BUTIR2 PITUTUR LUHUR DALAM MEMAKNAI GURU SEJATI

Assalamualaikum Warohmatullaahi Wabarakatuh….

Para pembaca KCK yang Budiman, pertama-tama ijinkanlah Saya memberikan pemahaman  dan kejelasan mengenai Sang Guru Sejati dalam kehidupan sehari-hari. Mohon Maaf jika penyampaian saya ini barangkali dapat menyinggung perasaan Anda. Namun dibalik itu saya merasa berdosa sekali jika hal ini tidak disampaikan kepada Anda, selaku manusia biasa yang memiliki pengetahuan dasar dan pemahaman hakikat hidup sebagai manusia didalam memaknai tentang pemahaman Guru Sejati ini.

Bismillahirrohmaanirrohiim,,,

= BUTIR-BUTIR PITUTUR LUHUR  DALAM MEMAKNAI GURU SEJATI =

Penulisan Himpunan Pitutur Luhur ini kami maksudkan adalah sebagai usaha pelestarian warisan Budaya  bangsa  yang  sangat  luhur,  yang  juga  sebagai  perwujudan  penghargaan  terhadap  nenek  moyang  yang  telah  mewariskan  budaya  luhur  tersebut.  Himpunan  Pitutur  Luhur  ini  berisi Nasehat, Ajaran Yang baik Kehidupan  manusia  sehingga  dapat  dijadikan  pendukung  materi  pembangunan  Kebudayaan yaitu dalam mendukung terpeliharanya Kerukunan Hidup dan Membangun Peradaban Bangsa. Sehingga manusia yang berbudi dan berakhlak baik adalah manusia yang mengutamakan kepentingan yang beraspek terhadap nilai Ketuhanan Yang Maha Esa Tuhan pemilik segala ilmu yang ada di dunia ini sebagai Guru sejatinya.

Guru sejati adalah :  Pendidik Yang Maha Agung, Yaitu Allahu Rabbul Alamin. Rabb itulah Guru Sejati. Jangan salah arti, bisa sesat nanti. Ini saya pesankan bagi panjenengan yang beragama Islam, atau Anda yang beragama.

Jika Anda mengatakan bahwa anda merasa  sebagai seorang  guru, terlebih dahulu  hendaknya, beri kejelasan sampai dimana pengertian dan pemahaman sosok guru itu yang sebenarnya. Kita sebagai pendidik, sebagai mediator dan motivator  tidak boleh untuk mendustkan dasar –dasar atau nilai-nilai hidup yang hakiki sebagai Hikayat Hidup manusia itu terhadap Prinsip dasar Ketuhanan Yang Maha esa. Dalam perngertian keilmuan sejati ini adalah Dialah segala pemilik, dialah segala yang maha menguasai isi alam semesta ini. Dialah Akbar yang maha besar begitu juga halnya dalam ajaran agama islam.

KETUHANAN :

1.Makna Aja Mangro Tingal, Aja Salah Tingal, Lan Aja Mangeran Liya adalah : Bahwa manusia tidak boleh menyekutukan Tuhan. Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  dalam  MANEMBAH, Pikiran,  Perasaan,  Kemauan  secara  totalitas  dipusatkan  kedalam  ALLAH.  SWT (Tuhan Yang Maha Esa). Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa .

2. Aling  Lan  Becik  Iku  gegandhengan,  Kabeh  Kuwi  Saka  Kersane  Pangeran  (ALLAH SWT) Makna  Aling  Lan  Becik  Iku  gegandhengan,  Kabeh  Kuwi  Saka  Kersane Pangeran  (ALLAH SWT ) adalah bahwa  baik  dan  buruk  sebagai  totalitas selamanya  ada  dalam  diri  seseorang,  dan  itu  adalah  kehendak ALLAH SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ). Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  mengembangkan  terus menerus kebaikan  di  manapun,  sehingga  keburukan  yang  ada  tidak  mendapat kesempatan untuk tampil. Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH SWT  (Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya

3. Alam iki sejatining Guru

Makna  Alam  iki  sejatining  Guru  adalah  sesungguhnya  alam  itu  Guru  yang sejati, yang mewartakan Kemaha Kuasaan, Kemaha Asihan, Kemaha Murahan dan Ke Maha adilan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  selalu  mencintai  alam sebagai tempat hidup dan menghidupi secara ragawi atau jasmani seseorang sikap  dan  perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH SWT  (Tuhan Yang Maha Esa) dan alam semesta.

