MUNAJAT SEORANG HAMBA YANG HINA, RENDAH, SOMBONG DAN MUNAFIK

cccccc

Sabtu : 03 Januari 2015

Pukul : 03 : 11 WIB


Suasana malam yang mencekam, disaat aku merasakan bahwa aku tidak berdaya, merasakan kesedihan yang mendalam, gelisah, hati dan pikiranku yang terasa lelah, Ku bermunajat memohon penjagaan dan perlindungan Allah swt dari segala apa yang aku takutkan didunia ini. tak terasa mengalir air mata disaat ku rasakan kesendirian ini .

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

Ya Allah, Duhai Pelindungku dalam dukaku…
Duhai Sahabatku dalam deritaku
Duhai Kekasihku dalam nikmatku
Duhai Tujuanku dalam harapanku
Engkaulah Yang Menutupi rahasiaku,Yang Menenteramkan ketakutanku,
Yang Memaafkan ketergelinciranku, ampuni kesalahanku.

Ya Allah, aku bermohon pada-Mu kepatuhan dalam keimanan sebelum kepatuhan kehinaan dalam neraka. Wahai Yang Maha Esa, wahai YangMaha Tunggal, wahai Yang Tak Beranak dan tidak diperanakkan, serta tak ada tandingan bagi-Nya.

Wahai Yang Memberi, orang yang memohon karunia dan rahmat-Nya,
Wahai Yang Memulai dengan kebaikan kepada orang yang tidak memohon karunia dan kemuliaan-Nya yang abadi. Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
Anugerahkan padaku rahmat yang luas dan meliputi, yang dengannya aku mencapai kebaikan di dunia dan akhirat.

Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu, yang dengannya aku bertaubat pada-Mu dan kembali pada-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu dari segala kebaikan yang kuinginkan saat aku menghadap pada-Mu, yang didalamnya bercampur sesuatu yang tak layak bagi-Mu.

Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, maafkan atas kesalahan dan kedurhakaanku wahai Yang Maha Mulia, wahai Yang Tidak Menyia-nyiakan orang yang bermohon, wahai Yang Tidak habis karunia-Nya karena orang yang memperolehnya, wahai Yang Maha Tinggi sehingga tidak ada sesuatu pun yang mengungguli-Nya, wahai Yang Maha Dekat sehingga tidak ada sesuatu selain-Nya.

Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sayangi daku wahai Yang Membelah lautan untuk Musa. Sayangi daku malam ini, malam ini, malam ini; saat ini, saat ini, saat ini.

Ya Allah, sucikan hatiku dari kemunafikan, dan kesombongan, amalku dari riya’, lisanku dari dusta, mataku dari khianat, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua mata yang berkhianat, dan semua yang tersimpan di dalam hati.

Ya Rabbi…
Inilah saatnya orang mencari perlindungan dengan-Mu dari api neraka…
Inilah saatnya orang memohon penjagaan dengan-Mu dari api neraka….
Inilah saatnya orang memohon pertolongan dengan-Mu dari api neraka….

Inilah saatnya orang berlari kepada-Mu dari api neraka…
Inilah saatnya orang karena kesalahannya kembali kepada-Mu, mengakui dosanya dan bertaubat kepada Tuhannya….

Inilah saatnya orang yang sengsara dan butuh kepada-Mu….
Inilah saatnya orang yang ketakutan dan mencari perlindungan-Mu…
Inilah saatnya orang yang duka dan menderita…
Inilah saatnya orang yang kebingungan dan kesulitan..

Inilah saatnya orang yang terasing dan tenggelam dalam kesunyian..

Inilah saatnya orang yang kesepian dan sendirian…

Inilah saatnya orang yang tidak mendapatkan pengampunan dosanya kecuali dari-Mu yang tak ada yang memberi kekuatan pada kelemahannya, kecuali Engkau yang tak ada yang memberi kebahagiaan atas penderitaannya selain-Mu…

Ya Allah, wahai Yang Maha Mulia, jangan campakkan wajahku ke dalam api neraka setelah tenggelam dalam sujud pada-Mu, merebah di hadapan-Mu karena tak mensyukuri kebaikan-Mu padaku. Padahal, segala puji bagi-Mu, anugrah dan karunia yang aku peroleh adalah milik-Mu.

Ya Rabbi, ya Rabbi (diulang-ulang tanpa bernafas hingga akhir nya aku mampu bernafas),
Sayangi kelemahanku dan sedikitnya dayaku,
lemahnya kulitku dan hancurnya anggota tubuhku,
berserakannya dagingku, jasadku dan tubuhku,
kesendirianku dan kesepianku di kuburku..
dan segala keluh-kesahku dalam ujian yang kecil.

Ya Rabbi, aku memohon pada-Mu
kesejukan hati pada hari kerugian dan penyesalan…

Putihkan wajahku ya Rabbi dari wajah-wajah yang menjadi hitam
Lindungi daku dari peristiwa besar yang menakutkan…

Aku memohon pada-Mu
kebahagiaan pada hari semua hati dan pandangan, diputarbalikkan
kedamaian pada saat aku berpisah dengan dunia…

Segala puji bagi Allah, yang aku harapkan pertolongan-Nya dalam hidupku, yang aku persiapkan sebagai simpanan pada hari aku membutuhkan.

Segala puji bagi Allah, kepada-Nya aku berdoa, tidak kepada selain-Nya, dan sekiranya aku berdoa kepada selain-Nya niscaya mengecewakan doaku.

Segala puji bagi Allah, kepada-Nya aku berharap, tidak kepada selain-Nya, dan sekiranya aku berharap kepada selain-Nya tentu berbeda dengan harapanku.

Segala puji bagi Allah, Yang Memberi kenikmatan, Yang Memberi kebaikan, Yang Memberi keindahan, Yang Memberi karunia. Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan, Yang Memiliki semua kenikmatan,Yang Memiliki semua kebaikan, Puncak segala harapan, Yang Menunaikan semua keperluan.

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, Karuniakan padaku keyakinan dan berbaik sangka pada-Mu.
Kuatkan dalam hatiku harapanku pada-Mu.
Putuskan harapanku pada selain-Mu, sehingga aku tidak berharap kecuali kepada-Mu dan tidak percaya kecuali kepada-Mu.

Ya Latif, wahai Yang Maha Lembut terhadap apa yang Kau kehendaki,
sayangi daku dalam segala keadaanku sebagaimana yang Kau cintai dan Kau ridhai.

Ya Rabbi, sungguh aku ini lemah terhadap api neraka, maka jangan siksa daku dengan api neraka.
Ya Rabbi, sayangi doaku, kerendahanku, ketakutanku, kehinaanku dan kemiskinanku,
harapanku dalam perlindungan dan pertolongan.

Ya Rabbi, sungguh aku ini lemah untuk mendapatkan dunia sedangkan Engkau Maha Luas rizki-Nya dan Maha Dermawan.

Ya Rabbi, aku memohon pada-Mu dengan kekuatan-Mu terhadap dunia, dengan kekuasaan-Mu atasnya, dengan ketidak butuhan-Mu padanya dan kebutuhanku padanya, karuniakan padaku tahun ini, bulan ini, hari ini, saat ini, rizki yang membuatku merasa cukup dari rizki yang halal dan baik yang ada di tangan manusia.

Ya Rabbi, aku berharap dari-Mu, aku menginginkan dari-Mu, aku bermohon pada-Mu, karena Engkaulah pemilik semua itu. Aku tidak berharap kepada selain-Mu, aku tidak percaya kecuali kepada-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.

Ya Rabbi, telah aku zalimi diriku, ampuni aku, sayangi aku, maafkan aku. Wahai Yang Maha Mendengar semua suara, wahai Yang Maha Meliputi semua yang berlalu, wahai Yang Menyelamatkan semua jiwa setelah kematian, wahai Yang Maha Suci dari semua kegelapan, Yang Tidak diserupai oleh semua suara, dan Tidak disibukkan oleh segala sesuatu.

Karuniakan kepada Muhammad saw dan keluarganya,
yang paling utama dari apa yang ia mohon pada-Mu
yang paling utama dari apa yang pernah dimohon pada-Mu
yang paling utama dari apa yang selalu dimohon pada-Mu hingga hari kiamat.

Anugerahkan padaku keselamatan sehingga menenteramkan kehidupan dan penghidupanku.
Akhiri hidupku dengan kebaikan sehingga dosa-dosa tidak membahayakanku.
Ya Allah, karuniakan padaku rasa ridha dalam hatiku terhadap apa yang telah Kau bagikan padaku sehingga aku tidak meminta sesuatu kepada selain-Mu.

