ILMU AHLI DALAM PENYAMARAN

BELAJAR  MENJADI SEORANG DETEKTIF

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Helloo,,Mas Bro and Mba Sis, gimana kabarnya nih ?? Ho..ho..ho..:D Very nice to meet you in KAMPOENG CELOTEH KITA !  okay..kali ini kita akan membahas apa dan bagaimana siih caranya menjadi seorang Detektif ? Terinspirasi dari Pakar Detektif kita yakni : Mr. Sherlock Holmes and Tuan Conan ( Detektif Conan from Japan ) membuat saya ingin berbagi ilmu pengetahuan saya bagaimana sih menjadi seorang Detektif ? Well…well..well,, Common Everybody ..Yuk kita simak. Monggo….

Menjadi detektif, atau lebih tepatnya, mempelajari keahlian detektif, bisa dilakukan siapa saja, tanpa mengenal usia. Ilmu atau keahlian detektif ini bahkan akan sangat bermanfaat, untuk membantu pekerjaan kita. Pekerjaan sebagai pengacara, auditor, atau wartawan! Bahkan bisa juga mengorek keterangan orang lain tanpa orang itu menyadarinya.

Pekerjaan Detektif bukan cuma mencari-cari kesalahan orang , tapi Detektif itu sangat keren dan Perlu Pengetahuan yang luas untuk bisa Menjadi Detektif. Mengenai Ilmu-ilmu yang digunakan diantaranya:

  • Ilmu Umum

Bagian dari pekerjaan menjadi detektif adalah pengujian ide-ide, yang merupakan premis ilmu pengetahuan. Hal ini dapat menyebabkan berbagai hasil dan analisis yang didasarkan pada kasus ini, diikuti oleh lebih banyak untuk mengeksplorasi, sebaiknya diikuti dengan penemuan. Singkatnya, program studi ilmu pengetahuan mulai didasarkan pada konsep pengumpulan data dan kemudian menginterpretasikannya. Hal yang sama berlaku untuk pekerjaan detektif.

  • Ilmu Masyarakat

Sangat penting bagi detektif untuk memahami berbagai tingkat masyarakat dan budaya beragam, hanya karena ini adalah dua cara orang-orang dan kasus mereka sedang menyelidiki dipengaruhi dan dibentuk – oleh orang-orang di sekitar mereka. Sosiologi bukan persyaratan untuk pekerjaan polisi, tapi bisa membuktikan menjadi berguna ketika detektif dimulai penelitiannya.

  • Ilmu Pikiran

Entry-level psikologi adalah tempat yang baik untuk memulai untuk detektif pemula, sebagai pekerjaan terdiri dari berurusan dengan orang-orang untuk menemukan informasi. Mampu memahami jiwa seseorang – terlepas dari apakah ia adalah pelaku – memungkinkan detektif untuk membaca orang dan mendapatkan petunjuk dalam perjalanan mereka untuk memecahkan kejahatan. Psikologi program juga berharga ketika datang ke kebiasaan belajar dan tren.

  • Ilmu Tubuh

Untuk memecahkan suatu kejahatan, itu akan membantu untuk dapat menentukan penyebab kematian atau cedera harus mereka terjadi. Sementara detektif tidak perlu menjadi ahli dalam kedokteran, kursus dalam ilmu dasar dan anatomi akan membantu mereka memiliki pemahaman yang lebih baik dari aspek fisik dari kasus di mana mereka bekerja. Mempelajari daerah ini akan sangat penting bagi seseorang yang ingin menjadi seorang detektif pembunuhan.

  • Lanjutan Ilmu

Detektif tidak perlu menjadi sangat berpengalaman dalam bidang luar kriminologi (ilmu-kursus lain yang terkait), namun harus memiliki pemahaman dasar tentang banyak daerah. Sebuah kursus di ilmu terapan akan menjadi instrumental dalam membantu detektif bercita-cita belajar bagaimana menerapkan pengetahuan dalam satu bidang untuk memecahkan kasus yang melibatkan bidang lain. Terapan ilmu ini sangat berguna ketika datang untuk belajar dasar-dasar penelitian – sesuatu setiap kebutuhan detektif sukses.

Keahlian detektif seseorang, akan semakina meningkat seiring pengalaman memecahkan persoalan. Teknologinya pun semakin baik, dan setiap orang yang memiliki minat kuat dalam masalah detektif, akan terus mencari teknik-teknik baru, metode baru, yang lebih baik dan cepat.