4.  Bhuda Bhudi, Jawa Jawi, Mata Siji

adalah kesadaran bahwa keutamaan manusia  adalah  menggunakan  akal  budi, pengertian yang benar, dan mata  batin dalam berbuat sesuatu. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan  perilaku selalu berpikir jernih (positif) dan berhati bersih. Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH SWT (Tuhan Yang Maha Esa).

5. Eling;

Makna Eling adalah kesadaran bahwa manusia harus berserah diri secara total kepada ALLAH  SWT (Tuhan yang  Maha Esa) yang terwujud dalam bentuk perbuatan dan batin. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan  perilaku  yang taat beribadah sesuai dengan keyakinannya dan berperilaku sesuai dengan petunjuk yang telah diatur dalam ajaran masing-masing Sikap dan Perilaku tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH SWT ( Tuhan yang Maha Esa).

6. Eling, Percaya, Mituhu lan Taqwa;

Makna Eling, Percaya, Mituhu lan Taqwa adalah: aktualnya kesadaran merasakan secara total keberadaan ALLAH  SWT (Tuhan yang Maha Esa) dalam diri seseorang, yang melahirkan rasa percaya yang sungguh-sungguh kepada    ALLAH SWT (Tuhan yang Maha Esa), dan sekaligus melahirkan dinamika hidup sesuai dengan tuntunan-Nya. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu taat beribadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing dan berperilaku sesuai dengan aturan dan ajaran kepercayaan masing-masing. Sikap dan Perilaku tersebut  diterapkan dalam  hubungan  seseorang  dengan ALLAH. SWT (Tuhan yang Maha Esa).

7. Golek Sampurnaning Urip Lair Batin lan Golek Kasampurnaning Pati; Makna Golek Sampurnaning Urip Lair Batin lan golek Kasampurnaning Pati adalah : kesadaran bahwa manusia bertanggung  jawab terhadap  dirinya sendiri untuk mencapai keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu bersemangat sesuai dengan kemampuan, mensyukuri nikmat kemurahan Allah dalam bentuk apapun. Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT (Tuhan yang Maha Esa).

8. Gusti Anglimuti, Manungsa Linumpatan;

Makna Gusti Anglimuti, Manungsa Linumpatan adalah  ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa) ada dimana-mana, dan secara total ada di dalam semua ciptaan-Nya. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku  mengembangkan kesadaran merasakan keberadaan ALLAH.SWT (Tuhan yang Maha Esa) didalam dirinya,  sehingga  dinamika  hidupnya  sepenuhnya  berada  dalam tuntunan-Nya. Sikap  dan  Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH  SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ).

9. Gusti Iku Cedhak Tanpo Senggolan, Adoh Tanpa Winangenan;  

Makna Gusti Iku Cedhak Tanpo Senggolan, Adoh Tanpa Winangenan adalah: ALLAH  SWT  (Tuhan Yang Maha Esa) itu ada secara total didalam diri seseorang namun tidak dapat dijangkau dengan daya pikir dan daya indera,  ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa) sangat jauh tanpa batas dari diri seseorang. Makna tersebut diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  mengembangkan rasa yang telah lepas dari nafsu-nafsu agar mampu merasakan  keberadaan ALLAH. SWT (Tuhan yang Maha Esa) dalam dirinya secara nyata. Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan  seseorang  dengan ALLAH SWT (Tuhan yang Maha Esa ).