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
Bukakan bagiku khazanah-khazanah rahmat-Mu.
Sayangi daku dengan rahmat-Mu
Jangan siksa daku sesudah ini selamanya di dunia dan akhirat.
Karuniakan padaku rizki yang halal dan baik dari karunia-Mu yang luas
Sehingga aku tidak butuh kepada selain-Mu, tambah bersyukur pada-
Mu, bertambah butuh pada-Mu dan tidak butuh kepada selain-Mu, dan
memperoleh kesucian diri dari-Mu.

Wahai Yang Memberi kebaikan, wahai Yang Memberi keindahan, wahai Yang Memberi karunia, wahai Yang Memiliki segala sesuatu, wahai Yang Menentukan takdir.
Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad,
Selamatkan daku dari segala kesulitan.
Penuhi daku dengan yang terbaik
Berkahi daku dalam segala urusanku.
Penuhi semua kebutuhanku.

Ya Allah, mudahkan bagiku apa yang kutakutkan kesulitannya, karena untuk memudahkan semua yang aku takutkan kesulitannya adalah mudah bagi-Mu.
Mudahkan bagiku apa yang kutakutkan kesedihannya.

Jauhkan dariku apa yang kutakutkan kesempitannya.

Selamatkan daku dari apa yang kutakutkan penderitaannya.

Singkirkan dariku apa yang kutakutkan bala’nya.

Wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.

Ya Allah..
Penuhi hatiku dengan rasa cinta pada-Mu dan takut pada-Mu.

pengakuan terhadap kebenaran-Mu dan keimanan pada-Mu.
kesendirian bersama-Mu dan kerinduan pada-Mu

Yâ Dzal jalâli wal Ikhram, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, Engkau mempunyai hak atasku, bantulah aku memenuhinya. Aku juga mempunyai tanggung jawab pada manusia, berilah aku kekuatan untuk memikulnya. Telah Engkau tentukan jamuan bagi setiap tamu-Mu.

Aku adalah tamu-Mu, maka jadikanlah surga sebagai jamuanku malam ini. Wahai Pemberi surga, wahai Pemberi ampunan. Lâ hawla walâquwwata illâ billahil ‘aliyyil adhiim,

tiada daya dan kekuatan kecuali memohon pertolongan dari-Mu.

=Ryana=

Advertisements

ANALISA ILMIAH DISPARITAS PACARAN, JOMBLO, DAN LDR DALAM PARADIGMA PSIKOLOGIS DAN LIFE EXPERIENCE

Psikologi  Asmara

ahstui

Akhirnya bisa nuliss….Sebenarnya dari dulu pingin banget nulis beginian, tapi karena kerjaanku yang loadnya buju buneng..akhirnya baru bisa nulis sekarang.

Judul..agak berat sih..tapi percayalah..tulisan ini berdasarkan pengalaman ilmiah dan di tulis sesuai dengan kaidah tulisan ilmiah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang sudah tidak berlaku lagi.
Jomblo. Pacaran. LDR (lagi-lagi LDR ini bukan Long Dick Reduction tapi Long Distance Relationship). Tiga hal tersebut adalah tiga kejadian yang niscaya akan dialami oleh semua pemuda-pemudi seluruh dunia dan akhirat. Contohnya bisa dilihat dari film2 yang ada di bioskop (lihat : film Mr. Bean Kesurupan Depe ama Suster Keramas).
Saya, sebagai orang yang sudah menelan asam asin garam di dalam dunia percintaan dan kini menjabat sebagai Waa..Menn… DR. Jaran  (Waakil Mennteri Bidang LDR, Jomblo, dan Pacaran), ingin berbagi sedikit pengalaman dan rangkuman atas pengalaman bagaimana perbedaan nasib antara Jomblo, Pacaran, dan LDR di berbagai SItuasi, KONdisi. Percayalah kawan..you will walk on it..
lindu
line
Dan inilah hasil rangkumannya :
#hari libur
Pacaran : Jalan bareng seharian
LDR : Telepon seharian
Jomblo : Gak mandi seharian
.
#sehari-hari
Pacaran : marahan mulu
LDR : ngambek mulu
Jomblo : sabunan mulu
cint
 #boros
Pacaran : boros duit
LDR : boros pulsa
Jomblo : boros sabun
.
#ngirimSMS
Pacaran : i love u
LDR : i miss u
Jomblo : REG JODOH
.
#nerimaSMS
Pacaran : i love u too…
LDR : i miss u so muucchh..
Jomblo : Mama lagi di kantor polisi. Tolong kirim pulsa ke nomor …..
.
#peganganhidup
Pacaran : cinta mati
LDR : setia sampai mati
Jomblo : aku pingin matii..aku pingin matii…mana sedotan!!!
.
#yang…
Pacaran : yang..ntar aku jemput yaa..
LDR : yang..ntar malam aku telpon yaa..
Jomblo : Yang..Maha Kuasa…salah hamba apaa???
.
#lilin
Pacaran : candle light dinner
LDR : telpon pacar ditemani cahaya lilin
Jomblo : jagain lilin
.
#twitter
Pacaran : ngedate with @….
LDR : kangen @…  banget!!
Jomblo : @….. folbek eeaa..
.
#nontonEURO
Pacaran : nonton bareng
LDR : nonton sendiri sambil smsan ma pacar
Jomblo : nonton bareng Satpam sambil makan kacang
.gambar-lucu-line-mahasiswa-stress
#nyusunTA
Pacaran : dapet sms “yank..ntar habis bimbingan ketemuan yaa..”
LDR : dapet sms “yank..semangat buat sidangnya, maaf gak bisa nemenin :(“
Jomblo : dapet sms “tolong jam 1 temui saya. ada revisi. Trims.”
.
#shalat
Pacaran : shalat berjamaah
LDR : ngingetin shalat
Jomblo : dishalatin jamaah
.
#alamat
Pacaran : alamat rumah
LDR : alamat skype
Jomblo : alamat palsu
.
#nonton
Pacaran : Titanic
LDR : Ada Apa Dengan Cinta
Jomblo : Love is You – The Movie
77

LDR : i miss u
Jomblo : REG JODOH
.
#nerimaSMS
Pacaran : i love u too…
LDR : i miss u so muucchh..
Jomblo : Mama lagi di kantor polisi. Tolong kirim pulsa ke nomor …..
LDR
#peganganhidup
Pacaran : cinta mati
LDR : setia sampai mati
Jomblo : aku pingin matii..aku pingin matii…mana sedotan!!!
.
#yang…
Pacaran : yang..ntar aku jemput yaa..
LDR : yang..ntar malam aku telpon yaa..
Jomblo : Yang..Maha Kuasa…salah hamba apaa???
.
#lilin
Pacaran : candle light dinner
LDR : telpon pacar ditemani cahaya lilin
Jomblo : jagain lilin
.
#shalat
Pacaran : shalat berjamaah
LDR : ngingetin shalat
Jomblo : dishalatin jamaah
.
#alamat
Pacaran : alamat rumah
LDR : alamat skype
Jomblo : alamat palsu
 .
Jomblo
#
bacabuku
Pacaran : buku berbau mistis
LDR : buku berbau puitis
Jomblo : buku berbau mistis dan stensilan
.
#Sumpah..
Pacaran : Sumpah…barusan ketemu dah kangen…
LDR : Sumpah..kangen banget ma kamu…
Jomblo : Sumpah…kata-kata diatas jleb banget…
.
#dijalan
Pacaran : gak berani ngelirik cewek
LDR : ngelirik cewek dengan rasa bersalah
Jomblo : jelalatan ampek mata hampir copot
.
#Malming Part 1
Pacaran : jalan bareng puter-puter kota
LDR : webcam-an
Jomblo : nepokin nyamuk
.
#Malming Part 2
Pacaran : isi bensin
LDR : isi pulsa
Jomblo : isi…in hati aku donnkk…
.
#ditanya
Pacaran :
T : Mana pacarnya??
J : Lagi kuliah.
.
LDR :
T : Mana pacarnya??
J : ni lagi telpon..
.
 Jomblo :
T : Mana pacarnya??
J : Rahasiaa..
T : Kok rahasia??
J : Rahasia Illahi.. T.T
 .
Jadi..demikianlah saya sampaikan hasil analisa dari pengalaman saya dan rekan-rekan yang lain. Semoga karya nggak ilmiah banget ini berguna bagi semua rekan-rekan dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi kejamnya kehidupan asmara.
= Ryana=