Keahlian detektif, misalnya, meliputi:

  • Kemampuan daya ingat, meskipun dengan pandangan sekilas. Ini antara lain berguna ketika kita menemui kasus tabrak lari, dan nomor polisi kendaraan menjadi fakta penting. Selain itu juga disertai kemampuan memanggil kembali ingatan yang lama;
  • Kejelian dan cermat terhadap hal-hal detil. Sherlock Holmes adalah ‘pakar’ dalam detil dan kecermatan—dengan catatan, jika Holmes itu sosok yang nyata. (Tetapi saya meyakini Holmes itu nyata!). Dalam setiap memecahkan masalah, Sherlock Holmes selalu melakukan observasi—pengamatan langsung di lapangan. Contoh lain, dalam kasus Saksi Bisu, Hercule Poirot pernah hampir buntu menghadapi kasusnya. Baru setelah ia mereview kembali, dan mengingat detilnya, ia berhasil menemukan pelaku pembunuhan. Bagi yang ingin tahu apa detilnya, silakan baca bukunya. Kata kuncinya adalah anjing dan bola.
  • Kemampuan meng-interogasi. Semakin tinggi kemampuan interogasi yang dimiliki seseorang, ia akan mudah mengorek fakta, ‘fakta’ palsu, atau keterangan dari seseorang—tanpa orang itu menyadarinya. Kemampuan ini juga beriringan dengan keahlian menggunakan teknik pembuktian terbalik dalam menginterogasi seseorang. “Pandai-pandailah memancing pertanyaan dengan fakta yang salah, maka ia akan memberikan fakta sebenarnya”. Memang tidak selalu berhasil, tetapi bisa dicoba.
  • Kemampuan bernegosiasi. Ini masih berkaitan dengan kemampuan meng-interogasi. Kemampuan bernegosiasi sangat penting, dalam praktik-prakti di lapangan, dimana dibutuhkan keberanian menembus kebekuan seseorang, menghadapi orang keras kepala, dan sebagainya.
  • Pengetahuan terhadap hukum perundang-undangan yang berlaku.
  • Kemampuan menganalisa. Ini penting untuk menguji kebenaran fakta—baik fakta benda atau fakta lisan. Detektif yang baik tidak pernah berangkat dari titik motif; selalu harus dari fakta-fakta. Sherlock Holmes mengajari kita bagaimana metode ilmiah (scientific method, metode eliminasi atau eksklusi, mempersempit pencarian, dan mempermudah memecahkan masalah. Memang membingungkan, apakah Holmes itu ‘ilmuwan yang nyasar jadi detektif’, ataukah ‘detektif dengan sambilan ilmuwan’? Dalam suatu kisahnya, Holmes menulis artikel tentang tanaman atau obat-obatan di sebuah jurnal. Dengan pikiran yang sangat logis, Holmes bisa disebut seorang matematikawan. Dengan percobaan-percobaannya di laboratorium, Holmes juga bisa disebut fisikawan atau kimiawan. Ada penemuannya yang dipakai kepolisian Scotland Yard.
  • Metode eliminasi atau eksklusi, maksudnya dengan menyingkirkan hal-hal yang sudah pasti mustahil—setelah diuji dengan fakta dan observasi. Hercule Poiro mengajari kita bagaimana memecahkan masalah dengan metode kesimpulan deduksi. Untuk meningkatkan kemampuan analisa, ada banyak hal yang harus dipelajari—tidak hanya metode deduksi, induksi, atau kombinasi keduanya. Ada pula metode analisa yang diperkenalkan Rene Descartes, yang dikenal dengan Analisa Cartesian, dan sebagainya. Anda bisa mempelajarinya dari internet atau buku-buku yang ada.
  • Kemampuan penting lainnya, diantaranya teknik penyamaran, teknik mengikuti/membuntuti seseorang, teknik melacak/tracking, maupun pengetahuan forensik sederhana dalam kasus kriminal. Contoh pengetahuan forensik sederhana; seseorang yang ditemukan meninggal dengan leher membiru, dipastikan meninggal kehabisan nafas.

Type Detective :

1. Fact-based Detective
detektif yang bekerja berdasarkan fakta dan bukti yang ada dengan menggunakan metode yang sistematis, tidak terpengaruh oleh perasaan-perasaan atau pendapat-pendapat yang berhubungan dengan emosi. tekhnik ini bisa diterapkan pada kasus apa saja tidak terkecuali.

Kelebihan:
= Cenderung cepat mengumpulkan informasi

Kekurangan:
= Terlambat sedikit saja, bukti hilang

Fictional Version : Sherlock Holmes, Nero Wolfie

2. Psychological Detective
detektif yang bekerja berdasarkan cerita atau kejiwaan orang yang terlibat kasus tersebut, bukti dan fakta hanya sebagai pelengkap untuk menentukan kebenaran dari kesimpulan yang didapat dari cerita / tanda2 kejiwaan, (walaupun, secara psycho – kejiwaan – orang tersebut adalah pelaku, tanpa bukti pun tak bisa mengakibatkan orang tersebut mendekam di sel).

