung dalam Perlombaan Kerapan Sapi

Nilai budaya Permainan kerapan sapi jika dicermati secara mendalam mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai itu adalah: kerja keras, kerja sama, persaingan, ketertiban dan sportivitas.

  • Nilai kerja keras tercermin dalam proses pelatihan sapi, sehingga menjadi seekor sapi pacuan yang mengagumkan (kuat dan tangkas). Untuk menjadikan seekor sapi seperti itu tentunya diperlukan kesabaran, ketekunan dan kerja keras. Tanpa itu mustahil seekor sapi aduan dapat menunjukkan kehebatannya di arena kerapan sapi.
  • Nilai kerja sama tercermin dalam proses permainan itu sendiri. Permainan kerapan sapi, sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, adalah suatu kegiatan yang melibatkan berbagai pihak. Pihak-pihak itu satu dengan lainnya saling membutuhkan. Untuk itu, diperlukan kerja sama sesuai dengan kedudukan dan peranan masing-masing. Tanpa itu mustahil permainan kerapan sapi dapat terselenggara dengan baik.
  • Nilai persaingan tercermin dalam arena kerapan sapi. Persaingan menurut Koentjaraningrat (2003: 187) adalah usaha-usaha yang bertujuan untuk melebihi usaha orang lain dalam masyarakat. Dalam konteks ini para peserta permainan kerapan sapi berusaha sedemikian rupa agar sapi aduannya dapat berlari cepat dan mengalahkan sapi pacuan lawan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, masing-masing berusaha agar sapinya dapat melakukan hal itu sebaik-baiknya. Jadi, antarpeserta bersaing dalam hal ini.
  • Nilai ketertiban tercermin dalam proses permainan kerapan sapi itu sendiri. Permainan apa saja, termasuk kerapan sapi, ketertiban selalu diperlukan. Ketertiban ini tidak hanya ditunjukkan oleh para peserta, tetapi juga penonton yang mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat. Dengan sabar para peserta menunggu giliran sapi-sapi pacuannya untuk diperlagakan. Sementara, penonton juga mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Mereka tidak membuat keonaran atau perbuatan-perbuatan yang pada gilirannya dapat mengganggu atau menggagalkan jalannya permainan.
  • Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.

Demikian ulasan saya mengenai Kerapan Sapi di Daerah Madura, semoga bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan bagi Pembaca KCK.

= Ryana=

Advertisements