SITI AMINAH

Sudah menjadi ketetapan Allah swt. bahwasanya Nabi Muhammad saw. berasal dari keturunan silsilah yang terjaga dengan baik, terhormat, tidak ternoda oleh perbuatan rendah dan nista. Mulai dari silsilah yang teratas hingga yang terbawah, beliau berasal dari keturunan yang terbaik. Pada pertengahan abad ke enam Masehi, sejarah mencatat kemunculan sebuah keluarga yang bernama Bani Zuhrah dari kabilah Quraisy, satu-satunya kabilah yang memikul tanggung jawab mulia atas pengelolaan Ka’bah. 
“Allah senantiasa memindahkan diriku dari tulang-tulang sulbi yang baik ke dalam rahim-rahim yang suci, jernih dan terpelihara. Tiap tulang sulbi itu bercabang menjadi dua, aku berada di dalam yang terbaik dari dua tulang sulbi itu”. 
(Hadits Syarif). 
Dari keluarga Bani Zuhrah inilah muncul seorang wanita mulia yang dijuluki Melati Zuhrah bernama Siti Aminah binti Wahab, ibunda Nabi Muhammad saw. Suatu kehormatan yang dianugerahkan Allah swt. kepada seorang hambaNya, yang memahkotai Bani Zuhrah dan kabilah Quraisy, dimana dalam rahimnya akan disemayamkan janin suci calon manusia terbesar sepanjang sejarah ummat manusia. 
Seorang ahli sejarah Islam bernama Ibnu Ishaq mengatakan bahwa pada masa mudanya Siti Aminah binti Wahab adalah gadis Quraisy yang paling utama, baik karena asal keturunannya maupun dilihat dari kedudukannya. 
Sebelum memasuki ‘masa pingitan’ gadis remaja, Aminah mempunyai beberapa teman bermain, antara lain putera pamannya sendiri bernama Abdullah bin Abdul Mutthalib, mereka sering bermain kejar-kejaran disekitar halaman Ka’bah. 
Ketika tumbuh sebagai seorang pemuda tampan Abdullah tidak termasuk anak muda Makkah yang mengharapkan dapat meperisteri Aminah. Hal ini mengherankan wanita itu karena sudah ada beberapa keluarga yang berusaha mendekati orang tuanya tapi tidak terdapat utusan yang diharapkannya, utusan Abdul Mutthalib, orang tua pemuda yang selalu mengingatkannya pada masa kanak-kanaknya sewaktu bermain di dekat Ka’bah. 
Sebenarnya Abdullah yang dinilai orang paling layak dan sepadan untuk menjadi pasangan Aminah karena kedudukan orang tuanya dan penampilan fisik serta kekuatan kepribadiannya. 
Beberapa keluarga dari kabilah di Makkah yang mempunyai anak muda diam-diam bersaing untuk memperoleh simpati dari Bani Zuhrah agar bisa lebih dekat pada mereka, tapi tidak satupun dari mereka yang mampu menyentuh hati Siti Aminah melati Bani Zuhrah. 
Kadang-kadang terlintas hasrat hatinya untuk bertemu dengan teman sepermainannya dulu, tapi kesadarannya sebagai seorang gadis yang sedang dalam pingitan dia harus menjaga kehormatan diri dan martabat keluarganya, tidak mungkin baginya untuk mengundang bertandang ke rumahnya siapa yang dikehendakinya apalagi keluar rumah menampakkan diri di hadapan orang banyak. 
Sebagai gadis cerdas dan terhormat, Aminah menyadari aturan etika 
yang diterapkan sejak jaman nenek-moyangnya dahulu, yang dimaksudkan untuk menjaga keselamatan dan kehormatan wanita Quraisy, bukannya dimaksudkan untuk mengekang kebebasan memilih pasangan atau bergaul. 

Nadzar yang nyaris menelan korban 
Abdullah adalah putera bungsu Abdul Mutthalib dari sepuluh anaknya yang kesemuanya laki-laki, yang kelak dikemudian hari menjadi ayah dari seorang utusan Allah, Nabi terbesar dan terakhir hingga akhir zaman, Muhammad Rasulullah saw. 
Abdul Mutthalib bin Hasyim sebagai penguasa Makkah dan pengelola sumur Zamzam, dikenal orang karena kewibawaan dan kebijaksanaannya. Dia dihormati dan dipatuhi tidak hanya karena secara formal diakui sebagai ketua kota, tapi disegani dan dicintai karena sikapnya yang konsekwen dan dapat dipercaya. 
Tidak diduga bahwa sikap positipnya tersebut beberapa puluh tahun kemudian mengakibatkan putera bungsu yang disayanginya, Abdullah, nyaris menjadi korban nadzar yang pernah diucapkannya dihadapan orang banyak. Adalah suatu kebanggaan bangsa Arab, khususnya keluarga Quraisy, pada waktu itu bila seorang ayah mempunyai banyak anak laki-laki sebagai lambang pewaris keperkasaan dan kemuliaan. Mereka malu dan merasa kurang berarti bila isterinya melahirkan anak perempuan, sehingga ada tradisi sesat mengubur bayi perempuan yang baru dilahirkan 
Abdul Mutthalib pada waktu itu bernadzar kepada Allah, bila dia dikaruniai sepuluh anak laki-laki maka salah seorang daripadanya akan dikorbankan. Sebenarnya penduduk Makkah sudah melupakan nadzarnya yang sudah berumur puluhan tahun itu, namun sebagai orang yang selalu menepati janji, Abdul Mutthalib tidak akan mengingkari janji besar berupa nadzar yang dengan penuh kesadaran pernah diucapkannya. 
Pada masa itu masyarakat Arab mempunyai keyakinan bahwa setiap nadzar harus dipenuhi bila yang dinadzarkan sudah tercapai meskipun seandainya hal itu berakibat buruk pada dirinya atau keluarganya. 
Mereka berpandangan tidak memenuhi nadzar yang telah diikrarkan berarti mengingkari janji kepada Allah selain akan berakibat menurunnya martabat yang bersangkutan dihadapan masyarakat. Terlebih bila yang mengucapkan nadzar seorang pemimpin masyarakat seperti Abdul Mutthalib yang berarti mempertaruhkan kehormatan dan kemuliaan sebagai penguasa Makkah dan pengelola Ka’bah. 
Ketika saat yang ditentukan Abdul Mutthalib tiba, dia membawa kesepuluh anaknya ke Ka’bah, dimana salah seorang diantaranya akan dikorbankan, mereka itu adalah Al Harits, Zubair, Abu Thalib, Abu Lahab, Ghaidaq, Dhirar, Abbas, Abdul Ka’bah, Qatsam dan Abdullah. 
Berbondong-bondong penduduk Makkah datang ke Ka’bah ingin menyaksikan prosesi pengorbanan anak Abdul Mutthalib. Sebagian besar dari mereka sebenarnya tidak menyetujui pelaksanaan nadzar tersebut, tapi keseganan pada pemuka Makkah ini membuat mereka tidak berani mengajukan alternatip solusi pemenuhan janji besarnya tersebut. Para wanita Makkah dengan gelisah menanti di rumah menunggu berita dari suami atau anak lelakinya kesudahan drama pengorbanan keluarga terpandang yang mereka hormati dan cintai. Demikian halnya Siti Aminah, hatinya terus berdebar-debar membayangkan kejadian yang sangat mengerikan dimana Abdullah, pemuda yang diam-diam dicintainya terkapar di atas tanah tempat mereka dahulu bermain kejar-kejaran dengan darah membasahi sekujur tubuhnya. Ingin rasanya melupakan dan menghilangkan bayang-bayang kejadian yang menakutkan itu, sejenak hilang tapi kemudian muncul lagi, berulang kembali mengganggu hati dan pikirannya. Sambil menunggu berita dia berjalan mondar-mandir, sebentar duduk, dicoba berbaring sambil memejamkan mata tapi semakin jelas khayalan terbayang dipelupuk matanya. Perlahan terucap dari bibirnya: “Ya Allah, selamatkan dia . . . . . . . selamatkan dia, dia hambaMu, dia milikMu, bukan milik Abdul Mutthalib!” 
Sementara di dekat Ka’bah Abdul Mutthalib membawa kesepuluh anaknya melewati kerumunan orang banyak ke dekat berhala Isaf dan Nayilah. Semua yang menyaksikan terdiam, puluhan pasang mata menatap cemas pada sepuluh remaja yang mengikuti langkah ayahnya, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Penjaga Ka’bah yang telah siap melaksanakan undian menantikan perintah dari Abdul Mutthalib yang sedang menundukkan kepala bertafakur tidak bergerak, wajahnya nampak tertekan mencoba mengatasi konflik bathin yang sangat hebat, yang belum pernah dialami sepanjang hayatnya, bahkan di seluruh kawasan Makkah tidak seorangpun yang berani melontarkan nadzar senekad itu sebelumnya. Angin gurun mulai meniup membawa udara panas, menerbangkan pasir dan butir-butir kerikil melewati mereka yang berada di dekat Ka’bah. Keringat Abdul Mutthalib nampak membasahi baju di bagian punggung dan keningnya, ketegangan semakin kuat bersama degup jantung yang semakin cepat dan tidak teratur, tapi pilihan harus segera diambil antara kehormatan memenuhi janji nadzar dengan bayangan anaknya menghadapi sakaratul maut dengan berlumuran darah dipangkuannya. 
Ditengah-tengah suasana yang semakin mencekam tiba-tiba Abdul Mutthalib berteriak: “Laksanakan undian!” Juru kunci Ka’bah segera melaksanakan perintahnya, dengan gemetar dia mengocok undian yang menentukan nasib mati hidup seseorang, siapakah yang nyawanya bakal melayang di tangan ayahnya sendiri. 
Bagaimanapun juga juru kunci harus melaksanakan tugasnya, dalam hatinya dia berbisik: “Seandainya saya dahulu tidak menerima amanat sebagai juru kunci Ka’bah!” 
Dengan suara yang dipaksakan keluar dari tenggorokkan dia menyebutkan nama: “Ab . . . . dullah!” Bergetar hati semua orang yang hadir, ada yang tidak percaya apa yang baru didengarnya, tergetar perasaannya lemah lunglai sekujur tubuhnya. Mendengar nama anak bungsu kesayangannya disebutAbdul Mutthalib merasakan seolah-olah tanah yang dipijaknya bergerak-gerak terkena gempa, terlihat olehnya bangunan Ka’bah, wajah anak-anaknya dan orang-orang didekatnya nampak berputar-putar tanpa arah. Dia mencoba berusaha keras mengatasi goncangan bathinnya, ingin menunjukkan bahwa dirinya tetap Abdul Mutthalib yang perkasa, dihormati sebagai pemimpin yang tangguh, konsekwen dalam menepati janjinya. 
Kini muncul dipermukaan sifat egosentrisnya, apakah ada hal yang lebih memalukan dari pada kehilangan martabat, kedudukan dan kemuliaan, bukankah kasih sayang pada anak bagian hati wanita. Serta merta ia menghampiri Abdullah, diseretnya anak tersebut ke dekat telapak kaki berhala Isaf dan Nayilah, sementara tangan kanannya yang kokoh memegang golok tajam yang mengkilat. Abdul Mutthalib benar-benar hendak melaksanakan nadzar buruk yang disertai kekejian tersebut, tapi Allah Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Tiba-tiba sekelompok orang yang tadinya terpaku diam maju ke depan mendekati Abdul Mutthalib, dengan nada memprotes mereka berkata: “Hai Abdul Mutthalib, apakah sesungguhnya yang hendak kau lakukan!” Dia menjawab lantang: “Aku hendak memenuhi nadzarku!” Kelompok orang-orang nampak semakin bangkit keberaniannya, mereka menyahut dengan suara keras: “Tidak, kau tidak boleh menyembelih anakmu sendiri hanya karena nadzar. Kalau hal itu kau lakukan, perbuatan seperti itu akan ditiru oleh orang-orang Makkah, bagaimana kalau hal itu berlangsung terus”. 
Seorang diantara mereka yang bernama Al Mughirah melangkah ke depan langsung memegang tangan Abdul Mutthalib yang mencengkeram golok sambil berteriak: “Demi Allah, jangan teruskan niatmu ini. Kalau nadzar ini harus ditebus dengan harta dan perhiasan, kami bersedia mengumpulkan tebusan itu”. Beberapa pemuka Quraisy lainnya menyampaikan alternatip penyelesaian: “Berangkatlah bersama anakmu itu ke Khaibar, disana ada orang pintar yang terkenal, bertanyalah padanya, apakah nadzarmu itu harus dipenuhi atau dapat diganti dengan tebusan”. 
Saran tersebut ternyata mempengaruhi logika dan hati nuraninya yang akhirnya menyadarkan dirinya atas kebodohan nadzar yang pernah diucapkannya tiga puluh tahun yang lalu. Pada dasarnya Abdul Mutthalib adalah tipe pemimpin yang suka bermusyawarah, bukan orang yang berkepribadian otoriter mempertahankan pendirian dan keputusan tanpa bersedia mendengarkan pendapat masyarakat yang dipimpinnya. Maka berangkatlah dia ke Khaibar untuk menemui orang pintar tersebut. Ternyata orang tersebut memutuskan agar nyawa Abdullah diganti dengan seratus ekor unta sebagai tebusan nadzarnya. Keputusan ini sangat melegakan hatinya, inilah harapan sesungguhnya dari nurani seorang ayah yang mencintai anak-anaknya, seorang pemimpin yang tidak mau kehilangan martabat dan wibawanya dimata penduduk Makkah yang menghormati dan mencintainya. 