10. Gusti  Iku  Sambaten  Nalika  Sira  Nanndang  Kasengsaran  Lan  Pujinen  Yen Sira Lagi Nampa Kanugrahaning Pangeran (ALLAH. SWT) ; Makna Gusti Iku Sambaten Nalika Sira Nandang Kasengsaran Lan  Pujinen Yen Sira Lagi  Nampa  Kanugrahaning  Pangeran  (ALLAH  SWT) adalah ; ALLAH  SWT (Tuhan Yang Maha Esa ) merupakan sumber cahaya (Pepadhang) dan tempat puji syukur disampaikan seseorang. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku dalam duka maupun suka selalu Manembah kepada ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa). Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan  seseorang  dengan  ALLAH  SWT  (Tuhan Yang Maha Esa ).

11. Hadhepono  mukanira  iku  marang  ingkang  katon  rarahine. Rarahi kang luwih kang katon Sawehgung; Makna  Hadhepono  mukanira  iku  marang  ingkang  katon  rarahine.  Rarahi kang luwih kang katon Sawehgung adalah : semua yang tampak dialam semesta merupakan ciptaan dan gambaran wajah  ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ). Makna  tersebut  duwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  sadar  dirinya  adalah ciptaan  ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa ), yang selalu manembah kepada-Nya, hidup sesuai dengan tuntunan-Nya. Sikap  dan  Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa ).

12. Heneng ;

Makna Heneng  adalah kondisi internal seseorang dimana pikiran, perasaan, dan kemauan dalam keadaan diam total, sehingga ia mampu merasakan nikmat cinta kasih sayang ALLAH.SWT (Tuhan Yang Maha Esa ) yang berada dalam dirinya. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang selalu tenang, arif, penuh cinta kasih kepada siapapun. Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam  hubungan  seseorang  dengan ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa ).

13. Hening ;

Makna Hening adalah keadaan batin seseorang yang jernih dan bersih, sebagai  akibat  telah  diamnya  secara total pikiran, perasaan, kemauan, sehingga mampu merasakan  dan  memancarkan  cahaya cinta kasih  ALLAH. SWT ( Tuhan yang Maha Esa) yang berada dalam dirinya ditengah-tengah sesama hidup. Makna tersebut diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  tenang,  arif,  dalam melakukan penghayatan agar dapat menuju kepada  ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ). Sikap dan Perilaku tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang dengan ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

14. Jangan Menyembah Selain Kepada ALLAH;

Makna  jangan  menyembah  selain kepada ALLAH adalah : Kesadaran  bahwa satu-satunya yang harus disembah adalah ALLAH.SWT (Tuhan Yang Maha Esa). Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu  menyembah ALLAH SWT (Tuhan Yang Maha Esa) dan tidak mempersekutukan-Nya. Sikap dan Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa).

15. Manunggaling Kawula Gusti Atau Jumbuhing Kawula Gusti;

Makna Manunggaling Kawula Gusti Atau Jumbuhing Kawula Gusti adalah : Menyatunya secara total pikiran, perasaan, dan kemauan seseorang dalam cinta kasih ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa ) yang berada dalam dirinya. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku penuh cinta kasih kepada siapapun dan apapun, dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan bagaimanapun. Sikap dan Perilaku  tersebut diterapkan dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

16. Kawula Mung Saderma, Mobah-mosik kersaning ALLAH Hyang Sukma;

Makna  Kawula  Mung  Saderma,  Mobah-mosik  kersaning  ALLAH  Hyang Sukma adalah manusia sekedar menjalankan kewajiban segala gerak kehidupan yang ada karena kehendak  ALLAH. SWT  (Tuhan Yang Maha Esa ). Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  segala  gerak  kehidupan yang dijalani merupakan kehendak  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ).

17. Manembah;

Makna  Manembah  adalah  menghubungkan  diri  secara  sadar:  mendekat, menyatu, dan manunggal dengan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  melaksanakan  perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ).

