AL-QURAN BERSAMPUL GAMBAR TOKOH CALEG

Email dari saudara Setiyono…..@ gmail.com

Assalamualaikum Mba Ryana,,

Pertanyaan :

1. Ada caleg yang membagi-bagi al-Quran. Tapi di sampul al-Quran itu ada foto calegnya. Dia memang seorang muslim. Yg aku tanyakan, bgmn hukum semacam ini?
2. minta tlg dijelaskan tentang memberi shodaqoh kpda keluarga yg berbeda agama mba… mohon bimbingannya,
3. Salam buat Nyai Srikandi Sedjati

Nuwun.

Setiyono,

Jawaban:

Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh..

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Bpk. Setiyono yang dirahmati Allah..
1. Dalam islam, kita dianjurkan untuk saling memberi hadiah. Karena ini akan menghilangkan kebencian terhadap sesama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

تَهَادَوْا فَإِنَّ الهَدِيَّةَ تُذْهِبُ وَحَرَ الصَّدْرِ، وَلَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ شِقَّ فِرْسِنِ شَاةٍ

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah, karena hadiah dapat menghilangkan kebencian yang ada dalam dada. Janganlah seorang wanita meremehkan arti suatu hadiah yang ia berikan kepada tetangganya, walau hanya berupa kikil (kaki) kambing.” (HR. Turmudzi 2130).

Hadis ini menggambarkan fungsi hadiah yang diajarkan dalam Islam. Bahwa anjuran saling memberi hadiah itu bertujuan mempererat hubungan kasih sayang dan mengikis segala bentuk jurang pemisah antara duapemberi dan penerima hadiah.

Dengan mencermati hadis di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep memberi hadiah yang diajarkan dalam islam, benar-benar karena latar belakang sosial, tanpa ada kepentingan komersial sedikitpun. Makna inilah yang secara tegas dinyatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya tentang fungsi hadiah yang benar-benar hadiah,

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Hendaknya kalian saling bertukar hadiah agar kalian saling mencintai.” (Bukhari dalam kitab Adab Mufrad, no. 463)

Memahami hal ini, kita akan menemukan banyak kejanggalan dari hadiah yang diberikan para caleg. Karena latar belakang mereka memberikan hadiah, bukan dalam mewujudkan kasih sayang, namun karena ada kepentingan. Terbukti, mereka hanya memberikan hadiah, di saat butuh dukungan. Dan apa yang mereka berikan, pasti disertai dengan atribut partai atau pribadinya. Bisa anda bayangkan jika ternyata caleg ini kalah dalam pemilu. Dia akan bersedih, tidak lagi menampakkan wajah optimis, bahkan bisa jadi dia akan balik membenci masyarakatnya.

Oleh karena itu, hadiah yang diberikan para caleg, apapun bentuknya, sejatinya bukan hadiah, tapi lebih dekat dengan ‘suap’. Dia memberikan sejumlah harta kepada masyarakat, dalam rangka menyuap mereka agar bersedia memilihnya ketika pemilu.

Mereka memberi, karena niat untuk mendapatkan imbalan yang lebih besar, yaitu dukungan masyarakat agar memilihnya. Semangat memberi yang salah ini, telah Allah ingatkan dalam al-Quran,

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

“Janganlah engkau berbuat baik, untuk mendapatkan imbalan yang lebih besar.” (QS. Al-Mudatsir: 6)

Hadiah al-Quran
Hadiah al-Quran  merupakan ajakan kepada penerima untuk rajin membacanya. Dan membaca al-Quran termasuk ibadah yang memiliki nilai pahala luar biasa. Karena setiap huruf, diberi ganjaran 10 pahala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Siapa yang membaca satu huruf dari al-Quran, maka dia mendapatkan pahala huruf yang dia baca. Dan satu pahala dilipatkan 10 kali. (HR. Turmudzi 2910, dan dishahihkan al-Albani).

Andai caleg yang memberikan hadiah al-Quran ini ikhlas ketika memberikannya, bukan untuk tendensi pemilu, bukan pula untuk menarik simpati masyarakat agar mendukungnnya, tidak menyertakan atribut pribadi maupun partainya, dan diniatkan murni agar mereka rajin membacanya, tentu mereka akan mendapatkan pahala yang luar biasa.

.
2. Selanjutnya Jawaban pertanyaan no.2

Pertama, kata sedekah dalam bahasa syariat mencakup sedekah wajib dan sedekah sunah.