Pernikahan dan perpisahan pengantin baru 
Berita terlepasnya Abdullah dari cengkeraman maut nadzar ayahnya segera tersiar keseluruh Makkah dibawa oleh mereka yang menyaksikan peristiwa menegangkan di dekat Ka’bah. Mereka terus berusaha memperoleh informasi berikutnya yang datang dari Khaibar yang menceriterakan ditebusnya nyawa Abdullah dengan seratus ekor unta. Berita gembira ini disambut Aminah dengan rasa syukur yang tiada terkira, dimana pemuda tampan yang diam-diam dikaguminya telah selamat dari pembantaian ayah kandungnya sendiri. 
Ibu Aminah yang bernama Barrah binti Abdul Uzza menjelaskan kejadian yang dialami Abdullah sejak Abdul Mutthalib membawa kesepuluh anaknya ke Ka’bah hingga saat-saat menegangkan sewaktu hasil undian diumumkan sampai kata putus akhir dari orang pintar yang tinggal di Khaibar. Ibunya terus memperhatikan perubahan raut wajah anak gadisnya yang kelihatan sangat berminat mendengar ceritera tentang keselamatan Abdullah, tapi kepekaan hati Aminah menangkap apa yang diraba ibunya sehingga dengan bijaksana dia berusaha menyembunyikan perasaannya. 
Suasana yang sejenak hening karena keduanya terdiam tiba-tiba berubah karena kedatangan Wahab bin Abdu Manaf, ayah Aminah membawa berita yang mendebarkan hati puterinya. “Pemimpin Bani Hasyim (Abdul Mutthalib) datang melamarmu untuk dinikahkan dengan puteranya yang bernama Abdullah”. Mereka berdua terdiam, tapi nampak perubahan pada wajah Aminah meskipun berusaha untuk tidak menunjukkan reaksi berlebihan. 
Segera para wanita Bani Zuhrah berdatangan untuk menyampaikan ucapan selamat pada Aminah dan ibunya, mereka bercakap-cakap penuh kegembiraan, salah seorang diantaranya menceriterakan bahwasanya ada seorang wanita bernama Ruqayyah binti Naufal pernah menawarkan seratus ekor unta sebagai pengganti unta tebusan nadzar kepada Abdullah bila dia bersedia menerima wanita itu sebagai isterinya. Abdullah menjawab: “Aku selalu bersama ayahku, aku tidak mau menentang kemauannya dan tidak pula bermaksud meninggalkannya”. 
Seorang ahli sejarah bernama Doktor Muhammad Husain Haikal berpendapat: “Baginya cukup dikatakan bahwa Abdullah adalah pemuda tampan yang berkepribadian, karena itu tidak mengherankan kalau banyak wanita selain Siti Aminah yang ingin dipersunting sebagai isteri Abdullah. Tetapi setelah ia menikah dengan Aminah putuslah harapan mereka”. 
Sesuai tradisi pernikahan masyarakat Quraisy, Abdullah tinggal tiga hari tiga malam dirumah mertuanya, dan pada hari keempat dan seterusnya Aminah harus mengikuti Abdullah untuk tinggal di rumah Abdul Mutthalib, berada ditengah-tengah keluarga Bani Hasyim. 
Suatu pagi ketika baru bangun dari tidur Aminah menceriterakan mimpi yang dialaminya kepada suaminya. Ia menceriterakan melihat sinar yang terang benderang memancar dari dirinya sehingga nampak istana Bushara di negeri Syam. Tiada berapa lama terdengarlah suara menggema yang ditujukan kepadanya: “Engkau telah hamil dan akan melahirkan orang termulia dari ummat ini”. 
Sudah menjadi kebiasaan laki-laki Quraisy meninggalkan keluarganya untuk bergabung dengan kafilah dagang selama berbulan-bulan. Demikian halnya dengan Abdullah yang baru beberapa bulan melangsungkan pernikahannya dengan Aminah, dia harus berpisah dengan isterinya yang mulai terasa kehamilannya. Pada suatu malam antara jaga dan tidur sambil membayangkan perjalanan suaminya, terdengar suara seseorang yang bertanya: “Apakah engkau merasa telah hamil?” Dia menjawab:”Aku tidak tahu”. Suara itu muncul kembali: “Tidak tahukah kamu bahwa bayi yang berada dalam kandunganmu itu adalah orang termulia dan dia seorang Nabi!” 
Perjalanan kafilah dagang Abdullah kini sudah memasuki bulan kedua berarti sebentar lagi mereka akan tiba di Makkah. Benar, suatu pagi terlihat iring-iringan unta dari kejauhan mendekat kota, mereka tidak lain adalah kafilah Quraisy yang datang dari negeri Syams. Bagi Aminah jalannya kafilah terasa amat lambat, hatinya gelisah ingin segera melihat wajah suaminya, makin lama rombongan semakin mendekat, terdengar suara hiruk pikuk menyambut kedatangannya. Dicarinya Abdullah diantara kerumunan orang yang berjalan kian kemari, tapi tidak diketemukannya, mungkinkah dia mampir ke Ka’bah terlebih dahulu untuk thawaf menyatakan rasa syukur atas keberhasilannya? 
Keramaian semakin berkurang, suasana di sekitar tempat tinggal Bani Hasyim semakin sepi, perlahan terdengar langkah orang yang mendekatinya. Mereka adalah ayah Aminah dan mertuanya Abdul Mutthalib yang memberitahukan bahwa Abdullah belum bisa pulang karena menderita sakit yang kini sedang dirawat oleh kerabat ibunya Bani Makhzum di dekat Yatsrib. 
Untuk mengetahui perkembangan kesehatan Abdullah, Abdul Mutthalib menyuruh anak sulungnya bernama Al Harits ke Yatsrib. Selang beberapa hari dia sudah pulang kembali ke Makkah sendirian dan membawa khabar yang mengejutkan bahwa Abdullah sudah wafat, jenasahnya dimakamkan disana. 
Berhari-hari Aminah menanggung kepedihan, sementara badannya semakin lemah karena kehilangan gairah hidup, sulit tidur dan tidak ada nafsu makan atau minum. Tapi lambat laun muncul kesadarannya bahwa bayi dalam kandungannya memerlukan asupan makanan dari ibunya, maka dikuatkannya dirinya untuk berjuang hidup demi janin dalam rahimnya. Semangatnya mulai pulih kembali tatkala dia ingat mimpinya bahwa dia sedang mengandung seseorang yang mulia, bahkan seorang Nabi! 
Kemauannya bangkit untuk menunjukkan bahwa dirinya bukanlah wanita egois, akan diperlihatkan pada orang-orang Bani Hasyim bahwa dia adalah keturunan Bani Zuhrah yang mampu mengatasi kesedihan dan kemalangan dengan ketabahan demi kehormatan keluarga dan dirinya sendiri. 
Belum selesai dia berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya datang cobaan berikutnya, dimana seluruh penduduk kota harus mengungsi ke bukit-bukit batu di sekitar Makkah karena akan ada serangan dari pasukan gajah dibawah pimpinan raja Abrahah. Bagi orang laki-laki menaiki dan menuruni bukit batu terjal yang berada di pinggiran kota Makkah bukanlah masalah besar, tapi bagaimana dengan dirinya yang masih dalam keadaan lemah harus melakukan hal itu bersama bayi dalam kandungannya yang semakin membesar. Aminah tidak memahami apa maksud Abrahah hendak menghancurkan Ka’bah selain yang didengarnya bahwa panglima Abrahah telah mempermalukan dirinya dengan merampas 200 ekor unta milik mertuanya Abdul Mutthalib yang melarang kabilah Quraisy untuk mengadakan perlawanan karena kekuatan yang tidak seimbang. 
Tanpa diketahuinya ternyata dia bersama pembantunya Barakah Ummu Aiman telah ditinggal semua penghuni rumah pergi mengungsi ke bukit. Untunglah menjelang matahari terbenam datanglah seseorang yang memberitahukan bahwa Abrahah dan pasukan Habasyah telah dihancurkan Allah sebelum mereka menghancurkan Ka’bah. 
Selang beberapa puluh hari penduduk Makkah mendengar kabar gembira bahwa Aminah binti Wahab telah melahirkan seorang putera saat menjelang fajar yang menurut perhitungan jatuh pada hari Senin tanggal 12 bulan Rabi’ul Awwal tahun Gajah. Pada pagi harinya dia menyuruh pembantunya memberitahu Abdul Mutthalib bahwa cucu yang dinantikannya telah lahir dengan selamat. Dialah Muhammad saw. yang akan menyinari dunia dengan cahaya Nur Illahi sepanjang masa hingga yaumal Qiyamah, manusia paling mulia, tiada Nabi sesudahnya. 
Allahu Akbar! 