18. Manungsa Mung Ngunduh Wohing Pakarti;

Makna  Manungsa  Mung  Ngunduh  Wohing  Pakarti  apapun  wujud  kehidupan manusia yang dijalani, baik atau buruk, semua itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  selalu  hidup  dalam  cinta kasih  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) agar mampu menjalani hidup penuh cinta  kasih  kepada  sesama  hidup,  dalam  rangka mewujudkan  kehidupan  yang baik. Sikap dan Perilaku tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

19. Mencari  Keselamatan  dan  Kebahagiaan  Lahir  Batin  di  Dunia  maupun  di Alam Langgeng ; Makna Mencari Keselamatan dan Kebahagiaan Lahir Batin di dunia maupun di Alam  Langgeng adalah  terpenuhinya  kebutuhan  lahir  batin seseorang  secara  sinergik-harmonis  sesuai  dengan  keharusan  kodratinya,  yang mengantar seseorang mampu mewujudkan kondisi Manungguling Kawula Gusti di dunia dan nantinya di alam langgeng yang merupakan akhir perjalanan hidup seseorang. Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  menjalani  hidup  sesuai  dengan  hukum-hukum  kodrati  yang  merupakan  manifestasi  dari  Maha  Kuasa, Maha Asih, Maha Adil nya  ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa). Sikap dan Perilaku tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan   ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup. 

20. Mohon, Mangesthi, Mangastuti, Marem ;

Makna  Mohon,  Mangesti,  Mangastuti,  Marem  adalah  seseorang  perlu sepenuhnya  selalu  memohon  kepada    ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa), agar mendapat Rahmat dan Tuntunan-Nya bagaimana seharusnya  menjalani  hidupnya di dunia, disertai laku menyatukan pikiran, perasaan, kemauan  (mangesthi) manunggal dalam haribaan cinta kasih ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa), yang menjadikan seseorang berada dalam kondisi manembah secara total kepada  ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa) (Mangastuti) akhirnya seseorang merasakan bahagia, damai, tenteram, dalam wujud ktualnya kepuasan spiritual (Marem) Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu menjalankan ibadah sesuai dengan petunjuk. Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan  dalam  hubungan  seseorang dengan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ).

21. Narimo Ing Pandum;  

Makna  Narimo Ing  Pandum  adalah  apapun  wujud  yang  di anugerahkan  ALLAH.  SWT (Tuhan  Yang  Maha  Esa  )  kepada dirinya,  diterima  dengan  penuh lapang dada. Makna tersebut  diwujudkan dalam sikap dan perilaku  menjalani  kenyataan hidup, apapun wujudnya, dengan tenang, gembira dan damai. Sikap dan Perilaku tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan   ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ).

22. Natas, Nitis, Netes ;

Makna Natas, Nitis, Netes adalah jiwa manusia itu berasal dari ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa), dapat menjadi sempurna kembali kepada ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa ), namun dapat pula kembali dilahirkan di dunia, semua itu tergantung perbuatan manusia sendiri. Makna tersebut dapat diwujudkan dalam sikap dan perilaku  selalu mengembangkan Manembah yang sungguh-sungguh kepada ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa) agar dapat sempurna kembali kepafa  ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa). Sikap  dan  Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa ).

23. Nenging Pancadriya- Nenging Rasa;

Makna  Nenging  Pancadriya-Nenging  Rasa  adalah  manembah,  panca  indera dan rasa dalam keadaan diam total. Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  membangun  kondisi  : “ mbudheg, micek, mbisu “ (tidak menanggapi apa yang didengar, dan dilihat serta tidak berkata kata ). Sikap  dan Perilaku tersebut diterapkan dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya.

24. Nora  Keguh  Kecopaking  Iwak,  Grombyanging  wong,  Semilake  Wentis Kuning;

Makna  Nora  Keguh  Kecopaking  Iwak, Grombyanging wong, Semilake Wentis Kuning adalah  dalam  menjalankan  tapa  brata  diperlukan  kemampuan untuk  tidak  terpengaruh  oleh:  kenikmatan  lahiriah  semata  (Kecopaking  Iwak), galaunya suara orang  (Grombyanging  Wong), dan dorongan seks yang tidak sehat (Semilake Wentis Kuning). Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mengembangkan  budaya hidup suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Sikap dan Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan seseorang  dengan ALLAH. SWT  (Tuhan Yang Maha Esa) dan sesamanya.

