ETIKA PERANG

A.Pengertian Perang Dalam Islam

Perang dalam bahasa Arab disebut qital (membunuh), gozhwah (peperangan yang dipimpin oleh panglima perang secara langsung), harb (perlawanan secara fisik). Sedangkan secara Istilah, menurut Clauzzewits dalam diktumnya menyatakan bahwa perang adalah politik yang dilanjutkan dengan cara lain.
2. Dalam Islam perang diartikan sebagai qitalu al kuffari fisabilillahi li i’lai kalimatillah,yaitu ”memerangi orang-orang kafir dijalan Allah dalam rangka meninggikan kalimat Allah”.
3. Berdasarkan istilah syar’iitulah, perang memiliki makna yang spesifik yang berbeda dengan makna bahasanya. Jadi perang adalah mengangkat senjata untuk melawan atau memerangi orang-orang kafir dalam rangka membela kehormatan islam dan kaum Muslimin Dengan kalimat lain, perang haruslah dilakukan semata-matadengan niat untuk menegakkan kedaulatan islam, bukan untuk hal yang lain,seperti berniat menguasai negara lain, kemudian merampas semua yang bukan menjadi haknya, atau untuk mendapatkan kedudukan, pujian dan lain sebagainya. Dari sini menunjukkan bahwa, perang diperbolehkan untuk melawan dengan fisik dan mengangkat senjata bila terjadi sebuah kekuatan luar yang mengganggu teritorial anggota-anggota komunitas teritorial Muslim atau
teritorial yang disepakati kaum muslim sebagai negeri perjanjian dengan komunitas lain. Jadi disini perang mengangkat senjata adalah untuk mempertahankan teritorial.

.
B.Pengertian Etika Perang

Kebanyakan pembenaran untuk perang dimulai dengan suatu acuan tentang prinsip membela diri. Seseorang secara moral di benarkan untuk mempertahankan diri dari serangan sehinga dipertimbangkan bahwa negara dibenarkan mempertahankan dirinya dari serangan dengan penggunaan kekuatan yang kejam. Jalan lain seringkali dibuat untuk prinsip yang lain pula yaitu bahwa kita semua diminta untuk membantu orang-orang tidak bersalah yang menderita. Seperti pada kasus membela diri, seringkali perlu digunakan kekerasan untuk menghalangi serangan pada orang yang tak berdosa. Akhirnya banyak orang yang percaya bahwa dibenarkan untuk mengunakan kekuatan untuk mencegah kejahatan yang lebih besar dari pada pengunaan kekerasan.Perang yang adil perang yang secara moral baik – bukan saja perang perang yang ditentukan dengan prinsip-prinsip keadilan.

Perang yang adil adalah perang yang dapat dibenarkan secara moral setelah keadilan, hak asasi,kebaikan umum, dan semua konsep yang relevan lainnya telah dikonsultasikan dan dipertimbangkan terhadap fakta-fakta dan terhadap satu sama lain.

.
C.Basis Etika Perang dalam Islam

Kenapa manusia menggandrungi perang? Al-Qur’an memberikan jawaban terbuka dalam banyak ayat yang diturunkan dalam berbagai kurunwaktu, dan bisa dirangkum sebagai basis etika dalam menegakkan kedamaiandan menghentikan peperangan.

1. Pertama

fitrah dasar manusia adalah keadaan tidak bersalah secara moral (moral innocence), yakni bebas daridosa. Dengan kata lain, Islam tidakmengenal istilah “dosa bawaan”. Lebih dari itu, setiap individu dilahirkandengan pengetahuan tentang ketentuanTuhan, yaitu aspek paling esensial mengenai perilaku yang benar. Namun, kesadaran moral ini dapat terkikis dan mengalami erosi, karena setiap individu berhadapan dengan pengaruh-pengaruh buruk dan merusak dari lingkungan masyarakatnya di dalam surat “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplahatas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar-Rum: 30).

.
2. Kedua

watak manusia adalah untuk hidup di atas bumi dalam keadaan harmonis dan damai dengan makhluk hidup lain. Inilah makna teragung. tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada manusia sebagai khalifah diatas bumi“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata:”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?

” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Akumengetahui apa yang tidak kamuketahui.”(QS. Al-Baqarah: 30).
Karenanya, kedamaian yang sejati (salam) bukan sekadar berarti tidak adanya perang, tapi eliminasi faktor-faktor yang mendasari terjadinya percekcokan atau konflik, dan pada akhirnya akan menyebabkan kesia-siaan dan kerusakan (fasad). Perdamaian, bukan perang atau kekerasan, merupakan tujuan sejati Tuhan untuk kemanusiaan dalam surat Al-Baqoroh ayat 208.

= Ryana=