SURAT [Ar Ra’d/13:17] PENJELASAN ANTARA ILMU, AIR DAN KEBATHILAN

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ

اللَّهُ الْحَقَّ

وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَال

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. [Ar Ra’d/13:17]Para ulama banyak yang berpendapat tentang tempat diturunkannya surat Ar Ra’d yang mulia ini. Di antara mereka ada yang mengatakan makkiyah, ada yang mengatakan madaniyah, ada yang mengatakan sebagian besarnya makkiyah kecuali beberapa ayat, dan ada pula yang mengatakan sebagian besarnya madaniyah kecuali beberapa ayat [1].PENJELASAN BEBERAPA ULAMA TENTANG AYAT DI ATAS
1. Ayat yang mulia ini mengandung dua perumpamaan, satu untuk menggambarkan kekokohan dan keabadian al haq, dan satu untuk menggambarkan kebinasaan dan kefanaan al bathil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ

“Allah telah menurunkan air dari langit …”.

Maksudnya adalah air hujan.Dan firman-Nya:

فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَ

“…maka mengalirlah air itu di lembah-lembah menurut ukurannya…”.
 
Maksudnya, setiap lembah menampung air hujan tersebut sesuai dengan ukurannya. Jika lembah tersebut besar (luas), maka bisa mampu menampung air dalam jumlah yang banyak. Dan jika lembah tersebut kecil (sempit), maka akan menampung air hujan tersebut sesuai ukurannya. Semua ini, merupakan isyarat terhadap hati manusia dan perbedaannya. Diantara hati manusia, ada yang dapat menampung ilmu yang banyak, dan di antara hati manusia, ada pula yang tidak dapat menampung ilmu dalam kapasitas yang banyak. Bahkan ia sempit untuk menampungnya.
Adapun firman-Nya:

فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا

“…maka arus (air) itu membawa buih yang mengambang…”.

Maksudnya; arus air yang mengalir di lembah-lembah tersebut membawa buih-buih yang mengambang di atasnya. Inilah perumpamaan pertama.Dan firman-Nya:

وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ

“…Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api…”.
 
Inilah perumpamaan kedua. Yaitu, dari apa-apa yang mereka lebur di dalam api seperti emas atau perak.Firman-Nya:

ابْتِغَاءَ حِلْيَة

“… untuk membuat perhiasan…”.

Maksudnya, tatkala mereka melebur logam-logam untuk membuat perhiasan dari perunggu atau besi, maka akan mengambanglah sisa-sisa (karat) dari logam tersebut sebagaimana buih-buih tadi mengambang di atas aliran air.

Firman-Nya:

كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ

 
“…Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil…”.
 
Maksudnya. apabila keduanya berkumpul, maka sesuatu yang bathil tidak akan bertahan dan abadi. Sebagaimana buih-buih itu tidak akan pernah menetap berada di atas air. Dan sebagaimana sisa-sisa (karat) tidak akan pernah bercampur bersama logam yang asli ketika dilebur dalam api, bahkan akan hilang dan habis.Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً

“…Adapun buih itu, maka dia akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya…”.

Maksudnya, tidak dapat dimanfaatkan lagi. Buih tersebut akan berpencar-pencar dan berada di tepi-tepi lembah, atau menyangkut pada pepohonan, atau dihembus oleh angin. Demikian pula sisa-sisa (karat) logam, baik berasal dari emas, perak, perunggu, atau pun besi, maka ia akan hilang dan binasa. Tidak tersisa suatu apapun juga. Yang tersisa hanyalah aliran air atau logam-logam yang dapat dimanfaatkan.Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَال

“…adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
Juga sebagaimana firman-Nya :

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُون

“….Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu..” [al-‘Ankabût/29:43].
 