25.Olah Raga,  Olah Rasa , Olah Jiwa ;

Makna Olah Raga,  Olah Rsa , Olah Jiwa adalah terjaminnya kondisi raga, rasa, jiwa yang prima, yang siap mewujudkan kondisi Manunggaling Kawula Gusti. Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  mengusahakan  dinamika hidup  ragawi-jiwani  sinergik-harmonis  sesuai  dengan  perkembangan  ilmu pengetahuan  dan  tehnologi  mutakhir  yang  berada  dalam  bimbingan    ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan   ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesame hidup.

26.Ora Kena Melikan ;

Makna  Ora  Kena  Melikan  adalah  kesadaran  bahwa  segala  sesuatu  termasuk kebendaan  berasal  dari ALLAH.SWT ( Tuhan  Yang  Maha  Esa  ),  dan  masing-masing diberi hak yang berbeda. Makna tersebut diwujudkandalam sikap dan perilaku tidak serakah. Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan   ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). 

27. Ora Kena Ngresula Marang Peparinge Kang Maha Kuwasa ;

Makna  Ora  Kena  Ngresula  Marang  Peparinge  Kang  Maha  Kuwasa  adalah tidak boleh mengeluh atas segala pemberian  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). Makna  tersebut  duwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  selalu  menerima  segala pemberian  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) dengan tulus Iklas dan lapang dada. Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan   ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ).

28.Ora Rumangsa Bisa, Nanging Bisa Rumangsa Yen Mobah Mosik Kersaning Allah Hyang Sukma ;

Makna  Ora  Rumangsa  Bisa,  Nanging  Bisa  Rumangsa  Yen  Mobah  Mosik Kersaning  Allah  Hyang  Sukma adalah  kesadaran  bahwa  manusia  tidak memiliki kelebihan apapun karena semua adalah kodrat dari  ALLAH. SWT   ( Tuhan Yang Maha Esa ). Makna  tersebut  dapat  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  menciptakan keseimbangan  dan  keselarasan  serta  menghargai  hak-hak  yang  dimiliki  setiap manusia. Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan   ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya.

29. Owah Gingsiring Kahanan Iku Saka Kersaning Pangeran (ALLAH. SWT ) Kang Murbeng Jagad ;Makna Owah Gingsiring Kahanan  Iku  Saka Kersaning  Pangeran  (ALLAH. SWT) Kang  Murbeng  Jagad adalah  perubahan  keadaan  itu  merupakan kehendak  ALLAH. SWT  (Tuhan Yang Maha Esa). Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku siap menerima perubahan keadaan dengan lapang dada dan iklas. Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan   ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ).

30. Iku Ana ing ngendi papan, Aneng Sira uga ana  Pangeran  (ALLAH.  SWT),  Nanging  Aja  Sira  Kumawani  Ngaku  Pangeran  (ALLAH. SWT);  Makna  Pangeran  (ALLAH. SWT)  (ALLAH. SWT)  Iku  Ana  ing  ngendi papan,  Aneng  Sira  uga  ana  Pangeran  (ALLAH.  SWT)  (ALLAH. SWT), Nanging  Aja  Sira  Kumawani  Ngaku  Pangeran  (ALLAH.  SWT) (ALLAH. SWT) adalah sekalipun  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) berada dimana-mana,  dan  ada  pula  dalam  diri  seseorang,  namun  jangan  sekali-sekali  ia  berani menyatakan bahwa dirinya adalah  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu sadar bahwa dirinya adalah HAMBA  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ), yang selalu Manembah kepada  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) dan rendah hati.  Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan   ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). 

31. Iku  Bisa  Ngrusak  Kahanan  Kang  Wis  Ora

Diperlokake, lan Bisa Gawe Kahanan Anyar kang Diperlokake ; Makna Pangeran (  ALLAH. SWT   ) Iku Bisa Ngrusak Kahanan Kang Wis Ora Diperlokake,  lan  Bisa  Gawe  Kahanan  Anyar  kang  Diperlokake adalah  ALLAH.  SWT  ( Tuhan  Yang  Maha  Esa  )  –lah  yang  menentukan  keadaan  mana yang sudah tidak diperlukan, dan keadaan baru yang diperlukan. Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  siap  menerima  apapun yang telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya.