Kelebihan:
= Dapat mengungkap kasus2 yang terpendam di masa lalu, karena berdasarkan ingatan.

Kekurangan:
= Terkadang kesimpulan dari kejiwaan tersebut tidak didampingi barang bukti yang mendukung.

Fictional Version : Hercule Poirot, Dr. Laszlo Kreizler

3. Mixed Detective
detektif yang menggunakan 2 metode di atas secara seimbang.

Kelebihan:
= Proporsional

Kekurangan:
= Kalau kurang teliti, dapat mencampuraduk kedua metode di atas.

4. Non categorized
detektif yang kerjaanya cuma sebagai ‘pencari info’, dikategorikan sebagai yang satu ini.
biasanya pekerjaannya:
1. Mengecek kehidupan seseorang
2. Melacak sesuatu.

Cara bekerja seorang detective:
1. Independen = bekerja sendiri secara pribadi
2. Bersama Instansi Hukum = bekerja disewa / beriringan dengan lembaga yg berwajib

Peralatan yang minimal harus di bawa / dimiliki seorang detective:

Type Fact-Based:
1. Catatan & Pensil / Pena
2. Tas peralatan yang kurang lebih berisi hal sbb:
– sarung tangan karet
– pinset
– kaca pembesar
– pita pengukur
– plastik kecil (untuk mengamankan barang bukti, bila anda bekerja independen)
– pendeteksi sidik jari (optional, gak harus, karena bisa dilakukan pihak berwajib)

Type Psychological:
1. Catatan & Pensil / Pena
2. Recorder, untuk merekam cerita

Mixed:
semua barang yg dicantumkan di atas.

Tips & What to do in an Interview:

– Usahakan buat client senyaman mungkin sehingga dia bisa percaya sepenuhnya sama kita.
– Bila dia sudah percaya kita, dia pasti akan menghadapi kita layaknya teman bukan sebagai detektif.
– kepercayaan client awal dari bicara jujurnya client.
– Tanyakan hal-hal yang penting & mendetail.
– bila kita kehilangan 1 detail, bisa menjadi kesalahan pada deduksi / imajinasi.

[b]Hal2 minimal yang harus dimiliki seorang detektif:[/b]
1. Membaca situasi
2. Membaca bahasa tubuh
3. Mengidentifikasikan beberapa jenis benda dengan pengamatan sebentar
4. Konsentrasi yang tinggi & baik & sehat
5. Bisa dipercaya
6. Bisa mengingat detail (ini bisa dibantu dengan catatan)
7. Mengidentifikasi kode (code breaking, solving)

Point-point penting dalam kasus pembunuhan

  • Mencari senjata yang digunakan pelaku….
  • Mencek alibi tiap-tiap orang yang berkaitan, >>> si pelaku memakai panggung belakang supaya tak ada kesempatan dirinya dinyatakan sebagai pembunuh, biasanya orang yang alibinya paling lemah, atau tak punya alibilah pelakunya, tapi hati-hati terhadap skenario pelaku yang kadang justru menjebak orang lain….
  • Memeriksa tempat kejadian, periksa dengan seksama seluruh tkp, meskipun terhadap hal yang dianggap orang tak penting, dan jangan lupa memeriksa tempat sampah yang berada pada jangkauan tkp….
  •  Melacak ciri-ciri pelaku, hati-hati terhadap penyamaran identitas pelaku, contoh : mungkin saja pelaku membuat dirinya seolah-olah laki-laki padahal dia perempuan (menggaraukan suara di telpon misalnya)…
  • Melacak kiriman sms atau short message system yang bertujuan untuk menipu seseorang, untuk menyesatkan seseorang, baik melalui telepon genggam, hipnotis, dsb. contoh : penipuan melalui sms yang berbau kiriman/transfer  uang ke Rekening Si A atau si B yang tanpa sebelumnya korban tidak merasa berjanji atau sebelumnya bikin perjanjian jual beli atau berjanji akan mengirimkan/transfer uangnya tanpa adanya perjanjian kerjasama/order barang/menyuruh invite ke no Pin Si A atau Si B / Seseorang  tanpa kita kenal terlebih dahulu siapa orangnya.