Sebagian ulama salaf mengatakan : “Jika aku membaca (ayat yang berisi) perumpamaan dalam Al Qur’an, lalu aku tidak memahaminya, aku menangisi diriku sendiri. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“…dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu..” [al-‘Ankabût/29:43]

 
Kemudian, beliau (Imam Ibnu Katsîr rahimahullah ) menjelaskan penafsiran ayat di atas dari ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhu , dan menjelaskan pula bahwa tafsir serupa diriwayatkan dari Mujâhid, al-Hasan al-Bashri, ‘Athâ’, Qatâdah, dan para ulama Salaf lainnya. Sebagaimana yang juga telah dibawakan sebelum beliau dengan sanad-sanadnya oleh Imam ath-Thabari t di dalam tafsirnya.[3]B. Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
Setelah membawakan ayat di atas, beliau mengatakan :[4]
(Dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memperumpamakan ilmu dengan air yang turun dari langit. Karena dengan ilmu, hati akan hidup, sebagaimana badan akan hidup dengan air. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memperumpamakan hati dengan lembah. Karena hati merupakan tempat ilmu, sebagaimana lembah merupakan tempat air. Maka, di antara hati (manusia), ada yang mampu menampung ilmu yang banyak, sebagaimana di antara lembah-lembah ada yang dapat menampung air yang banyak. Dan di antara hati (manusia), ada yang hanya mampu menampung sedikit ilmu, sebagaimana di antara lembah-lembah ada yang hanya dapat menampung sedikit air. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menjelaskan bahwa pada air tersebut terdapat buih yang mengambang setelah bercampur-baur dengannya. Namun, lama-kelamaan menipis dan menghilang. Dan hal-hal yang masih bermanfaat bagi manusia, ia tetap eksis di bumi. Maka, demikianlah keadaan hati, ia pun dapat tercampuri oleh syahwat dan syubhat. Akan tetapi, tatkala yang tumbuh berkembang dalam hati tersebut adalah al-Haq (kebenaran), maka syahwat dan syubhat pun akan sirna. Dan yang tersisa di dalam hati hanyalah keimanan dan al-Qur’ân yang bermanfaat bagi pemilik hati tersebut dan juga orang lain. Firman-Nya:

ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ

“…Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil…”

Penggalan ayat ini, merupakan perumpamaan yang kedua -setelah perumpamaan yang pertama di atas-. Dan ini merupakan perumpamaan dengan api. Perumpamaan pertama menunjukkan kehidupan, dan perumpamaan yang kedua menunjukkan cahaya yang menerangi. Terdapat perumpamaan yang semisal dengan dua perumpaan di atas, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan dalam surat Al Baqarah/2, ayat 17-19:

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati, dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. .

Maka, adapun orang kafir, sesungguhnya ia berada di dalam kegelapan kekufuran dan kesyirikan. Ia tidak hidup. Seandainya pun ia hidup, kehidupannya bagaikan kehidupan hewan ternak. Sungguh, ia kehilangan kehidupan ruh yang hakiki dan tinggi, yang sebabnya adalah keimanan. Dengan keimanan itulah seseorang dapat merasakan kebahagiaan di dunia dan akherat.

Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para Rasul sebagai perantara antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hamba-Nya, dalam menerangkan kepada mereka apa-apa yang bermanfaat dan berbahaya bagi mereka. Para Rasul telah menyempurnakan kehidupan umat mereka masing-masing, baik yang berkaitan dengan kehidupan mereka di dunia, maupun di akherat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus mereka semua agar mereka mengajak umat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , menerangkan jalan yang dapat menyampaikan umat mereka kepada-Nya, dan menjelaskan keadaan umat mereka setelah sampai kepada-Nya.

C. Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah

Beliau -setelah menjelaskan ayat di atas, dengan keterangan yang sangat mirip dan serupa dengan penjelasan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,- berkata:[5]

Maksud -dari semua penjelasan di atas-, bahwa kebaikan sebuah hati (seseorang), kebahagiaan, dan keberuntungannya bergantung pada dua pokok perumpamaan di atas.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ

…”Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad), dan bersyair itu tidaklah layak baginya, Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya), dan supaya pastilah (ketetapan azdab) terhadap orang-orang kafir…” [Yâsîn/36:69-70].

Melalui ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa mengambil manfaat dan peringatan dari al- Qur’ân, hanyalah dapat dilakukan oleh orang yang hidup hatinya. Hal ini seperti (yang ditunjukkan) firman-Nya pada ayat yang lain:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

…” Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya…” [Qâf/50:37].

Dan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“..Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…”. [al-Anfâl, 8:24].

Pada ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa kehidupan kita hanyalah tergantung pada apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya serukan kepada kita, berupa ilmu dan iman. Sehingga dari sini, dapat diketahui bahwa kematian sebuah hati dan kebinasaan adalah dengan sebab hilangnya ilmu dan iman itu (dari hatinya).

BEBERAPA HADITS SHAHIH YANG BERKAITAN DENGAN TAFSIR AYAT DI ATAS DAN PENJELASAN ULAMA TERHADAPNYA

A. Hadits Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ، كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضاً، فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ، قَبِلَتِ الْمَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيْرَ، وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ، أَمْسَكَتِ الْمَاءَ، فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوْا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا، وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيْعَانُ، لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِيْ دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْساً وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ

Sesungguhnya perumpamaan apa-apa yang Allah mengutusku dengannya berupa petunjuk dan ilmu, bagaikan hujan deras yang menimpa bumi. Maka, di antara bumi ada yang baik, menyerap air dan menumbuhkan pepohonan kecil dan rerumputan yang banyak. Dan di antara bagian bumi, ada yang keras (gersang), ia menyerap air. Allah pun memberikan manfaat kepada orang-orang dengannya. Mereka dapat minum darinya, mengambil air darinya, dan menggembalakan (hewan ternak mereka). Dan di antara bumi, ada pula yang bebatuan keras, tidak menyerap air dan tidak pula menumbuhkan pepohonan kecil. Itulah perumpamaan orang yang pandai dalam agama Allah, Allah memberikan manfaat kepadanya dengan apa-apa yang Allah mengutusku dengannya. Maka ia pun mengetahui (petunjuk dan ilmu tersebut) dan mengajarkannya. Dan itulah pula perumpamaan orang yang tidak perhatian sama sekali (terhadap petunjuk dan ilmu tersebut), dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.[6]

Setelah Imam Ibnul Qayyim t menjelaskan hadits di atas dan membagi manusia menjadi tiga golongan, beliau berkata:[7]

“Hadits yang mulia ini mengandung peringatan bahwa ilmu sangatlah mulia, demikian pula mengajarkannya. Ilmu begitu agung pengaruhnya. Sekaligus mengandung peringatan bahwa orang yang bukan ahlinya akan celaka dan sengsara. Hadits yang mulia ini pun menyebutkan golongan-golongan manusia. Di antara mereka ada yang celaka, dan di antara mereka ada pula yang bahagia. Dan yang bahagia di antara mereka, ada yang senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan, dan ada pula yang pertengahan (dalam kebaikan).[8]

Pada hadits ini juga terdapat dalil bahwa kebutuhan hamba akan ilmu seperti kebutuhan mereka kepada hujan, bahkan lebih besar lagi. Dan mereka, jika kehilangan ilmu ini, maka mereka bagaikan bumi yang kehilangan hujan. Imam Ahmad t berkata: “Kebutuhan manusia akan ilmu lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari hanya sekali atau dua kali saja, sedangkan ilmu dibutuhkan sejumlah nafas”.

Kemudian Imam Ibnul Qayyim rahimahullah membawakan ayat ke-17 dari surat Ar Ra’d di atas.

B. Hadits Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلِيْ وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَاراً، فَجَعَلَ الْجَنَادِبُ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيْهَا، وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا، وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُوْنَ مِنْ يَدِيْ

…” Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seorang yang menyalakan api, lalu mulailah belalang-belalang dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu, sedangkan ia selalu mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut. Dan aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku…”[9]

BEBERAPA PELAJARAN DAN FAIDAH AYAT-AYAT [10]
1. Dianjurkan menyampaikan perumpamaan untuk mendekatkan pemahaman.
2. Kokohan dan kelanggengan al-Haq (kebenaran), dan kehancuran kebatilan merupakan ketetapan dan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala
3. Penjelasan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan surga bagi orang-orang yang tunduk patuh untuk beriman dan melakukan ketaatan.
4. Penjelasan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang-orang yang tidak mau tunduk patuh

Demikian, mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat menambah ilmu, iman, dan amal shalih kita. Wallâhu A’lamu bish Shawâb .