32. Iku Kuwasa Tanpa Piranti, Akarya Jagad Saisine,

Kang Katon lan Kang Ora Kasat Mata ; Mana Iku Kuwasa Tanpa Piranti, Akarya Jagad Saisine,  Kang  Katon  lan  Kang  Ora  Kasat  Mata  adalah  bahwa  kekuasaan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) itu di luar jangkauan manusia. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku sadar sepenuhnya ke Maha Kuasaan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ), apapun yang dikehendaki-Nya, maka JADILAH. Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). 

33. Iku Langgeng Tan Kena Kinaya Ngapa, Sangkan Paraning Dumadi ; Makna Iku  Langgeng  Tan  Kena  Kinaya  Ngapa, Sangkan Paraning Dumadi adalah bahwa  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) itu Kekal tidak dapat dijangkau oleh daya pikir yang bagaimanapun, Dia adalah asal dan tujuan dari segala yang dihidupkan. Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  secara  konsistendan konsekuen menjalani hidup dalam cinta kasih  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ),  sehingga  perjalanan hidupnya di dunia secara alami  selalu memancarkan cinta  kasih  kepada  siapapun  dan  apapun,  dimanapun,  kapanpun,dan  dalam keadaan bagaimanapun. Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan   ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

 34. Iku  Maha  Kuwasa,  Pepesthen  Saka  Kersaning  Pangeran (ALLAH. SWT ) Ora Ana Sing Bisa Murungake ;  adalah  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) itu Maha Kuasa, kepastian dari Kehendak  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) tidak ada yang dapat membatalkan. Makna tersebut duwujudkan dalam sikap dan perilaku siap menghadapi apapun yang terjadi dengan lapang dada. Sikap  dan  Perilaku  Tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan   ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). 

35. Iku  Maha  Welas  Lan  Maha  Asih,  Hayuning Bawana Marga Saka Kanugrahaning Pangeran  ( ALLAH. SWT ) ; Makna Iku Maha Welas Lan Maha Asih, Hayuning  Bawana  Marga  Saka  Kanugrahaning  Pangeran  ( ALLAH. SWT  adalah ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) itu Maha Penyayang dan Maha Pengasih, keindahan dunia merupakan anugerah-Nya. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang saling mengasihi  dan menyayangi  di  antara  sesame  manusia  dan  menciptakan  suasana  damai  dan sejahtera. Sikap  dan  Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ).

36. Iku Ngowahi Kahanan Apa Wae Tan Kena Kinaya Ngapa ; Makna Pangeran (ALLAH. SWT) Iku Ngowahi Kahanan Apa Wae Tan Kena Kinaya  Ngapa adalah    ALLAH.  SWT    (Tuhan  Yang  Maha  Esa)  itu  mengubah keadaan  apapun  tidak  dapat  dijangkau  dengan  dinamika  daya  piker  yang bagaimanapun juga. Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilakusiap  menghadapi  dan menerima perubahan keadaan yang tidak terduga, dengan penuh rasa tanggung jawab dan lapang dada.  Sikap  dan  Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). 

37. Nitahake Siro iku lantaran saka Biyungiro, Mula kudu Ngurmati Biyungira ; Makna  Pangeran  ( ALLAH. SWT )  Nitahake  Siro  iku  lantaran  saka Biyungiro,  Mula  kudu  Ngurmati  Biyungira adalah  bahwa  ibu  merupakan seorang yang dipilih  ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) sebagai peran serta lahirnya seseorang, karenanya seseorang harus menghormati Ibu. Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  selalu  menghormati  dan berbakti  pada  Sang  Ibu  penuh  cinta  kasih  saying  dimanapun,  kapanpun,  dan dalam keadaan yang bagaimanapun. Sikap  dan  Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  orang tua, terutama ibu.