Sedekah wajib istilah lainnya adalah zakat. Sedangkan sedekah sunah, itulah yang kita kenal dengan kata ’sedekah’.

Ketika Allah ta’ala menjelaskan golongan yang berhak menerima zakat dalam al-Quran, Allah menyebut zakat dengan kata ’sedekah’.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا… الأية

“Sedekah hanya diberikan untuk orang fakir, muskin, amil….. ” (QS. At-Taubah: 60)

Kedua, ulama berbeda pendapat mengenai hukum memberikan zakat mal kepada orang kafir. Mayoritas ulama melarang hal itu, bahkan Ibnul Mundzir mencatat bahwa para ulama sepakat zakat mal tidak boleh diberikan kepada orang kafir. Beliau mengatakan,

وأجمعوا على أنه لا يجزئ أن يعطى من زكاة المال أحد من أهل الذمة .وأجمعوا على أن الذمي لا يعطى من زكاة الأموال شيئاً

Mereka sepakat bahwa tidak sah memberikan zakat mal kepada orang kafir dzimmi. Mereka juga sepakat bahwa kafir dzimmi tidak mendapatkan zakat mal sedikitpun. (al-Ijma’ hlm. 47).

Ketiga, secara umum, sedekah yang kita keluarkan, sangat dianjurkan agar diberikan kepada muslim yang baik dan kurang mampu. Sehingga harta yang kita berikan kepadanya, akan membantunya untuk melakukan kebaikan dan ketaatan.

Hanya saja, mayoritas ulama – dan ini pendapat yang kuat – berpendapat, sedekah sunah boleh diberikan kepada orang kafir.

An-Nawawi mengatakan,

يستحب أن يخص بصدقته الصلحاء وأهل الخير وأهل المروءات والحاجات فلو تصدق على فاسق أو على كافر من يهودي أو نصراني أو مجوسي جاز

Dianjurkan agar sedekah itu diberikan kepada orang sholeh, orang yang rajin melakukan kebaikan, menjaga kehormatan dan dia membutuhkan. Namun jika ada orang yang bersedekah kepada orang fasik, atau orang kafir, di kalangan yahudi, nasrani, atau majusi, hukumnya boleh. (al-Majmu’, 6/240).

Imam Ibnu Utsaimin pernah mendapat pertanyaan,

”Bolehkah memberikan sedekah kepada orang kafir?”

Jawaban beliau,

اقرأ قول الله تعالى في سورة الممتحنة: { لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ } وهذا

إحسان { وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ } [الممتحنة:8] وهذا عدل

فتجوز الصدقة على الكافر بشرط: ألا يكون ممن يقاتلوننا في ديننا، ولم يخرجونا من ديارنا، لكن إذا كان قومه يقاتلوننا في الدين

أو يخرجوننا من ديارنا فلا نتصدق عليه

Coba baca firman Allah di surat al-Mumtahanah,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu..”

Karena itu, boleh membayar sedekah kepada orang kafir, dengan syarat, bukan termasuk orang kafir yang memerangi agama kita, atau menjajah dan mengusir kita dari negeri kita. Namun jika mereka memerangi kita karena agama, atau mengusir kita dari negeri muslim, kita tidak boleh bersedekah kepadanya.

(Liqa’at Bab Maftuh, volume 100, no. 21)

Lebih dari itu, jika sedekah yang kita berikan kepada saudara non muslim ini akan menjadi sebab dia masuk islam, insyaa Allah akan menghasilkan pahala yang besar.

Catatan:

Kita boleh memberikan sedekah secara umum kepada orang kafir yang membutuhkan, terutama yang masih kerabat. Namun seorang muslim tidak boleh memberikan hadiah dalam bentuk apapun dalam rangka memeriahkan hari raya atau ritual apapun yang mereka lakukan. Karena semacam ini termasuk ikut bergembira menyambut hari raya mereka. Anda bisa pelajari selengkapnya di: Menjual Kartu Natal.

Saran Saya : Bersedekahlah kepada Anak Yatim Piatu, Fakir Miskin, hamba sahaya, gharimin, janda miskin, Orang-orang yang kurang mampu, dll yang seagama dengan kita selain bersedekah dengan orang kafir/Non Muslim.

Allahu a’lam

3.  Baik, untuk Nyai Srikandi nanti akan saya sampaikan salamnya pak..:)

Demikian, Mohon maaf jika ada lisan saya yang kurang berkenan di hati anda semua,

= Ryana=