= Ryana =

CARA & DO’A MENYEMBELIH/MEMOTONG HEWAN QURBAN YANG BENAR SESUAI SYARI’AT

Tata Cara Penyembelihan :

a. Menajamkan Pisau Dan Memperlakukan Binatang Kurban Dengan Baik

Rasulullah bersabda (artinya): “Sesungguhnya Allah mewajibkan perbuatan baik terhadap segala sesuatu. Apabila kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Dan jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik pula. Hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan (tidak menyiksa) sesembelihannya.” (H.R. Muslim)

b. Menjauhkan Pisaunya Dari Pandangan Binatang Kurban

Cara ini seperti yang diceritakan Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya didekat leher seekor kambing, sedangkan dia menajamkan pisaunya. Binatang itu pun melirik kepadanya. Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini (sebelum dibaringkan, pen)?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (H.R. Ath Thabrani dengan sanad shahih)

c. Menghadapkan Binatang Kurban Kearah Kiblat

Sebagaimana hal ini pernah dilakukan Ibnu Umar Radhiallahu’anhu dengan sanad yang shahih.

d. Tata Cara Menyembelih Unta, Sapi, Kambing Atau Domba

Apabila sesembelihannya berupa unta, maka hendaknya kaki kiri depannya diikat sehingga dia berdiri dengan tiga kaki. Namun bila tidak mampu maka boleh dibaringkan dan diikat. Setelah itu antara pangkal leher dengan dada ditusuk dengan tombak, pisau, pedang atau apa saja yang dapat mengalirkan darahnya.

Sedangkan bila sesembelihannya berupa sapi, kambing atau domba maka dibaringkan pada sisi kirinya, kemudian penyembelih meletakkan kakinya pada bagian kanan leher binatang tersebut. Seiring dengan itu dia memegang kepalanya dan membiarkan keempat kakinya bergerak lalu menyembelihnya pada bagian atas dari leher. (Asy Syarhul Mumti’ 7/478-480 dengan beberapa tambahan)

e. Berdoa Sebelum Menyembelih

Lafadz doa tersebut adalah:

– بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

Dengan nama Allah dan Allah itu Maha Besar.” (H.R. Muslim)

– بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ

Dengan nama Allah dan Allah itu Maha Besar, Ya Allah ini adalah dari-Mu dan untuk-Mu.” (H.R. Abu Dawud dengan sanad shahih)

Tatacara Menyembelih Hewan Qurban

Berikut ini akan disebutkan beberapa hukum dan adab seputar penyembelihan hewan, baik itu qurban ataupun yang lain.
I. Hewan sembelihan dinyatakan sah dan halal dimakan bila terpenuhi syarat-syarat berikut:
a. Membaca basmalah tatkala hendak menyembelih hewan. Dan ini merupakan syarat yang tidak bisa gugur baik karena sengaja, lupa, ataupun jahil (tidak tahu). Bila dia sengaja atau lupa atau tidak tahu sehingga tidak membaca basmalah ketika menyembelih, maka dianggap tidak sah dan hewan tersebut haram dimakan. Ini adalah pendapat yang rajih dari perbedaan pendapat yang ada. Dasarnya adalah keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.” (Al-An’am: 121)
Syarat ini juga berlaku pada penyembelihan hewan qurban. Dasarnya adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhari (no. 5565) dan Muslim (no. 1966), bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua kambing kibasy yang berwarna putih bercampur hitam lagi bertanduk:

“Beliau membaca basmalah dan bertakbir.”
b. Yang menyembelih adalah orang yang berakal. Adapun orang gila tidak sah sembelihannya walaupun membaca basmalah, sebab tidak ada niat dan kehendak pada dirinya, dan dia termasuk yang diangkat pena takdir darinya.
c. Yang menyembelih harus muslim atau ahli kitab (Yahudi atau Nasrani). Untuk muslim, permasalahannya sudah jelas. Adapun ahli kitab, dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُ

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu.” (Al-Ma`idah: 5)
Dan yang dimaksud ‘makanan’ ahli kitab dalam ayat ini adalah sembelihan mereka, sebagaimana penafsiran sebagian salaf.
Pendapat yang rajih menurut mayoritas ulama, sembelihan ahli kitab dipersyaratkan harus sesuai dengan tata cara Islam.
Sebagian ulama menyatakan, terkhusus hewan qurban, tidak boleh disembelih oleh ahli kitab atau diwakilkan kepada ahli kitab. Sebab qurban adalah amalan ibadah untuk taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak sah kecuali dilakukan oleh seorang muslim. Wallahu a’lam.

d. Terpancarnya darah
Dan ini akan terwujud dengan dua ketentuan:
1. Alatnya tajam, terbuat dari besi atau batu tajam. Tidak boleh dari kuku, tulang, atau gigi. Disyariatkan untuk mengasahnya terlebih dahulu sebelum menyembelih. Diriwayatkan dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Segala sesuatu yang memancarkan darah dan disebut nama Allah padanya maka makanlah. Tidak boleh dari gigi dan kuku. Adapun gigi, itu adalah tulang. Adapun kuku adalah pisau (alat menyembelih) orang Habasyah.” (HR. Al-Bukhari no. 5498 dan Muslim no. 1968)
Juga perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika hendak menyembelih hewan qurban:

“Wahai ‘Aisyah, ambilkanlah alat sembelih.” Kemudian beliau berkata lagi: “Asahlah alat itu dengan batu.” (HR. Muslim no. 1967)
2. Dengan memutus al-wadjan, yaitu dua urat tebal yang meliputi tenggorokan. Inilah persyaratan dan batas minimal yang harus disembelih menurut pendapat yang rajih. Sebab, dengan terputusnya kedua urat tersebut, darah akan terpancar deras dan mempercepat kematian hewan tersebut.

Faedah
Pada bagian leher hewan ada 4 hal:
1-2. Al-Wadjan, yaitu dua urat tebal yang meliputi tenggorokan
3. Al-Hulqum yaitu tempat pernafasan.
4. Al-Mari`, yaitu tempat makanan dan minuman.

hewan-qurban

Rincian hukumnya terkait dengan penyembelihan adalah:
– Bila terputus semua maka itu lebih afdhal.
– Bila terputus al-wadjan dan al-hulqum maka sah.
– Bila terputus al-wadjan dan al-marimaka sah.
– Bila terputus al-wadjan saja maka sah.
– Bila terputus al-hulqum dan al-mari
, terjadi perbedaan pendapat. Yang rajih adalah tidak sah.
– Bila terputus al-hulqum saja maka tidak sah.
– Bila terputus al-mari` saja maka tidak sah.
– Bila terputus salah satu dari al-wadjan saja, maka tidak sah. (Syarh Bulugh, 6/52-53)

II. Merebahkan hewan tersebut dan meletakkan kaki pada rusuk lehernya, agar hewan tersebut tidak meronta hebat dan juga lebih menenangkannya, serta mempermudah penyembelihan.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, tentang tata cara penyembelihan yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Dan beliau meletakkan kakinya pada rusuk kedua kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966)
Juga hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Lalu beliau rebahkan kambing tersebut kemudian menyembelihnya.”

III. Disunnahkan bertakbir ketika hendak menyembelih qurban, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas radhiyallahu ‘anhu di atas, dan diucapkan setelah basmalah.

IV. Bila dia mengucapkan:

“Dengan nama-Mu ya Allah, aku menyembelih”, maka sah, karena sama dengan basmalah.

V. Bila dia menyebut nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala selain Allah, maka hukumnya dirinci.
a. Bila nama tersebut khusus bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak boleh untuk makhluk, seperti Ar-Rahman, Al-Hayyul Qayyum, Al-Khaliq, Ar-Razzaq, maka sah.
b. Bila nama tersebut juga bisa dipakai oleh makhluk, seperti Al-‘Aziz, Ar-Rahim, Ar-Ra`uf, maka tidak sah.

VI. Tidak disyariatkan bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyembelih, sebab tidak ada perintah dan contohnya dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabatnya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/408)

VII. Berwudhu sebelum menyembelih qurban adalah kebid’ahan, sebab tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaf.
Namun bila hal tersebut terjadi, maka sembelihannya sah dan halal dimakan, selama terpenuhi ketentuan-ketentuan di atas.

VIII. Diperbolehkan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar sembelihannya diterima oleh-Nya. Sebagaimana tindakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berdoa:

“Ya Allah, terimalah (sembelihan ini) dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.” (HR. Muslim no. 1967, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)

IX. Tidak diperbolehkan melafadzkan niat, sebab tempatnya di dalam hati menurut kesepakatan ulama. Namun dia boleh mengucapkan:

“Ya Allah, sembelihan ini dari Fulan.”
Dan ucapan tersebut tidak termasuk melafadzkan niat.