38. Iku Ora Mbedak-Mbedakake Kawulane ; Makna  Pangeran  (ALLAH. SWT )  Iku  Ora  Mbedak-Mbedakake  Kawulane adalah ALLAH.  SWT (Tuhan  Yang  Maha  Esa  )  tidak  membeda-bedakan makhluknya,  artinya ALLAH.  SWT ( Tuhan  Yang Maha Esa ) mencintai  manusia tanpa  memandang  perbedaan  seperti  kaya  atau  miskin,  pandai  atau  bodoh,  tua atau muda, cantik ataupun jelek dan sebagainya. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mencintai sesama manusia tanpa membeda-bedakan atas dasar status, usia, jenis kelamin dan sebagainya. Sikap  dan  Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya.

39. Iku Siji, Ana Ing Ngendi-Endi Papan, Langgeng,Sing  Nganaake  Jagad  Saisine,  Dadi  Sesembahan  Manungsa  Alam  Kabeh, Nganggo Carane Dhewe-dhewe ;  Makna  Pangeran  ( ALLAH.  SWT )  Iku  Siji,  Ana  Ing  Ngendi-Endi  Papan, Langgeng, Sing Nganaake Jagad Saisine, Dadi Sesembahan Manungsa Alam Kabeh,  Nganggo  Carane  Dhewe-dhewe adalah ALLAH. SWT (Tuhan  Yang  Maha Esa ) itu satu, ada dimana-mana, Langgeng. Menjadi sesembahan manusia sejagat dengan caranya sendiri-sendiri. Makna  tersebut  duwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku sadar  bahwa  yang disembah Manusia sejagad hanyalah sat  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) tetapi caranya yang berbeda-beda, tetap menghormati, menghargai, bersahabat, bersaudara,  dan  mencintai  siapapun  sekalipun  caranya  Manembah  kepada  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) berbeda. Sikap  dan  Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan   ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya.

40. Pan Kawula Duwene Mung Sifat Derma ;  Makna  Pan  Kawula  Duwene  Mung  Sifat  Derma  adalah  manusia  hanyalah memiliki kewajiban, yakni kewajiban Manembah kepada  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ).  Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  menjalani  hidup  sebagai  sebuah pengabdian kepada  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). Sikap  dan  Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ).

41. Pan Kawula Nora Kuwasa ; Makna  Pan  Kawula  Nora  Kuwasa  adalah  manusia  tidak  memiliki  kekuasaan apa-apa  , yang memiliki  kekuasaan hanyalah   ALLAH.  SWT (Tuhan  Yang Maha Esa). Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap dan  perilaku  bersahaja,  sopan,  santun, menghormati,menghargai,  bersahabat,  bersaudara,  mencintai  siapapun  dan apapun.  Sikap  dan  Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan   ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

42. Pasrah Gesang Dhateng Pangeran (  ALLAH. SWT   ) ; Makna  Pasrah  Gesang  Dhateng  Pangeran  ( ALLAH.  SWT )  adalah menyerahkan hidup yang dijalani kepada  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ). Makna  tersebut  diwujudkan  dalam  sikap  dan  perilaku  selalu  menerima  apapun yang mengenai dirinya dengan lapang dada. Sikap  dan  Perilaku  tersebut  diterapkan  dalam  hubungan  seseorang  dengan  ALLAH. SWT  ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Demikian para pengunjung KCK,, semoga apa yang saya sampaikan ini dapat berguna bagi anda, terutama dalam memaknai  pemahaman sosok guru sejati yang sebenarnya, semoga dalam memaknai hidup kita sehari-hari kita jangan sampai salah langkah dan terjerumus kedalam lembah yang menistakan kehidupan kita. Kita jangan sampai sesat dalam memaknai pemahaman hidup kita dan jangan kita sampai melupakan sosok guru sejati kita yakni dia Tuhan yang maha esa, pemilik segala ilmu, pemilik segala apa-apa yang ada didunia ini. Jauhi sikap sombong, dan tetaplah selalu rendah hati, karena guru sebagai seorang mediator dan motivator ini di jadikan contoh teladan yang baik bagi sang murid atau orang lain.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

= RYANA =

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s