Bukti…..
Bukti adalah saksi bisu. Demikianlah yang diyakini oleh para penyelidik. Oleh karena itu, bukti harus diperlakukan secara hati-hati. Begitu bukti hilang atau rusak, kasusnya bisa berantakan. Tanpa bukti, tidak ada pelaku kriminal yang bisa diajukan ke pengadilan. Ilmu tentang pelacakan bukti sudah dikembangkan sejak tahun 1880, disederhanakan pada tahun 1900, dan terus disempurnakan lewat komputerisasi serta penelitian DNA. Siapa bisa membungkam saksi bisu?
Keahlian detektif seseorang, akan semakin meningkat seiring pengalaman memecahkan persoalan. Teknologinya pun semakin baik, dan setiap orang yang memiliki minat kuat dalam masalah detektif, akan terus mencari teknik-teknik baru, metode baru, yang lebih baik dan cepat.

Keahlian detektif, misalnya, meliputi:

  • Kemampuan daya ingat, meskipun dengan pandangan sekilas. Ini antara lain berguna ketika kita menemui kasus tabrak lari, dan nomor polisi kendaraan menjadi fakta penting. Selain itu juga disertai kemampuan memanggil kembali ingatan yang lama;
  • Kejelian dan cermat terhadap hal-hal detil. Sherlock Holmes adalah ‘pakar’ dalam detil dan kecermatan—-dengan catatan, jika Holmes itu sosok yang nyata. (Tetapi saya meyakini Holmes itu nyata!). Dalam setiap memecahkan masalah, Sherlock Holmes selalu melakukan observasi—-pengamatan langsung di lapangan. Contoh lain, dalam kasus Saksi Bisu, Hercule Poirot pernah hampir buntu menghadapi kasusnya. Baru setelah ia mereview kembali, dan mengingat detilnya, ia berhasil menemukan pelaku pembunuhan. Bagi yang ingin tahu apa detilnya, silakan baca bukunya. Kata kuncinya adalah anjing dan bola.
  • Kemampuan meng-interogasi. Semakin tinggi kemampuan interogasi yang dimiliki seseorang, ia akan mudah mengorek fakta, ‘fakta’ palsu, atau keterangan dari seseorang—-tanpa orang itu menyadarinya. Kemampuan ini juga beriringan dengan keahlian menggunakan teknik pembuktian terbalik dalam menginterogasi seseorang. “Pandai-pandailah memancing pertanyaan dengan fakta yang salah, maka ia akan memberikan fakta sebenarnya”. Memang tidak selalu berhasil, tetapi bisa dicoba.
  •  Kemampuan bernegosiasi. Ini masih berkaitan dengan kemampuan meng-interogasi. Kemampuan bernegosiasi sangat penting, dalam praktik-prakti di lapangan, dimana dibutuhkan keberanian menembus kebekuan seseorang, menghadapi orang keras kepala, dan sebagainya.
  • Pengetahuan terhadap hukum perundang-undangan yang berlaku.
  •  Kemampuan menganalisa. Ini penting untuk menguji kebenaran fakta—-baik fakta benda atau fakta lisan. Detektif yang baik tidak pernah berangkat dari titik motif; selalu harus dari fakta-fakta. Sherlock Holmes mengajari kita bagaimana metode ilmiah (scientific method, metode eliminasi atau eksklusi, mempersempit pencarian, dan mempermudah memecahkan masalah. Memang membingungkan, apakah Holmes itu ‘ilmuwan yang nyasar jadi detektif’, ataukah ‘detektif dengan sambilan ilmuwan’? Dalam suatu kisahnya, Holmes menulis artikel tentang tanaman atau obat-obatan di sebuah jurnal. Dengan pikiran yang sangat logis, Holmes bisa disebut seorang matematikawan. Dengan percobaan-percobaannya di laboratorium, Holmes juga bisa disebut fisikawan atau kimiawan. Ada penemuannya yang dipakai kepolisian Scotland Yard.
  • Metode eliminasi atau eksklusi, maksudnya dengan menyingkirkan hal-hal yang sudah pasti mustahil—-setelah diuji dengan fakta dan observasi. Hercule Poiro mengajari kita bagaimana memecahkan masalah dengan metode kesimpulan deduksi. Untuk meningkatkan kemampuan analisa, ada banyak hal yang harus dipelajari—-tidak hanya metode deduksi, induksi, atau kombinasi keduanya. Ada pula metode analisa yang diperkenalkan Rene Descartes, yang dikenal dengan Analisa Cartesian, dan sebagainya. Anda bisa mempelajarinya dari internet atau buku-buku yang ada.
  • Kemampuan penting lainnya, diantaranya teknik penyamaran, teknik mengikuti/membuntuti seseorang, teknik melacak/tracking, maupun pengetahuan forensik sederhana dalam kasus kriminal. Contoh pengetahuan forensik sederhana; seseorang yang ditemukan meninggal dengan leher membiru, dipastikan meninggal kehabisan nafas.

Semoga bisa dijadikan Pedoman..Guys..

Wassalam,
Ryana