X. Yang afdhal adalah men-dzabh (menyembelih) sapi dan kambing. Adapun unta maka yang afdhal adalah dengan nahr, yaitu disembelih dalam keadaan berdiri dan terikat tangan unta yang sebelah kiri, lalu ditusuk di bagian wahdah antara pangkal leher dan dada.
Diriwayatkan dari Ziyad bin Jubair, dia berkata: Saya pernah melihat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mendatangi seseorang yang menambatkan untanya untuk disembelih dalam keadaan menderum. Beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Bangkitkan untamu dalam keadaan berdiri dan terikat, (ini) adalah Sunnah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Bukhari no. 1713 dan Muslim no. 1320/358)
Bila terjadi sebaliknya, yakni me-nahr kambing dan sapi serta men-dzabh unta, maka sah dan halal dimakan menurut pendapat jumhur. Sebab tidak keluar dari tempat penyembelihannya.

XI. Tidak disyaratkan menghadapkan hewan ke kiblat, sebab haditsnya mengandung kelemahan.
Dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu ‘Ayyasy Al-Mu’afiri, dia majhul. Haditsnya diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2795) dan Ibnu Majah (no. 3121).

XII. Termasuk kebid’ahan adalah melumuri jidat dengan darah hewan qurban setelah selesai penyembelihan, karena tidak ada contohnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para salaf. (Fatwa Al-Lajnah, 11/432-433, no. fatwa 6667)

Sumber : dr. Abu hana dan dr. Ummi Hana

WANITA TERCIPTA DARI TULANG RUSUK LAKI-LAKI

honeymoon

Wanita tercipta dari tulang rusuk.
Ia tidak dicipta dari tulang kaki
agar kau tidak menjadikannya alas kaki,
menghina dan mencacinya…
Ia tidak dicipta dari tulang tangan
agar kau tahu bahwa dia bukan alat
untuk melaksanakan segala keinginanmu
dan menuruti semua nafsumu…
Ia tidak diciptakan dari tulang kepala
agar ia tidak sombong dan merasa selalu di atas…
Namun ia dicipta dari tulang rusuk
agar ia selalu ada di sampingmu
selalu ada dalam suka dukamu menemani…
Ia berada di bawah lenganmu
agar engkau selalu menjaga dan
melindunginya…
Pada sejatinya tanganmu
bukanlah untuk memukul rusukmu sendiri…
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ﺍﺳْﺘَﻮْﺻُﻮْﺍ ﺑِﺎﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﺧَﻴْﺮًﺍ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃََﺓَ
ﺧُﻠِﻘَﺖْ ﻣِﻦْ ﺿِﻠَﻊٍ …ِ
“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita
(para istri), karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk….”
(HR. Bukhari dan Muslim).

= Ryana =

DAFTAR LENGKAP TRAGEDI KECELAKAAN PESAWAT DI INDONESIA

Daftar Panjang Tragedi Kecelakaan Pesawat di Indonesia

 

 

 

 

 

Pesawat Airbus Air Asia A 320 dengan nomor penerbangan QZ 8501, dikabarkan jatuh di perairan laut Belitung Timur, Bangka Beltung, Minggu (28/12/2014). Namun belum dipastikan titik lokasi jatuhnya pesawat tersebut. Hingga kini pesawat nahas itu belum juga ditemukan.

Berikut adalah Daftar Kecelakaan Pesawat Terbang di Indonesia, baik pesawat komersil Indonesia yang mengalami kecelakaan dinegara lain maupun pesawat komersil Negara lain yang mengalami kecelakaan di Indonesia.

16 Februari 1967 : Garuda Indonesia Penerbangan 708 jurusan Makassar – Manado kecelakaan saat mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi. 22 penumpang tewas dan 70 penumpang selamat.

24 September 1975 : Garuda Indonesia Penerbangan 150 jurusan Jakarta – Palembang kecelakaan di tengah cuaca buruk. 25 penumpang tewas termasuk 1 di darat dan 36 penumpang selamat.

4 April 1987 : Garuda Indonesia Penerbangan 035 jurusan Banda Aceh – Medan kecelakaan saat mendarat di Bandar Udara Polonia. 23 penumpang tewas dan 22 penumpang lainnya selamat.

24 Juli 1992 : Mandala Airlines Penerbangan 660 menabrak Bukit Inahau saat akan mendarat di Bandara Pattimura, Ambon. Seluruh 70 penumpang dan awak pesawat tewas.

18 Oktober 1992: Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 5601 jurusan Semarang – Bandung jatuh di Gunung Papandayan. Seluruh 31 penumpang dan awak pesawat tewas.

10 Januari 1995 : Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 6715 jurusan Bima – Ruteng jatuh di dekat pulau Flores. Seluruh 10 penumpang dan 4 awak pesawat tewas.

26 September 1997 : Garuda Indonesia Penerbangan 152 jurusan Jakarta – Medan jatuh di desa Buah Nabar, dekat Medan, Sumatera Utara. Seluruh 234 penumpang dan awak pesawat tewas.

19 Desember 1997 : SilkAir Penerbangan 185 jurusan Jakarta – Singapura jatuh di Sungai Musi, Palembang. Seluruh 104 penumpang dan awak pesawat tewas.

16 Januari 2002 : Garuda Indonesia Penerbangan 421 jurusan Mataram – Yogyakarta mendarat darurat di Bengawan Solo. 1 pramugari tewas, 59 orang selamat.

30 November 2004 : Lion Air Penerbangan 538 jurusan Jakarta – Surakarta tergelincir saat mendarat di Bandar Udara Adisumarmo. 26 penumpang tewas dan 142 penumpang luka-luka.

5 September 2005 : Pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines Penerbangan RI 091 gagal take off dari Bandara Polonia Medan dalam penerbangan menuju Jakarta, lalu menerobos pagar bandara dan menabrak perumahan penduduk dan masyarakat di Jl. Jamin Ginting Medan. Dari 117 orang penumpang dan awak, hanya 17 yang selamat. Korban dari masyarakat di darat, 41 orang dinyatakan tewas.

1 Januari 2007 : Adam Air Penerbangan 574 jurusan Surabaya – Manado jatuh di Selat Makassar di kedalaman lebih dari 2.000 meter. Seluruh 102 penumpang dan awak pesawat tewas.

7 Maret 2007 : Garuda Indonesia Penerbangan 200 jurusan Jakarta – Yogyakarta tergelincir saat mendarat di Bandar Udara Adisucipto. 22 penumpang tewas dan 118 penumpang selamat.

2 Agustus 2009 : Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 9760 jurusan Jayapura – Oksibil menabrak gunung. Seluruh 15 penumpang dan awak pesawat tewas.

9 April 2009 : Pesawat terbang milik maskapai PT Aviastar Mandiri yang melayani rute Jayapura-Wamena, Papua, jatuh di kawasan Pegunungan Tengah, Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Seluruh enam awak, yakni pilot, kopilot, awak kabin, dan teknisi, tewas.

Ke enam korban adalah pilot Sigit Triwahyono dan kopilot M Lukman Yusuf; awak kabin Nimaturrahman, Asmarani, dan Ida Handayani, serta teknisi Rahmad Nispudin.

13 April 2010 : Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 836 jurusan Sorong – Manokwari tergelincir saat mendarat di Bandar Udara Rendani. Seluruh 109 penumpang dan awak pesawat selamat. Sebanyak 44 penumpang mengalami luka-luka.

7 Mei 2011 : Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 8968 jatuh di perairan dekat Bandar Udara Utarom, Kaimana, Papua Barat. Seluruh 25 penumpang dan awak pesawat tewas.

29 September 2011: Nusantara Buana Air Penerbangan 823 jatuh di Langkat, Sumatera Utara. Seluruh 18 penumpang dan awak pesawat tewas.

9 Mei 2012: Sukhoi Superjet 100 menabrak gunung salak. Seluruh 45 penumpang dan awak pesawat tewas.

13 April 2013 : Lion Air Penerbangan 904 tergelincir saat mendarat di Bandar Udara Ngurah Rai, Bali. Seluruh 108 penumpang dan awak pesawat selamat. Sebanyak 45 orang mengalami luka-luka.

28 Desember 2014 : Airbus A320-200 milik Air Asia dengan rute  Surabaya-Singapura hilang kontak di perairan dekat Belitung Timur . Pesawat mengangkut 162 awak dan penumpang. Diolah dari berbagai sumber.

= Ryana=

kategori : arsip vital